Bab 30
"Ra, jangan lupa cek HP ya!" Itu adalah kalimat yang Mas Adam selalu katakan jika berpisah denganku.
Aku senang dia mengatakan itu. Artinya dia tidak ingin kuabaikan.
Biasanya perasaan tidak suka diabaikan akan muncul ketika kita menganggap pengakuan orang itu penting dalam hidup kita. Sehingga ketika orang itu mengabaikan kita, akan ada rasa kecewa dan membuat marah. Mungkin itu juga jadi alasan kenapa Mas Adam suka marah-sekalipun marahnya ga beneran- kalau aku mengabaikan teleponnya.
Hari ini kalimat itu kudengar ketika dia berpamitan untuk menuju Jawa Timur. Dia dan sahabatnya empat pilar, janjian sowan ke pondok mereka dulu. Sebenarnya ini bukan rencana dadakan. Bisa dikatakan ini sudah direncanakan sejak meninggalnya Bapak Mas Adam. Rencananya sih, mereka akan pergi satu minggu. Tapi mungkin bisa lebih lama atau lebih cepat, sesuai suasana hati mereka katanya.
Aku yang dilarang ikut pun hanya bisa memanyunkan bibir ketika Mas Adam tidak bisa menjawab dengan pasti saat kutanya kapan pulang. Tentu saja satu minggu tanpa Mas Adam setelah terbiasa setiap hari bersamanya itu terasa sangatttt lamaaaaaaa...apalagi dua minggu!
Sebab itu kemarin aku memaksanya untuk segera pulang. Terlepas dari entah paksaan ku itu mempan atau tidak. Tampaknya sih mempaann karena kubujuk dia dengan masakan terenak yang pernah kubuat. Saat itu dia bahkan bilang, dia pasti akan merindukan masakanku. Sekalipun bukan aku yang akan ia rindukan, tetap saja aku senang.
Setelah mengantar Mas Adam ke bandara-ya dia pergi naik pesawat, katanya biar cepet dan malas nyetir- aku pun segera menuju mobilku. Aku akan pergi menemui Aulia. Karena hari ini aku sudah berjanji untuk bertemu dengan sahabat semata wayangku. Bukannya dia sahabat satu-satunya, hanya saja sahabatku yang lain sudah menikah dan sibuk semua. Hanya aulia yang masih jomblo dan selalu sedia kalau lagi kubutuhkan. Seperti hari ini, kubutuhkan untuk menemaniku sekedar nongkrong cantik agar tidak selalu sedih ditinggal Mas Adam pergi. Aku sengaja libur nggak kerja karena Mas Adam menyuruhku menemaninya ke bandara.
Karena Aulia lagi males nongkrong di luar, akhirnya aku dia suruh datang ke rumahnya. Dengan berat hati aku mensetujui. Kenapa beratt? Karena rumah Aulia itu jauhhh! Membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai ke sana. Tapi gpp deh, kalau diingat lagi uda lama ga ke sana.
Dengan perasaan senang karena akan bertemu dengan Aulia, aku menempuh jalan menuju rumahnya dengan bersenandung mengikuti suara penyanyi yang keluar dari radio mobilku. Hingga tak sadar aku sudah sampai di depan sebuah rumah besar dengan pagar hitam. Bangunan rumah itu bewarna putih, dan memiliki halaman yang sangat luas. Di halaman itu ada tiga mobil berjejer rapi. Orang tua Aulia memiliki banyak toserba di jogja, dan beberapa bisnis kuliner. Tak heran jika rumahnya bisa semewah itu.
Kalau diingat-ingat aku memang dikelilingi teman-teman yang berasal dari keluarga kelas atas. Aulia, Najwa, Alia dan beberapa temanku dari sekolah yang sekarang sudah lost contact.
Ketika menyadari ada sebuah mobil di halaman majikkannya, satpam rumah Aulia pun menghampiriku. Aku membuka kaca dan melempar senyum manis. Dengan harapan pak satpamnya masih menginggatku karena aku sudah jarang ke rumah ini.
"Loh..e.." Pak satpam yang bernama Agus itu tengah terlihat berpikir. Tampaknya dia ingat wajahku, namun lupa namaku. Ia terlihat memikirkan nama yang cocok untuk wajahku. "Eh...mbak.."
"Ara Pak," Sautku.
Kemudian pak satpam yang berusia suda tua itu pun mengangguk senang. "Ah, iya! Mbak Ara!" Dengan gerakan yang tangkas, ia pun membukakan gerbang dan mempersilahkan ku untuk masuk. "Silahkan Mbak"
"Makasi Pak."
"Sama-sama."
Selepas memarkirkan mobil, aku segera menghubungi Aulia jika aku sudah di depan rumahnya. Ia pun mengangkat dan menyuruhku menunggu sebentar. Sembari menunggunya, aku menyusuri setiap sudut halaman rumahnya yang siang itu sangat sepi. Hanya ada suara gemericik air dari kolam ikan dan sesekali angin yang berhembus.
Pintu terbuka dan menampakkan Aulia dengan wajah sumringahnya. "Raa!!"
Aku memelukknya. "Huhu kangennn!" Kataku.
"Samaaaaa" Ia membalas pelukkan ku dengan erat. "Ayo masuk-masuk!"
Ini bukan pertama kalinya aku ke rumah Aulia. Sudah sering, tapi entah kenapa aku tetap merasa kagum setiap kali memasuki rumahnya. "Aul, Mama papa di rumah?"
"Nggak ada, mereka ke luar negeri Ra."
"Terus ada siapa di rumah?"
"Ada Kaka ama bininya tapi mereka lagi ngegym kayaknya."
"Kaka yang nomor satu?"
"Iyaa, mas veron."
Aku mengangguk mengerti. Aulia kini sudah mengajakku ke dalam kamarnya. Kamar Aulia itu luas, tapi yang paling kusuka dari kamarnya adalah jendela lebar yang menampakkan pemandangan belakang rumah. Setiba di sana, aku pun segera mendekat ke jendela lebar itu. Cukup menenangkan. Mungkin itu alasan orang tua Aulia membangun rumah di perkampungan. Agar bisa menikmati keindahan desa walaupun harus jauh dari keramaian kota.
"Minum apa Ra? Aku kemarin buat es blewa nih, mau?" Kulirik Aulia yang kini ada di depan sebuah kulkas kecil yang ada di kamarnya.
"Bolehhh" Sautku. Aku beranjak dari tempatku, kemudian menuju mejaa kecil yang diletakkan di atas sebuah karpet beludru. Meja itu berada di tengah-tengah kamar Aulia. Seolah memang g disediakan untuk tamu yang datang ke kamarnya.
"Gimana hidup? Finee?" Tanya Aulia sembari meletakkan minuman yang katanya buatannya itu di meja.
"Alhamdulillah"
"Seneng banget yaa"
"Alhamdulillah"
Aulia terkikik geli, "auramu uda jelasin semua sih."
"Banyak yang bilang aku keliatan bahagia banget selepas menikah."
"Ga salah." Satunya dengan tawa kecil yang menghiasi bibirnya.
Kami pun terlibat obrolan basa basi yang cukup lama. Membahas banyak hal yang tidak sempat kami tanyakan melalui chat. Aku sih yang lebih sering bertanya, karena aku kepo pada pacar barunya yang belum aku tau sama sekali. Ternyata pacar baru Aulia itu kliennya di bisnis, anak salah satu pengusaha kayak di jogja juga jadi apabila menikah pasti orang tua Aulia akan memberi lampu ijo. Mengingat selama ini, kisah percintaan Aulia harus kandas karena restu orang tua.
"Terus kamu gimana sama Mas Adam? Uda deket kan?" Tanya Aulia. Ia pun mulai mengalihkan topik pembicaraan padaku.
"Uda" Jawabku dengan bangga.
"Sedeket apa? Coba sinii hpmu!" Ucap Aulia dengan tangan menengadah. Kalian jangan heran ya, aku dan Aulia memang uda terbiasa seperti ini. Saling mengecek HP masing-masing dan sangat terbuka satu sama lain.
"Ha?? Kenapa chat kalian nggak kayak pengantin baru sih" Katanya setelah membaca ruang obrolanku dengan Mas Adam di w******p.
"Nggak kayak pengantin baru gimana?" Kataku bingung. Perasaan chatku dengan Mas Adam fine-fine aja deh. Bahkan akhir-akhir ini terasa lebih so sweet.
"Ya nggak ada kata sayang, emotikon lovelove atau cium gituu."
"Emang harus ada?"
"Ya nggak harus ada Araaa, cuman pengantin baru biasanya masih anget-angetnya. Jadi kalau dichat masih kayak orang pacaran. Lah kamu sama Mas Adam biasa aja ni chatnya. Bahkan Mas Adam jarang perhatian ama kamu. Dia kebanyakan tanya kamu lagi dimana, terus uda ga tanya apa-apa lagi."
"Ya kan aku sama dia ketemu juga tiap hari Aul, buat apa dia perhatian di chat?"
"Iya iya juga sih, berarti kalau di rumah dia perhatian?"
"Emang perhatian itu gimana sih? Nyuruh mandi, makan gitu kan?"
"Iya, kayak gitu lah yaa."
"Iya dia sering kok nyuruh-nyuruh gitu."
"Kalau ngomong sayang?"
"Ha?"
"Soalnya di chat kalian dia nggak pernah ngomong sayang. Kalau di rumah gimana?"
"...." Aku diam. Ini maksudnya ngomong sayang yang aku sayang kamu, atau aku cinta kamu kan? Ya ga pernah lahhh. "Kita nggak sejauh itu Ra."
"Lah, katanya uda deket?"
"Ya maksudnya sekarang aku ama dia uda ga canggung lagi gitu ra."
"Deketnya masih dalam kayak temen?" Tanya Aulia.
Aku mengangguk miris. Kalau diingat-ingat Mas Adam memang selama ini memperlakukan ku seperti temannya. Kami hampir tidak pernah kontak fisik. Jika tidur pun ya hanya sebelah-sebalahan biasa.
"Berarti kalian belum pernah ngelakuin malam pertama dong?"
Dengan hati yang mendadak sedih aku pun mengangguk. "Tapi Mas Adam so sweet, dia pernah masakin akuu, dia nggak pernah marah, dia paling sebel kalau aku nggak ada kabar."
"Tetep aja Ra, kalian kan suami istri. Aneh aja kalau nggak malam pertama."
"Katanya aku disuruh nunggu sampai dia siap."
"Aneh."