POV ARA
----------------------------------------------------
SEKALIPUN aku orang Jogjakarta, tapi aku tidak pernah main jauh ke Gunung Kidul tanpa embel-embel keluarga. Terakhir kali aku ke Gunung Kidul bersama Bapak dan keluarganya lima tahun yang lalu, menjelajah setiap pantai yang ada di sana.
Gunung kidul memang terkenal dengan pantainya yang indah, tapi akhir-akhir ini banyak objek wisata baru yang bermunculan. Ojek wisata itu tentu saja memiliki banyak tempat instagramable dan menjadi cukup viral di media sosial. Membuat banyak orang awam ingin pergi ke sana demi mendapatkan spot foto yang bagus. Di jaman yang sudah modern ini, sebuah foto memang sangat berharga. Bahkan banyak orang yang berlomba-lomba menjadi paling keren hanya melalui foto yang diunggah di media sosial.
Jujur saja, aku tidak punya waktu untuk hal semacam itu. Aku bahkan lupa kata sandi i********: pribadiku. Yang aku ingat hanya i********: toko kue dan kafe, itu pun aku juga jarang membukanya karena sudah aku pasrahkan promosi media sosial pada salah satu pegawai. Jadi ketika semua orang sibuk dengan perkontenannya, Ara hanya diam sembari meminum teh hangat. Betul, mengabadikan momen dalam sebuah foto itu memang sangat penting, namun bisa menikmati momen pada saat itu baginya jauh lebih penting. Jarang-jarang ia bisa menikmati momen seperti ini. Menatap lautan bewarna biru dan langit yang bewarna jingga. Indah sekali, dia tak menyangka pantai Kesirat ternyata seindah ini ketika sore hari.
Ya, kami kini berada di Pantai Kesirat. Salah satu pantai yang ada di Gunung Kidul. Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam dari Malioboro, kami akhirnya sampai. Sedikit lebih lama karena kami menggunakan mobil. Jalanannya masih sempit, jadi harus ekstra hati-hati kalau ditempuh dengan mobil. Kalau menggunakan motor pasti lebih cepat dan aman. Setelah sampai di parkiran kami masih harus berjalan di jalan setapak bukit yang jalannya sudah diplester. Jalannya lumayan jauh dan melelahkan untuk ukuran aku yang tidak pernah jalan kaki, tapi semua perjalanan panjang itu terbayarkan melihat betapa indahnya pantai Kesirat.
Tiba di pantai pukul tiga sore, dan suasana di sana sangat sepi. Mungkin karena banyak yang belum tau keberadaan pantai Kesirat. Sore itu hanya ada satu gerombolan yang berisi lima orang, yang juga melakukan camping di sana.
Setelah tiba, kami pun segera bergegas memasang tenda dan menyiapkan beberapa peralatan. Mas Adam menyiapkan kompor dan menyuruhku membuatkannya kopi. Selepas membuat kopi, aku membuat teh juga untuk diminum aku dan yang lain.
Pantai Kesirat ini berada di atas tebing, jadi kami tidak bisa bermain air. Hanya bisa menikmati luasnya pantai dan melihat derasnya ombak dari atas. Sekalipun begitu, aku bisa merasakan damai di sana. Apalagi dari tempatku duduk, aku bisa melihat matahari tenggelam dengan sangat jelas.
"Kamu ga mau foto-foto?" Seseorang duduk tak jauh di sampingku.
Aku yang tadinya sibuk menatap matahari yang hampir tenggelam itu pun menoleh ke samping. Ada sosok mas Adam. Penampilannya sudah berbeda dengan tadi ketika di Kafe. Dia menggunakan kaos hitam dan celana pendek. Terlihat lebih santai dan lebih...tampan. Di lehernya terkalung sebuah kamera. Tampaknya sejak tadi dia tengah sibuk menjadi tukang foto.
"Aku foto ayo," Katanya lagi.
Aku tersenyum kemudian menggeleng. "Besok aja mas, sekarang mumpung langitnya lagi cantik. Sayang kalau dilewatin."
"Lah justru itu, ayo!"
"Nggak ah, malesss." Katakuu.
Mas Adam menatapku heran, "kenapa? Kamu takut hasilnya jelek ya? Aku bagus kok kalau ngefoto."
"Bukan gitu mas."
"Yauda deh, aku foto candid aja."
"Ih jangan!!" Katakuu.
Mas Adam sudah mengangkat kameranya dan terlihat bersiap untuk memotret ku. Aku pun dengan cepat melindungi wajahku dengan tangan.
"Mas Adam Jangan ngeselin deeeh" Katakuu.
"Ahahaha," Sementara dia hanya sibuk tertawa.
Sore itu terasa sangat syahdu. Dengan teh hangat, dan keberadaan Mas Adam yang merupakan cinta pertamaku, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Entah sejak kapan perasaan pada Mas Adam itu ada lagi. Atau mungkin sejak dulu perasaan itu tidak pernah hilang? Aku tak tau. Yang jelas aku memiliki rasa yang spesial untuk mas Adam.
"Ra," mas Adam meletakan kameranya. Dan meraih gelas berisi kopi yang sejak tadi sudah aku siapkan.
"Ya mas?" Jawabku. Mataku kali ini masih sibuk menatap hamparan laut dan langit.
"Besok kalau kita sudah menikah ke sini lagi yaa, berdua."
Jantungku berdetak sangat cepat. Tidak bisa dikondisikan lagi, karena ucapan Mas Adam mampu membiusku menuju dimensi lain. Dimensi yang aku yakini hanya ada sebuah keindahan di dalamnya. Jika kemarin aku membayangkan bisa menikmati sore hari bersama Mas Adam di rumah penginapan miliknya, kali ini aku membayangkan menikmati sore di pantai ini hanya berdua bersamanya. Seperti sekarang, bedanya jika nanti kami sudah menikah, mungkin duduk kami yang lebih dekat dari sekarang. Atau tangan kami yang saling bertaut.
"Ra, maafin aku yaa." Ujarnya.
Aku tidak tau kenapa Mas Adam suka sekali mengucapkan kata maaf. Jika itu masalah kemarin maka dia memang salah, tapi saat ini..kenapa dia bilang maaf? Dia tidak melakukan kesalahan apapun yang melukai hatiku.
"Maaf buat apa Mas?"
"Yaa....maaf."
Aku menatapnya heran. Pertanyaanku itu tidak ia jawab dengan jelas.
"Aneh." Gumamku sembari meliriknya.
"Hehe"
"Sumpah aneh." Kataku lagi.
"Ra," Panggilnya lagi.
Awas aja kalau dia mau minta maaf lagi. Dengan malas aku menatapnya. "Iyaa, ada apa mass?"
"Kamu mau kan nikah sama aku?"
Selain pendiam, nyebelin, Mas Adam juga aneh. Itu adalah sifat Mas Adam yang baru ku ketahui. Pertanyaannya itu sudah Mas Adam tanyakan ketika dia pertama kali bertemu denganku di rumah. Kenapa sekarang ia tanyakan lagii?
Aku mengangguk sembari mengulas senyum, "iyaa mas. Ara mauu. Kan mas uda pernah tanya duluu."
"Ya mungkin kamu berubah pikiran."
"Nggak." Jawabku dengan mantap. Hatiku sudah yakin sejak awal. Sejak Mama bilang jika keluarga Adam ingin melamarku.
"Mas minta maaf yaa." Kata Mas Adam lagi.
Kali ini aku semakin curiga. Ada aapa gerangan dengan Mas Adam? Kenapa dia selalu mengatakan kata maaf?
"Mas gajelas."
"Hahaha" Dan dia pun hanya tertawa.
Kuharap ini bukan pertanda buruk. Kuharap Mas Adam memang gemar hobi bilang maaf padahal ga melakukan kesalahan. Untuk saat ini, aku akan mengabaikan kata maafnya yang sebenarnya menganggu. Biarkan kubawa pemikiran bodo amat dalam hal ini.
"Mas," Kali ini aku yang memanggilnya.
"Ya Ra?"
"Langitnya cantik yaa?" Kataku.
"Iyaa, cantikk banget." Jawabnya.
Dan senja itu kami nikmati berdua. Disaat tiga teman Mas Adam dan istrinya sibuk berfoto-foto, aku dan Mas Adam dengan khusyuk menikmati senja. Teh hangat dan kopi panas menjadi teman yang nikmat. Dari balik tebing, terdengar suara adzan yang menggema. Sungguh nikmat Tuhan mana yang engkau dustakan?
TBC.