Bab 17

1383 Words
Ara akan menceritakan kepada kalian kejadian malam kemarin yang membuatnya menangis sampai tertidur pulas. Selepas makan malam, Adam membantu Ara mencuci piring. Padahal Ara melarang, tapi Adam tetap bersikeras untuk membantu. Kata Adam saat itu, Ara sudah lelah masak, jadi dia akan membantu mencuci piring. Jujur saja mendengar Adam berkata seperti itu, membuat Ara merasa senang. Dia merasa Adam adalah laki-laki yang bisa menghargai kerja keras seorang istri. Ara pun membiarkan Adam mencuci piring dan membantunya. Mereka seperti sepasang suami istri yang rukun. Sekalipun diantara mereka tidak ada pembicaraan yang berlangsung. Ara merasa Adam menjadi sosok yang berbeda setelah menikah. Ia menjadi lebih pendiam dan dingin kepada Ara. Apa ini karena kematian Bapak? Ya..sepertinya. Apalagi kata Bunda, Adam sangat dekat dengan Bapaknya. Jadi wajar ketika kini Bapak tiada, Adam terlihat murung dari biasanya. Asumsi itulah yang membuat Ara mengurungkan niat untuk menanyakan lebih lanjut akan sikap Adam yang dingin. Daripada menanyakan apa yang terjadi, Ara sibuk berpikir apa yang harus ia lakukan agar bisa mencairkan suasana. Sekalipun di satu sisi, ia juga merasakan sakit luar biasa karena sikap dingin Adam. Selepas cuci piring bersama, sepasang pengantin baru itu memasuki kamar. Kamar mereka berada di dekat ruang keluarga. Bisa dibilang kamar mereka adalah kamar utama di rumah ini. Karena diantara banyaknya kamar, hanya kamar itu yang memiliki jendela menghadap ke arah taman. Di kamar itu juga adalah satu-satunya kamar yang memiliki kamar mandi di dalam. Jujur, Ara suka sekali dengan nuansa kamar itu. Vibesnya seperti kamar-kamar jaman dulu. Yang perabotannya didominasi terbuat dari kayu. Ara tebak semua perabotan di sini berasal dari pabrik keluarga Adam. Dari pada rumah dengan gaya minimalis seperti yang tren saat ini, Ara memang lebih suka rumah bernuansa Jawa dengan vibes rumah tua seperti rumah ini. Ia merasa seperti benar-benar ada di jogja. Masuk ke dalam kamar, Adam langsung mandi. Jantung Ara berdebar, pikirannya melayang menerka apa yang akan mereka lakukan selanjutnya. Kata banyak orang, setelah menikah ada satu malam yang paling dinantikan. Yaitu malam pertama. Akankah ini menjadi malam pertamanya dengan adam? Pipi Ara merona membayangkan hal itu akan terjadi. Sembari menunggu Adam mandi, ara pun memainkan ponselnya. Berharap dengan begitu pikirannya bisa teralih. Namun sial. Di timeline twitternya ia malah menemukan sebuah cuitan tentang malam pertama. Ada sebuah thread yang menjelaskan apa saja yang harus disiapkan pengantin baru ketika malam pertama. Dengan rasa penasaran yang memenuhi pikirannya, Ara pun membuka thread itu. Ara tidak membaca dengan serius, hanya membaca cepat sembari menebak point-point yang ingin disampaikan. Kemudian Ara menyimpulkan jika yang harus disiapkan adalah mental. Karena di malam pertama ini, merupakan pengalaman yang akan pertama kali pasangan rasakan. Ada pula tips bagi pengantin untuk berdandan dulu sebelum melakukan ‘itu’. seperti mandi, memakai baju lingerings untuk wanita dan menyemprotkan parfum agar wangi. Tentua saja Ara tidak mempunyai baju lingerings—dia akan belanja baju itu besok, hari ini dia akan memakai baju terusan yang merupakan baju terseksi yang ia punya. Kemudian ia akan memakai lulur ketika mandi, dan menyemprotkan parfum beraroma bayi kesukaannya. Aroma segar dan wangi tercium ketika Adam keluar dari kamar mandi. Membuat jantung Ara berdebar sangat kencang. apalagi melihat tubuh bagian atas adam yang tidak tertutupi handuk dengan sempurna, memperlihatkan perut kencang adam dan ingin sekali Ara memeluk perut itu. astaghfirullah..kenapa Ara mendadak jadi begini? Kenapa pikirannya mendadak kotor? Ara sontak menggelengkan kepala dan mengucapkan istighfar berulang kali. Ketika Adam sibuk memilih baju, Ara masuk ke dalam mandi. Sekarang waktunya beraksi agar bisa memikat adam jatuh pada pesonanya seusai mandi. Seperti dia yang terperangkat aroma harum dari tubuh Adam. Laki-laki itu mudah ditaklukan dengan tubuh perempuan. Setidaknya itu yang Ara tau, sebab itu ia berencana menggoda adam dengan tubuhnya. Ia ingin membuat suasana diantara dirinya dengan Adam tidak ‘dingin’. Ia ingin merasakan kehangatan bersama Adam. Untuk melancarkan rencananya, Ara pun sengaja keluar kamar mandi hanya dengan handuk yang melingkari tubuhnya. Tanpa menggunakan apapun, dan jujur sebenarnya ini membuat Ara malu. Karena sebelumnya ia tak pernah memperlihatkan tubuhnya pada siapapun. tapi Adam suaminya kan? dan dia tentunya memiliki hak untuk melihat apa yang tidak akan ia perlihatkan kepada orang lain. Handuk itu tidak panjang, pendek sekali diatas lutut. Membuat kaki jenjang Ara terlihat sempurna. Bagian atas pun tidak Ara tutupi dengan erat, sengaja ia perlihatkan sedikit yang entah Adam akan melihatnya atau tidak. rambut Ara basah, dan itu membuat ia terlihat menggairahkan. Adam yang tadinya sibuk dengan buku di hadapannya pun melirik ke arah Ara ketika istrinya itu keluar kamar mandi. Awalnya Adam hanya berniat melirik sebentar, tapi matanya malah tak bisa ia kendalikan. Terlalu terpaku pada tubuh mulus Ara. “Maaf mas, ara kebiasaan ganti baju di kamar. jadi lupa nggak bawa baju ganti.” Kata Ara seusai sibuk di depan lemari. Adam hanya mengangguk, dan mengalihkan matanya dengan cepat. karena baru saja ia melihat yang tak seharusnya ia lihat. Tiba-tiba tubuhnya jadi tegang. Bahkan sampai Ara keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju terusan ketat, tubuh Adam tidak bisa tenang. Semakin meronta ingin menyentuh setiap inci tubuh perempuan yang kini duduk di sebelahnya. Mereka duduk di atas kasur yang cukup luas. jarak mereka cukup dekat, karena dengan jarak itu mereka bisa mencium aroma tubuh masing-masing. membuat gairah dalam diri mereka berdua bergejolak. Ara melirik Adam yang sejak tadi tampak tak fokus pada buku yang ia baca. Tampaknya rencananya berhasil. “Mas,” ujar Ara dengan suara lembut, tubuhnya ia dekatkan pada Adam. sampai bahu mereka bersentuhan. Dan itu sukses membuat jantung Ara berdetak semakin cepat. Ara sebenarnya takut melakukan ini, tapi ia yakin cara ini akan berhasil. Ia mungkin tidak secantik artis di luar sana, atau tidak sesensual pesona Ariel tatum, tapi Ara yakin ia memiliki pesona sendiri sekarang. dan pesona itu pasti akan sulit Adam abaikan. Adam menatap Ara. Dalam, lurus, dan...hangat. ini pertama kalinya Adam menatap ara dengan tatapan itu. membuat Ara berteriak kencang di dalam hatinya! astaga... Ara tidak tahan!! Dengan gerakan cepat, Ara mendekatkan dirinya pada Adam. menyatukan bibir mereka sebentar. Karena setelah itu Ara mengambil jarak jauh, karena malu. Ah..harusnya ia bisa sabar. Kenapa ia yang memulainya lebih dulu?—Kata Ara pada dirinya sendiri. Ketika Ara sibuk malu, Adam menarik tubuh Ara semakin mendekat. Membuat Ara membulatkan mata sempurna karena terkejut. Adam merengkuh Ara dalam pelukannya. Kemudian dengan cepat posisi mereka kini sudah tertidur. Adam berada di atas Ara. Mata mereka saling tertaut. Lama, tanpa sebuah percakapan. Di posisi seperti itu, Ara yakin Adam bisa mendengar suara detak jantungnya yang sudah rusuh seperti pasar. Dengan lembut, bibir Adam jatuh pada permukaan bibir Ara. Pertama hanya saling menempel, hingga kemudian, saling menyesap dan merasakan. Semakin lama ciuman itu, semakin b*******h. Adam tidak bisa menguasai dirinya. tangannya turut adil dengan mengusap bagian tubuh belakang Ara. Menciptakan lenguhan dari mulut perempuan itu. Hingga kemudian, segalanya berhenti. Adam melepas ciumannya, menjauhkan dirinya dari tubuh Ara dan turun dari ranjang. Semuanya terjadi begitu cepat, membuat Ara masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. “Mas kenapa?” tanya Ara sembari beranjak dari tidur. Menatap Adam yang terlihat bingung. Perasaan berbunga-bunga itu hilang begitu saja. entah kenapa ada perasaan tak diinginkan muncul dalam diri Ara. Apalagi melihat Adam yang sepertinya enggan menatapnya. “Mas..” ara mencoba mendekat. Meraih tangan Adam namun laki-laki itu menjauh. Semakin menjauh seolah tak ingin disentuh. Ada apa ini? bukankah tadi mereka baru saja berciuman dan saling menikmati hasrat masin-masing? kenapa semuanya terasa sangat jauh? “Maaf ra, aku gabisa.” Kata Adam sembari meraih jaket di dalam lemari. “Mas mau kemana?” “Tiba-tiba aku ingat, ada kerjaan penting di pabrik. Aku pergi dulu.” sosok Adam hilang di pintu kamar. meninggalkan Ara yang kini menjatuhkan drinya di atas lantai kamar yang terasa dingin. Ada apa dengan Adam? apa dia baru saja tak ingin melakukan hubungan intim dengan Ara? Atau dia benar-benar ada urusan penting di pabrik? Ara memaksa tubuhnya untuk berjalan ke arah kasur. karena lantai yang dingin itu semakin melukai hatinya. mulai saat ini, dia tidak suka dingin. Ara membawa tubuhnya ke atas ranjang kamar dan membenamkan wajanya pada bantal yang bewarna putih. Air matanya mengalir deras. tampaknya esok, warna bantalnya tidak lagi memiliki putih yang sama. bantal itu akan menjadi saksi bisu, sakit hatinya Ara atas perlakuan Adam malam itu. sekalipun dirinya berulang kali membohongi dirinya untuk percaya pada Adam jika dia ada urusan penting di pabrik, air matanya tidak bisa berhenti. TBC.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD