Rumah Mas Adam.
-----------
Ara masih tidak menyangka dirinya sekarang sudah menjadi istri Adam. Pukul satu tepat, janji suci itu genap terucap 24 jam yang lalu. Perasaan Ara campur aduk, masih tak menyangka dengan status barunya. Karena semuanya terjadi begitu cepat. Berjalan di alur cerita yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Sekalipun Ara serius ingin menikah dengan Adam, ia tak pernah menyangka akan menikah secepat ini. Menikah dengan lelaki yang masih baru Ara kenal dekat dua bulan yang lalu.
Banyak hal yang masih belum Ara ketahui tentang Adam. Ara ingin mengajukan beberapa pertanyaan agar ia lebih mengetahui tentang suaminya. Pertanyaan itu seperti: apa makanan kesukaan kamu? Apa kamu suka kopi hitam atau kopi yang lain? Kalau tidur kamu suka lampunya nyala atau mati? Pulang kerja jam berapa? Dan masih banyak lagi pertanyaan yang ingin Ara tanyakan pada Adam. Membuat Ara mengerti jika dia masih belum benar-benar mengenal Adam. Mereka baru kembali dekat dua bulan yang lalu, tentu saja masih banyak yang mereka belum tau tentang satu sama lain.
Termasuk kepribadian Adam yang berubah-ubah. Ara baru satu jam bersama Adam, tapi dia sudah melihat perubahan sifat Adam yang kontras.
Saat bersama para orang tua Ara yang berjumlah empat orang, Adam bersikap ramah sekali. Sopan, dan penuh kelembutan. Membuat Ayah Ara berkali-kali memuji pribadi Mas Adam di depan semua orang. Sedangkan saat hanya berdua dengannya, Adam mendadak kehilangan keramahannya. Aura dingin menyeruak begitu saja ketika dia mengajak Ara masuk ke dalam kamar. Senyum hangatnya hilang dan tidak banyak bicara. Membuat Ara menerka-nerka apakah dia melakukan kesalahan yang membuat Adam menjadi dingin? Seingat Ara dia tidak ngapa-ngapain sejak tadi. Setiba di rumah Mas Adam, dia hanya duduk, senyum, diam dan menyimak obrolan.
Adam mengajak Ara ke kamar, karena katanya ingin bicara berdua saja. Para orang tua pun memberi izin. Jarum jam menunjukkan pukul dua belas ketika Zara masuk ke dalam kamar Adam. Sinar matahari yang menyelinap melalui jendela menjadi satu-satunya pencahayaan di dalam kamar. Adam menyuruh Zara duduk di sofa panjang dekat jendela.
Zara diam, tidak tau memulai obrolan dari mana. Sementara Adam masuk ke dalam kamar mandi, keluar dan berganti baju. Sepertinya sejak kemarin Adam tidak sempat merawat dirinya. Wajahnya tampak lusuh dan tidak bersemangat. Tapi itu wajar, siapapun orangnya jika kehilangan orang tua pasti malas melakukan apapun. Termasuk merawat dirinya sendiri. Karena yang terpenting bagi dirinya sudah tiada.
"Kenapa ga ke sini kemarin malem?" Usai berganti baju, Adam berdiri di depan kaca sembari menyisir rambutnya.
Zara melirik apa yang dilakukan Adam, dan membuatnya menghernyitkan dahi heran. Perasaan mereka ga mau kemana-mana deh, kenapa Adam seolah tengah berdandan?
Tampaknya tadi di kamar mandi Adam juga membasuh wajahnya, karena ia kini terlihat lebih segar. Ara bisa melihat wajah Adam dengan jelas karena lelaki itu duduk di hadapan Ara. Jarak mereka dekat, Ara khawatir Adam bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdetak sangat keras.
"Jawab Ra," kata Adam dengan dingin. Tanpa nada ramah, senyum hangat atau tatapan menenangkan.
"Oh..em.." Ara terlalu sibuk dengan pikirannya sampai lupa menjawab pertanyaan Adam. "Mas tanya apa?"
"Kamu kenapa nggak ke sini kemarin malam?"
"Oh.." Otak Ara mendadak macet. Padahal cuma ditanya begitu, tapi Ada uda grogi banget. Perasaan sebelum ini Ara biasa-biasa aja deh kalau diajak Adam ngobrol. Apa gara-gara sekarang Adam lagi ngeliatin Ara dan status baru mereka yang uda resmi jadi pasangan suami...istri?? "Itu mas, semalem Bapak badannya ga enak. Rencananya aku sama Ayah mau ke sini sendiri tapi Bunda tiba-tiba muntah. Alhasil semuanya setuju dateng hari ini. Maaf ya Mas."
"Bapak? Ayah? Bunda? Bisa jelasin lebih lanjut?" Adam bingung.
Ara mengangguk, Adam wajar bingung. Selama ini dia memang tidak pernah menjelaskan sebutan untuk empat orang tua Ara.
"Bapak itu suaminya Ibu kandung aku. Ayah itu Ayah kandung aku. Bunda itu istri Ayah." Jelas Ara dengan suara pelan.
Yang dijelaskan pun mengangguk mengerti. "Sejak kapan Ra Ibu sama Ayah cerai?"
Sebenarnya sampai sekarang Ara kurang nyaman jika membahas perceraian orang tuanya. Padahal itu terjadi lama, ketika ia duduk di bangku SMP. Tapi bagaimana pun, luka di hatinya tetap tinggal di sana sekalipun waktu sudah berlalu. Bagi seorang anak, patah hati terbesarnya tentu saja melihat kedua orang tuanya tak seperti orang tua lain, yang bisa tinggal bersama dengan mereka. Usia Ara sudah 25 tahun, rasa rindu melihat orang tuanya bersama lagi tentu saja masih ia miliki. Harap kedua orang tua bisa seperti dulu lagi selalu ada di hatinya sekalipun ia tak berani mengutarakannya.
"Aku gatau tepatnya kapan Mas, tapi tak lama dari waktu kami semua pindah dari bukit mas, kayaknya pas aku masuk SMP deh."
Adam mengangguk, "terus kamu ikut siapa?"
"Ikut nenek, kata ibu sama Ayah biar adil. Tapi aku tau itu hanya alasan mereka. Karena walaupun aku dititipin Nenek, mereka ga pernah datang buat ketemu aku."
Adam menatap Ara simpati, membuat perempuan dengan kerudung bewarna coklat s**u itu tersenyum kecut. Mengingat masa lalu selalu membuat dadanya sesak. Air mata semoga tidak turut jatuh karena ia malu menangis di depan Adam.
Mereka terdiam. Ara menenangkan dirinya yang sedikit terguncang karena mengingat masa lalu. sementara Adam sejak tadi menghembuskan nafas panjang yang terlihat memikirkan sesuatu.
"besok kita pindah ya Ra." ujar Adam memecahkan keheningan di antara mereka.
"Pindah?"
"Katanya kamu mau pindah ke rumah yang deket Alun-alun?"
"Mas serius?"
Adam mengangguk. Ara terlihat terkejut.
"Jujur aku masih nggak menyangka kita udah nikah."
"Sama." Saut Adam cepat. "Terima kasih Ra."
"Mas kenapa bilang Terima kasih?"
"Karena kamu membantuku wujudin keinginan Bapak." Kata Adam.
Ara diam, ada yang mengganjal di hatinya. Ia tidak mau mendapatkan ucapan terima kasih dari Adam karena mau menikah dengannya.
"Tapi aku menikah karena aku mau mas, bukan hanya karena bantu mas wujudin keinginan Bapak."
Bagi Ara dua alasan itu jelas berbeda. Jika menikah dengan alasan membantu Adam mewujudkan keinginan Bapak, pernikahan itu seolah terdengar hanya sebuah ritual yang dilakukan karena terpaksa. Yang jika tidak ada keinginan Bapak maka tidak ada pula pernikahan mereka. Sementara bagi Ara menikah dengan Adam adalah sebuah keinginan yang tanpa alasan karena.
Adam diam. Kemudian mengangguk. Senyumnya terbesit dengan segala rasa bersalah yang ada dalam dirinya. Mendengar ucapan Ara, membuatnya mengerti jika pernikahan ini hanya akan membuat Ara terluka. Perempuan itu sudah jatuh kepadanya, sementara ia tidak bisa jatuh pada perempuan itu.
"Maaf Ra."
Ara benci ketika kata Maaf keluar dari mulut Adam. Karena dia tidak tau alasan Adam meminta maaf padanya.
Tbc.
Xx, muffnr