Tinggal berdua
----
Berkemas. Ara sibuk berkemas satu minggu ini. Memasukkan beberapa pakaian ke dalam kardus. Membawa beberapa buku favoritnya dan buku yang belum sempat dibaca. Tak lupa juga beberapa tas dan sepatu dengan model dan warna yang berbeda. Tidak membawa banyak, karena rumahnya dengan rumah baru jaraknya tidak jauh. Kalau kurang apa-apa, Ara bisa mampir ke rumah ini dan mengambilnya.
Ya, hari ini Ara akan pindah ke rumah Adam. Jantungnya sejak tadi berdetak sangat cepat. Hari yang ditunggu-tunggu Ara sejak beberapa hari yang lalu akhirnya tiba juga. Baru kali ini Ara senang meninggalkan rumah yang menjadi tempatnya berlindung selama dua tahun terkahir. Padahal dulu Ara berandai jika sudah menikah dia ingin tetap tinggal di rumah itu. Karena bagi Ara rumah itu bukan hanya sekedar rumah. Ada rasa aman yang ia rasakan seperti dipeluk Ayah dan Ibu jika Ara di dalamnya. Mungkin Vibes itu Ara rasakan karena rumah itu pemberian dari Ayah dan Ibunya. Rumah itu hanya Ara tinggali sendirian, jika Ara pindah makan kosong lah rumah itu. Ara pun menitipkan rumahnya pada Mbok Darmi, tetangga sebelah yang berusia enam puluh lima tahun. Mbok darmi akan menyalakan lampu depan rumah Ara ketika sore menjelang maghrib. Agar rumah Ara tetap terang sekalipun tidak berpenghuni. Ara juga meminta tolong Mbok Darmi sesekali menyapu halaman depan dan menyiram tanamannya. Ah, dia pasti akan merindukan rumah ini.
Gerakan tangan Ara kini tengah sibuk membawa koper, dan beberapa kardus ke area teras. Agar nanti tinggal masukin barang-barang nya ke dalam mobil Adam jika suaminya itu suda datang. Penampilan Ara pagi itu terlihat santai. Ara menggunakan stelan dengan warna coklat s**u yang menambah kesan anggun.
Ara cantik, dan semakin terlihat cantik karena senyum lebarnya tidak kunjung hilang. Hatinya penuh dengan rasa bahagia. Ia tak sabar, saking tak sabarnya ia wira-wiri di teras rumah. Sembari sesekali menatap jalanan berharap muncul mobil Adam.
Dan yang ditunggu pun datang. Mobil Adam muncul membelah jalanan gang rumah Ara yang sepi. Jarum jam menujukkan pukul delapan lebih lima belas menit, Adam datang telat lima belas menit dari janjinya yang akan menjemput Ara pukul delapan. Setelah memarkirkan mobilnya, Adam muncul dari dalam mobil. Ia menggunakan kaos hitam dan celana kain bewarna coklat. Gayanya yang santai membuat dia terlihat lebih tampan dari biasanya. Apalagi pagi itu adalah pertemuan pertama mereka setelah satu minggu tidak bertemu. Membuat Ara ingin sekali memeluk Adam saking kangennya.
"Maaf, tadi ada urusan mendadak, jadi telat." Kata Adam dengan wajah dinginnya.
Ah, padahal Ara ingin melihat senyum hangat Adam. Tampaknya pagi ini, Adam lagi dalam mode dingin ya? Oke.. Ga masalah..
Ara hanya mengangguk, "aku uda siap!" Katanya sembari membawa tas jinjingnya.
Sementara dengan mengerti, Adam memasukkan barang-barang Ara yang lain.
"Rumah uda dikunci?"
"Uda." Jawab Ara singkat.
Mereka sudah di dalam mobil. Ara memasang sabuk pengaman. Adam bersiap mengemudikan mobil.
Tanpa ada obrolan lagi, mereka menuju rumah Adam yang akan mereka tinggali bersama.
Sepanjang jalan Ara sesekali melirik Adam tanpa mengucapkan apapun. Padahal mulutnya gatal sekali ingin mengajak Adam bicara. Tapi ia bingung harus mulai dari mana. Akhirnya ia biarkan suasana sunyi itu membersamai mereka hingga sampai.
--
Apa memang seperti ini pernikahan diantara dua orang yang tidak terlalu dekat? Tidak ada pembicaraan, tidak ada rasa hangat, yang ada hanya kecanggungan dan rasa sunyi. Ara sampai stres mikirin kenapa sedari tadi Adam diam saja. Dia juga nyalahin diri sendiri yang nggak berani ngajak bicara duluan.
Setelah beresin barangnya dibantu Bibi Mirna, Ara memasak makan malam yang kini ia makan bersama Adam. Meja makan itu memiliki empat kursi, tersisa dua kursi karena Bibi Mirna tak mau makan dulu dan kini lebih memilih masuk ke kamar tamu. Bibi Mirna adalah orang yang biasanya membantu Bunda di rumah. Sengaja diajak Adam datang ke sini karena ia tau Ara membutuhkan bantuan untuk menata barang-barangnya. Sebelum Ara datang, Bibi Mirna juga membersihkan rumah yang semenjak kedatangan teman-temannya tidak pernah ditinggali lagi. Rumah itu memang biasanya hanya digunakan untuk persinggahan saja. Lebih sering kosong dari pada ada orangnya.
Ara baru menyadari, meja makan itu bukan meja makan yang terakhir kali dia liat di rungan itu. Bukan meja makan lebar yang pas untuk banyak orang. Meja makan itu kecil membuat jaraknya dan Adam lebih dekat. Mereka duduk berhadapan dengan sibuk menatap makanan di piring masing-masing. Ah yang sibuk menatap piring hanya Adam, karena sedari tadi Ara sibuk melirik orang di hadapannya. Makanan di piring Ara bahkan tidak berkurang, karena sejak tadi Ara hanya mengaduk-ngaduknya. Padahal piring Adam sudah tinggal setengah. Malam ini Ara memasak cumi bakar dengan sambal matah. Salah satu menu baru yang akan ia rilis di cafe. Dia ingin Adam mencobanya terlebih dulu dan mendengar pendapat suaminya. Tapi sejak tadi, Adam tidak mengatakan apapun tentang rasa masakan Ara. Ara sendiri pun takut bertanya.
Sampai piring Adam habis, Ara masih belum berani membuka suara. Adam yang baru sadar jika piring perempuan di hadapannya masih tersisa banyak pun heran.
"Kenapa?" Akhirnya keheningan itu pecah.
Sekalipun hanya satu kata tapi Ara senang! Ia mendongak dengan mata berbinar.
"Apa mas?" Padahal sebenarnya mudah sekali loh membuka mulut dan bicara. Tapi kenapa untuk memulainya rasanya Ara takut sekali.
"Kenapa nggak dimakan?"
Ara sontak salah tingkah, menegakkan duduknya sembari menyiapkan satu sendok ke mulut. "Ini aku makan."
Adam mengangguk. Kemudian berdiri sembari membawa piringnya. Ara menatap itu dengan tatapan bingung.
"Mas uda selesai makan? Taruh sini aja piringnya biar aku cuci." Kata Ara dengan panik.
Ara kira Adam hendak mendekat ke wastafel, ternyata dia salah. Adam malah tengah mengambil nasi lagi. Kemudian kembali duduk di hadapan Ara.
"Laper banget ya Mas?"
"Iya."
"Tapi masakanku enak kan?"
Akhirnya Ara berani tanya..dia berani tanya karena yakin aja si kalau jawabannya pasti ga bikin dia kecewa. Dari Adam nambah makan lagi, tentu aja itu uda nunjukin kalau masakannya enak kan?
"Em.." Adam terlihat berpikir. Ara jadi panik.
"Ha? Ga enak ya mas?"
"Makanan kalau dimakan pas laper kayaknya semua enak deh Ra."
Mulut ara terkunci. Gatau harus ngomong apa. Dia kayak jatuh dari tangga. Ia kira Adam akan mengatakan enak sesuai ekspektasi nya. Ternyata ara salah. Perkiraan nya salah.
Ara pun menunduk menatap piringnya lesu. Mulai memakan nasinya. Sesulit ini kah mendengar pujian dari Adam? Ah, Ara jadi merasa sesak. Ini memang salah dirinya sendiri yang terlalu berharap dipuji Adam.
Tbc
Xx,muffnr