Bab 9

1045 Words
Adam POV ------------------------------------------------- Senja sudah menghilang, aku dan teman-teman pun melaksanakan shalat maghrib berjama'ah. Dengan alas tikar milik Bunda yang aku ambil di gudang, dan pencahayaan remang-remang dari lampu yang aku pinjam dari bapak. Lampu itu biasanya beliau gunakan untuk memancing, jadi beliau sangat memperingatiku untuk menjaganya dan membawanya pulang dalam keadaan aman. Shalat maghrib kali ini sama seperti shalat jamaah empat pilar sebelumnya, yang menjadi imam tentu saja si Misbah. Diantara kami berempat dia memang yang paling alim dan tidak neko-neko. Misbah adalah anak dari pemilik pondok pesantren yang cukup besar di semarang. Jika nanti Abahnya sudah tiada, dia akan menjadi penerus untuk mengelola yayasan Pondok itu. Setelah shalat maghrib, kami tidak segera membereskan tempat. Menunggu sampai waktu isya masuk, dengan tahlil bersama. Ada banyak sekali amalan-amalan yang kami dapatkan dari pondok, dan harus tetap dilaksanakan. Termasuk tahlil selepas shalat maghrib. Jika biasanya aku melakukan tahlil sendirian, kali ini bersama empat pilar. Membuatku teringat masa-masa ketika mondok dulu. Usai tahlil dan shalat isya, kami pun bersiap untuk makan malam. Aku mencari sosok Ara yang tampaknya sudah paham akan tugasnya. Dia terlihat menuju tempat perapian dimana kami tadi duduk bersama menikmati senja. Dia pasti hendak memasak untuk makan malam. Aku menatapnya dari jauh. Dia sibuk dengan tas perbekalan yang katanya berisi cadangan makanan kami. Mencari sesuatu, yang ternyata adalah empat kotak yang aku tak tau berisi apa. Dia terlihat menghampiri gerombolan empat pilar dan para istri, aku menatapnya saja tanpa berniat mendekat ke arah mereka. "Sambil nunggu makan malamnya, ini aku bawain roti," Katanya dengan menyodorkan empat kardus yang ternyata berisi roti. "Waaaah roti apa Raaa?" Tanya Ningsih, ia bersemangat mengambil kotak itu. Meletakkannya diantara mereka dan membukanya. "Ini roti milik toko kue kamu raa?" Tanya Novi. Ucapan Novi itu membuatku penasaran, aku pun akhirnya mendekat ke arah mereka setelah sejak tadi hanya menjadi pengamat. "Iyaa," jawab Ara singkat. Aku yang penasaran pun ikut mengambil satu roti itu. Tidak tau ini rotinya bernama apa, yang jelas di atasnya ada dua topping yaitu meses dan keju. "Gila, enak banget raaa!" Kata Jonathan. Setuju, roti ini enak sekali. Lembut dan tidak terlalu manis. Perpaduan topping meses dan keju membuat mulutku tak ingin berhenti memakannya. Padahal aku tidak seberapa suka roti, tapi roti milik Ara mampu merebut hatiku. "Iya Mba Ara, ini enak bangett!" Kata Aida. "Toko kue kamu dimana si raa? Mau mampir deeh, pasti banyak kue dan roti yang enakk." Ujar Novi. Aku dulu dikasih tau, tapi aku lupa. Akhirnya aku pun menjadi salah satu dari mereka yang menantikan jawaban Ara. Ara terlihat malu, perempuan itu selalu malu jika dipuji. Seolah dia merasa tak pantas mendapatkan itu. "Di deket Alun-alun kidul," Katanya. "Yauda nanti kita ke sana yaaa!" Ujarku sembari melirik Ara. "Beneran kang??" Tanya Ningsih. "Iyaa, kan kita belum main ke Alun-alun kidul. Nanti sekalian mampir ke toko kuenya Ara." Ujarku. Ara menatapku dengan senyuman manis dan kubalas itu dengan senyuman tak kalah manis untuknya. Sungguh aku bangga sekali pada Ara. Dia perempuan cantik, baik dan berbakat. Dia memang pilihan yang tepat untuk bisa dipamerkan kepada teman-teman. Mungkin terdengar jahat, tapi aku membawa Ara ikut reuni ini untuk ku pamerkan kepada empat pilar. Aku ingin mereka tau jika aku sudah memiliki seorang istri yang tak kalah cantik dari dia. Dadaku kembali sesak jika mengingat dia. Aku mengalihkan pandanganku menatap lautan yang luas sembari menikmati semilir angin malam yang berhembus tidak terlalu kencang. Sepanjang mataku memandang aku hanya menemukan gelap. Ya, seperti itulah kisah cintaku dengan dia. Gelap. Tidak menemukan jalan terang untuk bahagia. -- "Mas?" Satu jam aku hanya diam dan sibuk dengan pikiranku. Hingga sebuah suara menyeruak masuk ke dalam gendang telinga. Itu suara Ara. Aku menoleh, dan mendapati perempuan itu sudah duduk tak jauh dari sampingku. Ia menyodorkan sebuah piring yang berisi makanan lengkap. "Makan dulu Mas," Katanya. Di piring itu ada sayur cap jai dan ayam goreng. Tidak tau kapan dia memasaknya, atau ketika aku hanya bengong dan memikirkan 'dia' Ara tengah sibuk memasak ini? Ah, jahat sekali aku. "Maaf ya raa," Kataku. Entah sudah berapa banyak kata maaf yang aku ucapkan padanya. Yang jelas aku benar-benar merasa bersalah pada Ara. Disaat dia disampingku, aku masi saja terus memikirkan sosok 'dia'. "Mas jangan ngomong maaf lagi dong, nyeremin tauu." Katanya. Aku terkekeh geli, jika saja dia tau alasan aku selalu meminta maaf padanya, mungkin dia akan tau jika aku pantas mengatakan itu. Karena aku memang jahat sekali padanya. Aku diam, dan tidak berniat mengatakan apapun lagi. Di dekat Ara tidak kurasakan kenyamanan yang sama saat bersama 'dia' dan itu membuatku sedikit khawatir. Apa benar sosok Ara bisa menggantikan posisi 'dia' yang sudah bertahun-tahun mendiami hatiku? Kudengar suara Ara yang tak berhenti bicara, aku hanya diam karena tak tertarik menanggapinya. Beda sekali ketika aku bersama 'dia' apapun yang ia katakan selalu membuatku ingin menyimak dan menanggapinya dengan antusias. Ah, dimana ya dia sekarang? Apa dia baik-baik saja?? Aku menghembuskan nafas panjang, kemudian menatap Ara lagi. "Ra," Kataku. Menghentikannya yang sejak tadi sibuk bicara. "Ya mas?" "Nanti setelah empat pilar pulang aku ke rumah yaa, bilang Ibu sama Bapak. Aku mau ketemu mereka." Kulihat keterkejutan di wajahnya, dia tak bisa menahan senyum bahagia. Sehingga senyum itu tercetak jelas dan membuatku semakin merasa bersalah. Maafkan aku raa... "Iya mas." Jawabannya. Ara adalah pilihan Bunda dan aku tidak memiliki perasaaan apapun padanya. Sejak awal, dimataku Ara hanya sebagai pemeran pengganti 'dia'. Karena sejak dulu, aku tak pernah memikirkan perempuan lain untuk aku nikahi selain dia. Aku tidak tau apa yang terjadi ke depan, yang jelas aku tengah berusaha berdamai dengan kenyataan. Aku harap apa yang dikatakan Bapak jika cinta datang karena terbiasa akan benar-benar terjadi. Sekalipun aku sendiri tak yakin, apakah hatiku masih bisa ditempati wanita lain selain 'dia'? "Mas," Ara memanggilku. Aku meliriknya. "Kenapa Raa?" "Makasi ya mas, Terima kasih banyak sudah menjadikan Ara sebagai istri Mas. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi istri yang baik. Akan menjadi istri yang taat dan selalu membahagiakan mas." Ara..apa aku yang b******k ini pantas untukmu yang baik hati? Ara..apa kamu pantas hanya menjadi pemeran pengganti? Rasa bersalah ku semakin menumpuk. Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi pada Ara. Hanya air mata yang tiba-tiba terjatuh dari pelupuk mata. "Maafkan aku Ra," Dan kali ini hanya kata maaf yang dapat terucap. Maaf telah menjadikanmu hanya seorang pemeran pengganti. Tbc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD