Bab 18

1082 Words
Break my heart again. ---------- BUNDA menyuruh Ara mampir ke rumah Bunda setelah pulang dari kafe. Ara ingin menolak, tapi dia tak memiliki alasan yang tepat. Alhasil, ia menyanggupi permintaan Bunda. Sekalipun setelah itu Ara pusing memikirkan keberadaan Suaminya. Bunda pasti akan tanya dimana Mas Adam kan? Dan Ara tidak mau membohongi Bunda lagi. Di lain sisi, ponsel Adam tidak aktif. Padahal beberapa menit yang lalu masih menunjukkan tanda berdering ketika Ara mencoba menghubunginya. Apa Adam sengaja mematikan ponselnya karena tak mau diganggu Ara? Sungguh Ara tak paham apa yang dilakukan Adam. Kenapa dia seolah menghindarinya? Tak membalas pesan dari Ara, tak mengangkat telepon Ara dan yang jelas Adam telah membohongi Ara. Apa ini kepribadian Adam sebenarnya? Apa suami yang baik akan membiarkan istrinya kebingungan seperti ini? Ara menghirup udara panjang. Menikmati setiap udara yang masuk ke dalam hidungnya dan mengeluarkan perlahan zat karbon dioksida dari mulut. Seseorang berkata jika kita bernafas dengan pelan itu bisa meringankan beban di d**a. Dan itu berhasil, sesak yang tadinya terasa mengganjal kini sedikit berkurang. Lebih baik Ara fokus pada apa yang ia lakukan sekarang. Menghitung jumlah stok logistik di gudang, karena besok dia dan Citra akan pergi ke pasar untuk membeli bahan masakan. --------- Rumah keluarga Baskara itu sangat asri. Memiliki pekarangan yang dipenuhi banyak pohon, tanaman hias yang berjejer rapi dan satu kolam ikan yang berukuran lumayan besar dengan air mancur di tengahny. Ara memasuki pekarangan itu dengan perasaan campur aduk. Ada rasa senang karena Bunda ingin menemuinya, dan juga takut jika mengingat ia masih tak tau dimana Adam sekarang. Baru saja ia mencoba menghubungi Adam lagi sebelum turun dari mobil, tapi lagi-lagi tak ada jawaban. Ponsel Adam masih tak aktif. Ara berniat jujur pada Bunda, jika Bunda bertanya tentang Adam. Ia akan mencurahkan isi hatinya selama dua hari ini pada mertuanya. Siapa tau Bunda bisa membantu. Masa bodoh, jika nanti Adam akan dimarahi Bunda. Yang Ara pikirkan sekarang, apa yang dilakukan Adam adalah tidak benar. Tidak seharusnya Adam membohonginya dan mengabaikannya. Untuk urusan semalam, Ara memaafkan Adam. Barang kali Adam memang belum siap dan salah Ara sendiri yang terlalu nafsu. Ah... Ara mengetuk pintu yang dipenuhi dengan pahatan-pahatan cantik, hingga terbuka dan menampakkan wanita tua yang tadi pagi ia jumpahi di rumah Adam. Bi Mirna. "Masuk Mbak Ara." Kata Bi Mirna dengan senyum merekah. "Kok Bibi di sini?" Tanya Ara bingung. "Ya memang harus di sini Mbak, aneh kalau saya terus-terusan di rumah seleman. Kemarin saya memang cuma ditugaskan Ibuk buat bantu Mba Ara pindahan dan bersihin rumah yang uda lama nggak ditinggali." Ara mengangguk mengerti, dan mengikuti Bi Mirna yang mengajaknya masuk ke dalam rumah. Ara kira Bi Mirna akan tinggal bersama dengan Adam. Ternyata...tidak ya? Ah, entah kenapa ada rasa takut menghinggapi hati Ara. Ara takut sendirian di rumah itu. "Loh Ndukkk sudah datangg? Ya Allah...tak kira kamu dateng sorean." Bunda menyambut kedatangan Ara dengan pelukan hangat. Ara tersenyum senang. "Bunda masak apaa?" Tanya Ara melihat meja dapur yang banyak dipenuhi bahan makanan. "Masak soto khas buatan Bunda. Kamu ga boleh bantu." Kata Bunda tegas. Ara tertawa kecil. Perkataan Bunda seolah tau jika Ara akan menawarkan diri membantunya. "Kamu mending ke kamar Adam sana, mandi, istirahat bentar, entar kalau sotonya uda jadi Bunda panggil." "Eh—" "Uda sana, kamu tau kan kamar Adam yang mana?" Ara mengangguk, kemudian menuruti perintah Bunda. Setidaknya ia bisa sedikit bernafas lega karena Bunda tak bertanya tentang Adam. Semoga sampai nanti Bunda tak bertanya, agar Ara bisa menikmati waktu dengan Bunda. Di depan kamar Adam, Ara tidak langsung masuk. Perempuan itu tampak ragu, bolehkah dia masuk ke kamar ini tanpa seizin Adam? Tapi Bunda sudah memberi izin kan? Tetap saja, dia tak dapat izin dari Adam. Tapi kan...dia istri Adam? Ah... ara mencoba masa bodoh. Toh Adam tak ada di sini dan entah ada dimana! Jujur Ara sekarang kesal pada suaminya. Dengan perasaan jengkel, Ara membuka pintu kamar itu. Membuat seseorang yang ada di dalam kamar terperanjat kaget. Sontak berdiri dari posisinya yang sejak tadi bersandar pada kepala ranjang. Mengakibatkan buku yang ia baca jatuh ke lantai, menimbulkan suara yang membuat Ara sama terkejutnya. "Mas Adam?" Ya...orang yang dicari Ara sejak tadi ada di hadapannya. Dengan ekspresi sama terkejutnya seperti Ara. "Mas kok di sini?" Ara mendekat kemudian menutup pintu kamar. Menatap Adam dengan tatapan bingung. "Iya, Bunda nyuruh mampir." "Oh," Ara mengangguk mengerti. "Kamu? Kenapa di sini?" "Sama, Bunda juga nyuruh aku buat dateng." Kini gantian Adam yang mengangguk mengerti. Ia mengambil duduk di sisi ranjang. "Mas beneran habis dari Pabrik?" Tanya ara takut. Ia menatap Adam intens, membuat Ara tau apa yang terbaca dari raut wajah laki-laki itu. Seperti raut wajah maling yang takut ketauan. "Kenapa?" Adam malah balik tanya. "Jujur mas, aku gamau dibohongi." Kata Ara tegas. "Iya." "Iya apa?" "Iya aku bohong." "Kenapa?" "Aku nggak mau." "Nggak mau?" "Nggak mau di rumah sama kamu." Hati Ara seperti dihancurkan lagi. Padahal hari ini hati itu baru saja Ara coba sembuhkan, tapi lagi..Adam menghancurkannya. "Kalau gitu aku pulang ke rumahku sendiri." "Ha? Kenapa?" "Katanya mas nggak mau serumah sama aku." "Tapi nggak gitu maksud aku ra.." "Mas, jujur aku kecewa sama kamu. Aku kira kamu akan menjadi suami yang baik. Tapi apa? Kita baru dua hari menikah tapi kamu sudah bohong!" "Ra..nggak gitu.." "Mas juga mengabaikan aku kan? Kenapa mass? Apa aku salah? Kenapa aku merasa pernikahan kita tidak seperti pernikahan lain yang dipenuhi kasih sayang dan bahagiaa?" "Kamu baru sadar?" Ha? Ara tercengang dengan ucapan Adam. Air mata yang sejak tadi ia tahan, kini jatuh begitu saja membasahi pipinya. "Mas..." Nafas Ara tersendat. Air mata itu jatuh semakin deras. "Pernikahan kita dilakukan tiba-tiba ra, tentu saja pernikahan kita tidak sama dengan pernikahan orang lain." "..." Ara masih menangis. Tangannya kini sibuk menghapus air matanya. Memalukan! Bisa-bisanya dia menangis di hadapan Adam. "Aku mau pulang," Ara berbalik. Entah kemana maksudnya pulang itu, yang jelas ucapan Ara itu membuat Adam panik. Ia sontak meraih tangan Ara dan menahannya. "Ra..aku minta maaf." Ara tidak menyaut, hanya menangis dan mencoba melepaskan cengkraman tangan Adam yang ada di pergelangan tangan kirinya. Tapi tak bisa, cengkraman Adam terlalu kuat untuk ia lawan. "Sakit mas." Ujar Ara mengaduh. Adam sontak menarik Ara mendekat ke arahnya, membawa Ara ke dalam pelukan. Memeluk erat dengan harapan Ara bisa menghentikan tangis. Bukannya berhenti, tangis Ara semakin menjadi ketika berada di pelukan Adam. "Maaf..maafin aku." Dan hanya kata maaf yang terucap dari mulut Adam. Karena sejatinya dia memang bersalah dalam membawa Ara ke dalam pernikahan yang tidak ia harapkan ini. Tbc. Xx, muffnr
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD