Zara POV
"Life goes on.."
-------------------
Malam ini aku dan Mas Adam tidur di rumah Bunda. Makan malam bersama Bunda berjalan lancar, sekalipun dadaku masih terasa sesak karena Mas Adam. Meja makan itu terasa hangat. Semua karena keramahan keluarga Mas Adam. Adik-adiknya yang baru aku kenal kemarin dan ada Bu dhe Mas Adam yang sejak Bapak meninggal tinggal di rumah ini untuk menemani Bunda. Sebenarnya berada di tengah-tengah keluarga Baskara adalah hal yang sempurna. Semua orang di keluarga ini penuh kasih sayang dan ramah padaku, hanya saja anak pertama keluarga Baskara yang merupakan suamiku itu menyebalkan sekali. Setelah insiden marah dan menangis di pelukannya aku masih enggan melihat wajahnya. Sekalipun saat ini kami berada di kamar yang sama dan hanya berdua.
"Ara, mau mandi dulu?" Tanya mas Adam.
Aku menggeleng, sembari menghembuskan nafas kesal. Teringat kejadian kemarin malam saat aku semangat mandi dan membayangkan malam pertama. Tapi ternyata... Ah! Aku tidak mau mengingatnya lagi! Hatiku masih sakit.
"Mas mandi dulu," Katanya lagi. Dan selang beberapa menit, kudengar pintu kamar mandi tertutup.
Pintar sekali Adam. Di saat aku tidak marah, dia bersikap cuek seolah aku tak ada. Di saat aku marah seperti ini, dia mengajakku bicara lebih dulu. Bahkan mandi saja dia bilang padaku. Kemarin-kemarin kenapa ga gituu bosss? Baru punya mulut ya?
Stresss, aku merasa stress sekarang! Pernikahan yang ku impikan kenapa tidak berjalan lancar? Apa aku menikahi orang yang salah? Tapi ini Mas Adam loh. Seseorang yang kusukai sejak dulu. Tetangga sebelah rumah yang sejak aku kecil sudah mencuri perhatianku. Yang tanpaku ketahui memiliki sifat b******k seperti ini.
Memang betul ya, kita tidak boleh menilai orang hanya dengan latar belakangnya. Mas Adam yang uda mondok bertahun-tahun aja nggak jamin bisa jadi suami yang baik. Atau ini terlalu awal untuk mengecap Mas Adam bukan suami yang baik mengingat aku dan dia baru menikah tiga hari yang lalu? Ahhh, aku tak tau. Kepalaku rasanya ingin pecah memikirkan fakta yang baru kuketahui hari ini.
Satu, Mas Adam membohongiku. Dua, Mas Adam meninggalkan rumah semalam karena tak ingin serumah denganku. Ketiga, Mas Adam tidak menghargaiku sebagai istrinya. Tiga fakta ini yang membuatku merasa terganggu dan kecewa pada Mas Adam.
Ketika aku hanya berguling ke sana kemari di atas kasur, dengan mata terpejam dan pikiran yang jalan kemana-mana, ku dengar sisi lain dari kasur berbunyi. Ada seseorang yang merebahkan tubuhnya di sampingku. Yang sudah pasti kutebak itu Mas Adam.
Sontak saja aku tidak berani berkutik, mataku pun tidak berani membuka. Karena bisa dipastikan, sosok pertama kali yang kutatap ketika membuka mata adalah Mas Adam.
"Ra," Suaranya pelan, tapi terdengar seperti bom di telingaku.
Astaga..benar-benar ya Adam ini?? Kenapa dia memanggil namakuuu???? Apa Adam yang dua bulan aku kenal kini kembali lagii??????
Aku tidak berani menyaut, tetap berada di posisi semula dan pura-pura tidur.
"Aku tau kamu belum tidur Ra," katanya. Bisa kurasakan hembusan nafasnya di tubuhku. Apa posisi kami sekarang sangat dekat???
Aku semakin takut untuk membuka mata. Takut ketika membuka mata dan jantungku tidak baik-baik saja.
"Ra, maafin aku."
Andai aku bisa menghilangkan kata di bumi ini, aku ingin menghilangkan kata Maaf!
Kesal sekali rasanya mendengar kata itu dari mulut Adam. Sebelumnya aku kesal karena tidak tau kesalahan Mas Adam apa, sampai-sampai harus minta maaf. Kali ini aku kesal karena aku tau sakit hatiku tidak hilang hanya dengan kata itu.
"Ra, maaf kalau dua hari ini buat kamu nggak nyaman."
Nyadar juga dia.
"Maaf kalau sikapku uda nyakitin kamu."
Suasana hatiku mendadak berubah. Mas Adam kamu kenapa sih? Kamu kenapa pekek minta maaf segala?? Aku lemah, getaran suara Mas Adam yang terdengar menyedihkan itu seolah menggoyahkan hatiku.
"Dua hari ini aku uda kayak orang linglung Ra, semuanya masih seperti mimpi. Kehilangan Bapak adalah satu fakta yang sampai saat ini masih sulit kuterima. Aku masi ga percaya bapak nggak ada di dunia ini lagi.."
Aku sontak membuka mataku. Kulihat Mas Adam sudah meneteskan air matanya. Jarak kami yang begitu dekat, membuatku mudah untuk mengusap pipinya.
"Mas.." Entah kemana perginya rasa kesal ku. Yang ada hanya rasa kasihan yang menjalar dalam hati. Melihat Mas Adam membuatku tak tega.
"Maafin aku raa," Ia menatapku dalam. Kulihat ketulusan di matanya.
Aku pun mengangguk dan membawanya ke dalam pelukan.
"Maafin Ara juga, mas." Kataku sembari mengeratkan pelukan diantara kami.
Kuhirup dalam dalam aroma tubuh Mas Adam yang membuat hatiku tenang.
Tampaknya aku yang salah faham. Mas Adam tak seburuk yang kukira. Atau selama ini aku yang kurang pengertian??
"Mas besok mau makan apa? Ara masikin!" Kataku sembari mengelus pipinya dan menghapus jejak sisa air mata yang ada di wajahnya.
"Nasi cumi bakar kamu kemarin enak banget Ra,"
"Beneran enak? Bukan enak yang karena laper?"
"Enggak, beneran enak kok."
"Yauda besok Ara masakin itu."
"Makasih Ra.."
"Sama-sama Mas, maafin Ara yang uda mikir jahat tentang Mas Adam."
"Gpp."
Mata kami saling menatap, dan kami saling tersenyum. Astaga..Mas Adam ganteng banget malam ini..rasanya aku ingin mencubit pipinya. Tatapanku jatuh pada bibir Mas Adam. Teringat semalam bibir itu mencium setiap inci wajahku. Ah—
Aku sontak mengalihkan tatapanku. Jantungku berdebar sangat kencang membayangkan kegiatan kami semalam. Dan aku semakin dibuat gila karena tiba-tiba saja bibirku menghangat. Mas Adam menciumku lembut, lama hingga kami berdua merasakan desakan gairah yang tak bisa ditahan lagi.
Setelah puas mencium bibirku, mas Adam menatapku dalam.
"Pelan-pelan ya Ra, aku masih butuh waktu." Katanya sembari mengusap pipiku.
Ya..aku akan menunggu sampai Mas Adam siap.
"Ya mas."
"Aku masih butuh waktu untuk healing kematian Bapak."
Aku mengangguk, mencoba mengerti apa yang Mas Adam rasakan saat ini. Pasti berat. Mungkin dia ingin menyembuhkan luka kepergian Bapak sendirian.
"Ya Mas."
Dan malam itu, kami tertidur saling berpelukan. Melepaskan segala masalah yang ada diantara kita.
Aku ingin menarik perkataanku yang bilang Mas Adam bukan suami yang baik. Mungkin kemarin hanya trial yang tidak tepat. Aku ingin memberi Mas Adam kesempatan. Apa yang terjadi diantara kami, hingga titik ini adalah karena semesta. Jadi bagaimana pun ke depannya aku hanya bisa berpasrah. Untuk sekarang aku ingin menikmati setiap waktu menjadi istri Mas Adam.
Tbc,
Xx, muffnr
Apakah ada yg baca cerita ini? Yg baca coba komen dong:(
Terima kasih <3