Bab 7

1098 Words
"Kenapa ya jalan Malioboro itu terkenal banget?" Tanya Novi. Mereka baru saja jalan-jalan di Malioboro. Menyusuri jalanan sepanjang 2,5 KM itu dengan naik delman. Melihat toko, mall, dan pedagang kaki lima yang berjejer di dekat sana. Menikmati suasana Malioboro yang saat itu terasa sangat panas karena matahari yang berada di puncaknya. Sebab itu setelah foto-foto di spot foto yang instagramable, mereka segera menyelamatkan diri agar tidak terbakar sinar matahari. Menuju kafe Ara yang letaknya tak jauh dari sana. Di sinilah mereka berada, duduk di sudut kafe Ara yang siang itu cukup ramai. "Iya kenapa ya? Padahal jalannya cuma gitu doang," kata Aida menyauti ucapan Novi. "Kalau malam suasananya lebih seru Dek," ujar Misbah. Seolah ingin menjelaskan jika Jalan Malioboro tidak sebiasa yang istrinya pikirkan. Misbah emang dulu sering main ke Jogja, dan menurutnya jalan malioboro memiliki kenangan sendiri di hatinya. "Iya betul, kalau malam suasananya lebih asyik. Jalanannya juga jadi rame karena banyak musisi jalanan." Saut Jonathan. Empat pilar emang sering diajak Adam pulang ketika liburan pondok, makanya mereka uda akrab banget sama Jogja. Sementara Novi, Aida dan Ningsih emang belum pernah ke Jogja sama sekali. Ini pengalaman pertama mereka. "Masak si yang?" Kata Ningsih, sembari sibuk memakan nasi goreng di piringnya. "Iyaa yangg, kayak lebih romantis." Kata Jo. "Yauda sebelum pulang aku mau ke malioboro malam hari." Kata Ningsih tegas. "Aku juga mauuu mass," Kata Aida pada Misbah. "Iyaa..iyaa...habis dari gunung kidul yaa." Kata Misbah. Begitupun juga Jonathan yang memberikan janji pada Ningsih jika mereka akan ke Malioboro lagi setelah dari gunung kidul. Sementara Novi, masih bingung. Ada yang sedikit mengganjal di hatinya karena merasa pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban. "Tapi aku serius tanya loh gaes, ada sejarah apa kok sampek Malioboro jadjadi tempat wisata? Biasanya kan tempat-tempat wisata gitu ada sejarahnya?" Kata Novi. "Maaf ya rek, istriku emang ribet. Dia suka banget sama sejarah, jadi ya gitu kalau ke suatu tempat pasti nanyain sejarah atau asal-usulnya." Kata Dani. "Pantes lah dulu kuliah pendidikan sejarah." Kata Ningsih. "Sama kayak aku Novi, aku juga suka sejarah." Ara yang sejak tadi menyimak pun kini turut membuka suara. "Oh pantes," Kata Adam yang membuat Ara menoleh padanya. Dia ada di samping Ara sekarang. "Pantes apa?" Tanya Ara sembari berbisik. "Pantes kamu hafal sejarah taman sari," Kata Adam sembari terkekeh geli. Ara kembali ingat ketika kunjungan mereka di Taman Sari, ketika Ara mengira Adam tidak tau sejarah taman sari dan sibuk menceritakan apa saja yang ia ketahui. Aduh kalau ingat itu Ara jadi malu sendiri, dia pasti terlihat sok tau di mata Adam. "Mbak Ara tau nggak ada sejarah apa di jalan Malioboro?" Tanya Novi. "Em.." Ara terlihat berpikir sebentar, kemudian ia melanjutkan bicaranya. "Itu karena dulu Malioboro bukan jalan biasa Nov. Dulu, yang boleh lewat jalan Malioboro cuma orang keraton. Orang biasa nggak boleh." "Beneran mbak?" "Iyaa, makanya waktu jalan Malioboro dibuka buat umum banyak orang yang datang. Akhirnya jalannya dijadiin buat tempat wisata deh sampek sekarang." "Ohh gituuu" Kata Novi mengangguk mengerti. "Baru tau aku." "Sama Nov, aku juga baru tau." Ujar Adam. "Keren banget ya Ara bisa tau hal yang kayak gitu." "Apaan si mas Adam!" Kata Ara yang ditatap jail oleh Adam. Adam ini kadang emang ngeselin dan kalau uda kayak gitu, Ara jadi salting sendiri. "Iya iya Adam, calon istri lo emang keren, keren bangett malah!" Kata Jo dengan nada menggoda. Adam tak tersinggung, dia malah tertawa. Sementara Ara sibuk menyembunyikan rona merah yang kini menghiasi pipinya. Astaga...dia malu banget. Bisa-bisanya Adam muji dia di depan semua orang. "Kalian kenal dimana si? Sejak kapan jugaa?" Tanya Ningsih dengan tatapan penasaran. Ara tidak ingin menjawab, ia ingin mendengar jawaban Adam. "Kenal sejak kecil, dulu kita tetangga tapi waktu kelas lima, si Ara pindah rumah." "Oh jadi cinta lama bersemi kembali ceritanyaa?" Kata Novi. "Ngawur, nggak beb. Cinta Adam mah bukan Ara!" Kata Dani. Tampaknya dia keceplosan, karena setelah itu, dia menutup mulutnya. Wajahnya mendadak panik, ia melirik Ara yang kini memasang wajah tenang. Ara mendengar ucapan Dani, dia penasaran dengan siapa cinta Adam. Tapi cewek itu berpura-pura tidak mendengar apa-apa agar suasana tidak semakin runyam. Ara malah menyibukkan diri pada piring yang berisi menu favoritnya—yaitu Chicken katsu buatan Bara. Entah kenapa nafsu makannya mendadak datang kembali setelah sejak tadi hilang. "Oh bukan ya.." Kata Novi. Ia menyadari sesuatu yang ganjal di sini, tapi ia tak ingin membuka mulut dan membuat keadaan semakin runyam. Mendadak meja berisikan delapan orang itu jadi sepi. Tidak ada yang berani memulai pembicaraan. Semuanya sibuk makan padahal sejak tadi mereka asyik mengobrol. Sebenarnya Ara tak mengerti kenapa keadaan menjadi seaneh sekarang. Tapi Ara tau, ada sosok lain yang dulu menjadi Cinta Adam. Yang Ara tidak tau siapa dan tidak ingin tau sama sekali. Baginya itu tak penting kan? Yang jelas, Mas Adam di sini, dan akan menikahinya. Ia merasa tak seharusnya ia mencemaskan masa lalu, karena masa lalu itu ada di belakang. Dan selamanya akan terus begitu. "Ra," Ningsih memecahkan keheningan. "Ya ning?" Jawab Ara. Ia menengadahkan kepalanya dan mendapati semua orang di meja tengah meliriknya. "Ini nasi gorengnya enak bangetttt, ada resep rahasianya yaa?" Kata Ningsih. Ia baru saja menyuapkan satu sendok nasi goreng ke mulutnya. Sumpah bagi Ningsih ini adalah nasi goreng terenak di dunia. "Hahah nasi goreng di sini emang jadi menu best seller si Ning. Kebanyakan orderan online pasti mesen nasi goreng." Kata Ara dengan nada ceria. Membuat suasana di meja itu kembali hangat. "Kalau gue tinggal di deket sini, kayaknya gue juga bakal beli nasi goreng lo terus deh Ra!" Kata Jonathan. "Nanti aku spill resepnya deh." Kata araa. "Aku juga mau tauuu mbakkk!" Ujar Aida. "Aku jugaa Ra!" Dan Novi kemudian. Suasana meja itu pun kembali hangat. Sekalipun setelah itu, pembahasannya jadi nggak karu-karuan. Jo yang malah cerita penjual nasi goreng di deket rumahnya yang nggak pernah cebok kalau kencing, Doni yang cerita hantu di kebunnya dan Misbah yang sejak tadi cuma Senyum-senyum sambil nyimak. Sementara itu, Adam. Di tangannya ada sebuah ponsel, yang sejak tadi ia tatap. Tangannya sejak tadi sibuk mengetikkan sesuatu, dan baru saja ia mengirimkan sebuah pesan itu pada seseorang. Sedetik kemudian, di lain sisi, ponsel orang di sampingnya bergetar. Siapa lagi kalau bukan Ara. Melihat ponselnya menyala, Ara meliriknya. Dan terkejut ketika tau ia mendapatkan pesan dari Adam. Ara, jangan dengerin omongan Dani ya Itu isi pesan singkat dari Adam. Ara menghernyitkan dahi. Tidak mengerti kenapa ia tidak boleh mendengarkan omongan Dani. Padahal tidak ada yang salah dari ucapan Dani. Setiap orang berhak memiliki cintanya masing-masing kan? Dan mungkin di sini, yang mencintai sejak awal adalah dirinya. Dan itu sungguh tak ada masalah. Bagi Ara, yang terpenting adalah masa depan. Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD