Bab 29

995 Words
Bab 29: marah? Mas Adam tidak mengatakan apapun sejak mobil yang kami tumpangi berada di area toko kue sampai mobil itu kini sudah sampai di depan rumah. Aku pun tidak berani memulai pembicaraan karena kurasakan aura kemarahan Mas Adam yang lebih kejam sekalipun hanya diam. Kulirik wajahnya yang kini terlihat menakutkan dan aku sangat terkejut ketika beberapa detik kemudian kegiatan melirikku itu ketahuan. Segera kupalingkan wajahku berlainan arah agar bisa menghindari lirikan mautnya itu. Jantungku sejak tadi sudah berdegub sangat kencang. Bak sebuah bom yang siap meledak kapan saja. Aku takut..padahal aku tau Mas Adam tak akan membunuhku, tapi tetap saja aku takut. Mungkin aku takut karena aku sadar melakukan kesalahan. Lagian Mas Adam ini marah kenapa si? Apa harus semarah ini hanya gara-gara aku tidak menjawab teleponnya? Apa ia harus bereaksi sampai datang ke toko kue ku dan menjemputku seperti ini? Bukankah itu terdengar terlalu lebay? Harusnya ia sabar saja menunggu di rumah, aku pasti pulang dan menjelaskan semua kan? Ah..entahlah, kepalaku semakin pening ketika memikirkannya. Mas Adam sejak awal memang sulit dimengerti namun tak pernah kusangka akan sesulit ini. "Kamu ngapain? Nggak turun?" Ujar Mas Adam yang ternyata uda turun dari mobil. Aku pun segera turun dan menutup pintu mobil. Kemudian mengekorinya dari belakang untuk masuk ke dalam rumah. Jujur mending Mas Adam marah aja deh sekarang. Jangan diem. Diem malah bikin aku overthinking. Tapi kalau diinget lagi, Mas Adam kalau marah emang diem ya? Kemarin waktu di kamar dia juga dia marahnya diem kan? Duh, nyeremin banget. "Kamu mandi dulu," Suruhnya ketika kami sampai di kamar. Aku yang tidak ingin menciptakan keributan lain diantara kami pun menurut, kemudian kulihat dia duduk di sofa kamar sembari minum satu botol air. Kalau boleh jujur aku kagum pada pengendalian emosinya. Jika aku marah, pasti akan meledak-ledak seperti anak kecil. Tidak bisa hanya diam dan memendamnya sendiri seperti yang Mas Adam lakukan. Usai mandi tak kutemukan Mas Adam di kamar, aku pikir Mas Adam sedang menonton TV atau bermain ponsel di ruang tengah. Namun ketika aku sudah berganti baju dan keluar kamar, aku dapati ia tengah sibuk di dapur. Masih dengan baju yang ia gunakan tadi pagi, dia terlihat sibuk di balik kompor. Entah apa yang ia buat. Aku memasuki dapur dan berhasil membuatnya menoleh. Ketika mata kami bertemu, aku coba tersenyum semanis mungkin. Namun dia alihkan pandangannya dari senyumku begitu saja. "Mas buat apa?" Aku mendekat ke arahnya. Melirik isi panci yang ada di atas kompor. Itu sebuah mie instan. "Duduk aja Ra," Perintahnya. Karena takut menganggu dan memperburuk keadaan, aku menurut. Duduk di meja makan sembari menatap punggung lebarnya. Tiba-tiba hatiku menjadi haru. Perasaanku selalu campur aduk ketika menyadari sosok Mas Adam adalah suamiku. Hatiku selalu merasa penuh, dan masih tak menyangka. Aku seperti mendapatkan anugrah yang luar biasa dari Tuhan. Mas, bolehkah kita seperti ini selamanya? Mas, bisakah kita seperti ini selamanya? Mas, berjanjilah kita akan seperti ini selamanya.—bisik hatiku. Air mataku tiba-tiba jatuh, kuhapus dengan cepat takut Mas Adam melihat. Akan bingung menjawab jika Mas Adam bertanya kenapa aku menangis? Tidak mungkin kujawab sejujurnya, karena aku sangat bersyukur bisa menikah dengan Mas. Ah, pasti nanti besar kepalanya. "Mas buat apa sih?" Tanyaku sembari menantinya di meja makan dengan tak sabar. Oke aku memang tau dia merebus mie instan, tapi kenapa tidak jujur saja waktu aku tanya tadi? Kenapa malah menyuruhku duduk? "Sabarr, habis ini selesai" Sautnya yang tentunya tak membuat rasa penasaran ku puas. Kulihat dia mulai menuangkan sesuatu di piring, mengaduk-aduknya beberapa kali kemudian berbalik arah dan menuju ke meja makan. Yang dia buat memang benar hanya mie instan tapi- "Makan Ra, kamu pasti capek hari ini." Katanya. Astaga...so sweet sekali suamiku!! Dia membuat mi ini untukku? Oke ini mungkin terdengar biasa saja bagi beberapa orang. Tapi ini tentu saja tidak biasa bagiku. Ini luar biasa!! Sangat luar biasaaa. Tolong kalian harus mewajarkan ini. Bagiku menikah dengan Mas Adam itu seperti mimpi, ketika aku benar-benar menikah dengannya dan dia berperilaku baik padaku, tentu saja bagiku itu sangat luar biasa! Tangisku tidak bisa kusembunyikan. Masa bodoh jika nanti Mas Adam bertanya kenapa, dan jawabanku terdengar sangat memalukan! Yang jelas aku sangat terharu. "Loh," Mas Adam tentu panik melihatku yang bukannya makan mie buatannya tapi malah menangis. "Ra? Kenapa to? Kenapa nangis?" Panik bukan main. Dari raut wajahnya aku bisa melihatnya. Mungkin sebelum ini dia belum pernah melihat perempuan nangis? Tapi kan aku uda pernah nangis didepannya waktu itu. Iya yang waktu dia bohong terus ketahuan. "Mas Adam yang kenapa," Kataku sembari mencoba menghapus air mata yang tampaknya sia-siaa. Karena semakin kuhapus ia semakin mengalir deras. "Mas Adam sebenernya marah apa nggak sihh? Kalau Mas Adam marah lebih baik Mas Adam marahin aku sekarang! Kenapa malah Mas Adam buatin aku mie? Akuu terharu!!" "Ya Allah Ra, ini cuma mie kenapa kamu sampai nangiis?" Katanya yang masih heran. Dia nggak paham pointnya. Kenapa dia jadi tiba-tiba bodoh si? "Bukan mi Mas pointnya!" "Terus apaa? Kamu nangisin apa?" "Nangisin Mas Adam yang baik banget," Ujarku dengan menunduk malu. Asem, pipiku pasti kini bersemu merah. Aku bahkan tak berani menatap ke depan. Entah Mas Adam kini bereaksi seperti apa. Tiba-tiba saja kurasakan tubuhku berada di pelukannya. "Uda..jangan nangiss.." Ia mengelus punggungku. Sial, bukannya berhenti. Air mataku malah semakin deras! Apalagi ketika merasakan halusnya tangan Mas Adam mengelus punggungku dengan beraturan. Menimbulkan ketenangan yang luar biasa menjalar ke dalam hati. Aku ingin dipeluk seperti ini selamanya!!!!! Selamanyaaa!! Wkwk tapi entar kehabisan nafas dong kalau pelukan terus. "Maaf kalau marah mas bikin kamu takut, jujur mas juga ga mau marahin kamu, makanya mas selalu diem kan. Tapi jangan ngilangan ya Ra, mas bener-bener ga suka kalau kamu nggak ada kabar." "Iya.." "Janji?" "Iya mas." "Yaudaa makan mienya. Mas denger perut kamu bunyi tadi waktu di mobil. Makanya mas buatin kamu mie." Aku mengangguk malu. Dan dengan berat kulepas pelukan kami. "Mas mandi dulu.." Kemudian kulihat tubuh mas Adam menghilang dibalik belokan menuju lorong kamar. Ah, rasa-rasanya aku ingin mas Adam mandi saja. Astaghfirullah ra, ayo makan!!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD