Bab 16

1052 Words
Perempuan tua itu tidak bisa memejamkan matanya. Hari ini ia tidur di tempat asing yang tidak pernah ia kunjungi. Kamar ini lebih besar dari kamarnya, ada TV, Rak bewarna putih dan ranjang yang luas. Sekalipun begitu, perempuan Tua bernama Mirna itu tidak bisa memejamkan matanya. Ada yang mengganjal di pikirannya sejak tadi. Yaitu tentang sepasang pengantin baru yang tinggal di rumah ini. Mas Adam yang sudah Bi Mirna anggap seperti anak sendiri dan Mbak Ara yang baru tadi pagi ia jumpai sosoknya. Mirna tidak menyangka, rumah sepasang pengantin itu akan sesepi ini. Bahkan sejak Mbak Ara datang, Mirna melihat Mas Adam menjadi sosok yang berbeda. Bukan Mas Adam yang bersikap ramah dan hangat seperti di rumah. Melainkan sosok dingin Yang penuh kebisuan. Yang jelas, itu membuat Mirna mati penasaran. Membuat Mirna berpikiran yang tidak-tidak . Apa sebenarnya yang terjadi di antara pengantin baru itu? Kenapa mereka tidak terlihat romantis seperti pengantin baru pada umumnya? Jangan-jangan mereka tidak saling mencintai..jangan-jangan Mas Adam terpaksa melakukan pernikahan ini? Astaga.. Harusnya Mirna tak boleh memikirkan hal ini. Harusnya dia tidak boleh ikut campur urusan anak majikannya yang sangat ia hormati. Mirna pun mencoba memejamkan matanya. Entah ini sudah percobaan yang keberapa. Kali ini ia nyalakan TV di ruangan. Agar kesunyiaan di luar sana tidak membuatnya berpikir Aneh-aneh. --- Semalam mirna tidur nyenyak sekali. Paginya dia bangun ketika pukul lima pagi. Lebih siang dari biasanya. Sontak saja Mirna bangun dengan tergesa-gesa. Selepas shalat subuh, ia segera menuju dapur dan sudah menemukan Ara di dapur. Menyapa majikan barunya yang pagi ini terlihat sangat cantik. Mirna baru bertemu Ara kemarin, tapi Mirna tau Ara perempuan baik. Tatapan hangat Ara dan sikapnya yang sangat sopan, membuat Mirna senang berada di dekat perempuan berusia puluh tahunan itu. Ara bahkan menyuruh Mirna untuk duduk saja karena dia yang akan memasak semuanya. Tentu saja Mirna tak mau, akhirnya Ara memberikan tugas untuk menyapu halaman depan sebagai ganti. Sebelum beranjak dari dapur, Mirna menatap Ara dengan tatapan bingung. Melihat rambut Ara yang dikuncir kuda. Rambut itu kering, tidak basah. Tidak seperti dia ketika menghabiskan malam pertamanya dulu. "Mba Ara belum mandi? Apa saya siapkan air hangat dulu biar Mbak bisa mandi?" "Ndak usah Bi, saya mandi habis makan biar masih wangi kalau berangkat kerja." "Oh...kalau gitu saya buatkan air hangat untuk mas Adam ya." "Ndak Bi, Mas Adamnya semalam pergi." Mirna sontak menatap Ara bingung. Ternyata benar dugaannya, semalam pengantin baru itu belum tidur dan melakukan hubungan intim. "Pergi ke mana Mbak?" Tanya Mirna penasaran. "Katanya di pabrik ada masalah, jadi dia nginep di pabrik Bi." Jawab Ara dengan lembut dan senyum hangat. Mirna mengangguk mengerti kemudian meninggalkan Ara. Seingatnya, selama ini Adam tidak pernah nginep di pabrik. Dia selalu mendapati Adam di rumah. Sekalipun kerjaan banyak, Adam lebih memilih membawa pekerjaannya ke rumah dari pada ngerjain di pabrik. Sungguh aneh. Mirna sudah pastikan ada yang aneh dengan hubungan pernikahan pengantin baru itu. Ia merasa tuan mudanya tidak mengharapkan pernikahan ini terjadi. Sungguh malang sekali nasip Mbak Ara. Perempuan cantik itu, tidak seharusnya terjebak pernikahan dengan orang yang tak menginginkan nya. ---- ARA merogoh saku kemeja dan mengambil ponselnya yang diselimuti case bewarna soft pink. Ponsel itu baru saja lima menit yang lalu ia cek, tapi saat ini ia tak tahan untuk mengeceknya lagi. Dengan harap ada pesan baru muncul di kolom chatnya dengan Adam, Ara membuka ponselnya semangat. Tapi sayang harapan itu hanya harapan semua dan tidak menjadi kenyataan. Pesannya hanya dibaca Adam dan tidak dibalas. Pagi tadi, Ara mengirimkan Adam chat yang berisi: Pagi mas, hari ini aku kerja ya. Mas nanti pulang jam berapa? Nanti mas mau aku kirimin makan siang nggak? Kalau mau kirimin alamat lengkap pabrik mas ya, biar aku gojekin. Apa Adam sangat sibuk sampai tidak membalas chatnya? Ara menghembuskan nafas panjang. Kemudian menyenderkan punggungnya di lemari es yang ada di gudang. Menundukkan kepalanya dan menatap sepatu sneakers yang ia kenakan. Tubuhnya jadi lemas. Ia tidak bersemangat menjalani hari ini. Ah...ada apa si dengan dirinya? Kenapa hanya masalah chat tidak dibalas saja sudah sedih? Ara menutup wajahnya dengan kedua tangan. Kemudian beranjak dari gudang penyimpanan yang ia jadikan tempat persembunyian. Mencoba terlihat baik-baik saja dihadapan semua pegawainya. "Mbak, cumi goreng sambal matah sama nasi gorengnya uda jadi. Uda aku packing juga. Tinggal kirim. Mau dikirim sekarang kah? Dikirim kemana? Biar aku yang pesen gojeknya." Kata Bara. Itu adalah makanan yang Ara ingin berikan pada Adam. Ah..harus dikirim kemana kah makanan itu? Sampai saat ini Adam tidak membalas pesannya. Padahal jam makan siang hampir saja tiba. Sungguh Ara tidak tau dimana alamat pabrik Adam. Tiba-tiba dia mendapatkan ide. "Uda bar, aku aja yang urus. Kamu urusin kerjaan kamu aja." Kata Ara. Dia segera menghubungi Ibu mertuanya—Bunda. Untuk menanyakan dimana alamat pabrik Adam. "Assalamu'alaikum, Araaaa!!" Sapa Bunda dengan suara ramah. Ara tersenyum mendengarnya. "Waalaikumsalam wr wb Bundaa, apa kabar? Bunda sehat kan?" "Sehat sayanggg, ada apa? Ada masalah kah?" "Oh tidak Bunda, Ara cuma mau tanya sesuatu." "Iya sayang, tanya apa?" "Alamat pabrik mebelnya mas Adam dimana nggih? Ini Ara mau ngirim makan siang." "Makan siang buat siapa nduk?" "Mas Adam, Bun." "Loh..bukannya Adam di rumah ya? Tadi Bunda ke pabrik nggak ada Adam tuh. Bunda kira Adam lagi nikmatin waktu berdua sama kamu." Loh...adam nggak ada di pabrik? Ara sontak panik. Kemana lelakinya itu? Apa semalam Adam bohong pada Araa? "Nduk, kamu masih di sana kan?" Suara Bunda menyeruak, membuat Ara mengendalikan dirinya untuk tidak terlihat panik. Ara tidak ingin Bunda tau Adam membohonginya. "Oh iya Bun, yasudah kalau gitu. Ara matikan nggih." "Terus Mas Adam mu dimana sebenernya? Di rumah apa di pabrik?" "Oh..Ara ndak tau Bunda, mungkin dia di rumah. Soalnya tadi Ara berangkat ke restoran pagi sekali. Jadi ndak sempat tanya kegiatan Mas Adam hari ini." "Oh gitu..restoran kamu ndak bisa ditinggal nduk? Mbok ya di rumah dulu sama Masmu. Kalian kan pengantin baru." "Enggeh Bunda," "Yasudah Bunda tutup, assalamu'alaikum." "Waalaikumsalam wr wb." Ada rasa kecewa yang kini Ara rasakan. Ternyata Adam membohonginya. Jadi semalam Adam tidur di mana? Apa tidak bisa Adam jujur padanya? Sekarang saat ditanya dimana pun Adam tidak membalas chat ara. Air mata Adam pun menetes seketika. Ia menuju ruang penyimpanan. Ini adalah tangis kedua Ara setelah menikah dengan Adam. Dan tangis pertamanya adalah tadi malam. Saat Adam pergi begitu saja meninggalkannya setelah mencium bibir Ara lama. Tbc. Xx, muffnr
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD