Bab 31

1229 Words
Bab 31: Minta izin ke Balii Sebuah nada dering terdengar nyaring ketika aku dan Aulia sibuk berbincang. Nada dering itu berupa sebuah lagu seorang penyanyi korea favoritku. Sehingga aku tau jika itu berasal dari ponsel milikku. Aku pun segera mencari ponsel yang ada di tas. Setelah menemukannya, kulihat nama najwa tertera di layar. Telepon dari Najwa. Aku menghernyit bingung. Namun segera ku geser ikon telepon hijau sehingga telepon kami tersambung. "Mbak," Suara Najwa sontak terdengar. "Kenapa waa?" kataku sembari duduk di posisi semula. Aulia yang melihatku menerima telepon pun kini beranjak dari duduknya dan entah pergi ke mana. "Mbak, belum bilang Ibunya Mbak?" Ujar Najwa. Yang sontak membuatku deg-degan. Apakah aku melupakan sesuatu? "Ha? Bilang apa Raa?" Jujur aku nggak tau kenapa aku harus bilang ke Ibu? Bilang apa? kenapa Najwa bertanya seperti itu? "Mbak, jangan bilang lupa..." Suara Najwa terdengar melemah. Tuhkan aku beneran lupa. Apa sih? Aku melupakan apa? apa ada yang terlewatkan? "Nikahan Mbak Rini." Suara Najwa terdengar biasa saja, namun mampu mengguncang duniaku seketika. MAMPUS. BISA-BISANYA AKU MELUPAKAN ITU. Aku pun jadi panik dan berdiri sembari berkecak pinggang. Aulia yang entah habis dari mana pun menatapku heran. Di tangannya ada sebuah piring berisikan jajanan pasar dengan beraneka ragam yang sama sekali tidak menarik minatku. Pikirku hanya fokus pada sebuah masalah besar yang hendak menyapa. "Mbak..uda ijin Mas Adam kan?" tanya Najwa dengan penuh harap. Jangankan ijin, ingat jika pernikahan Mbak Rini akan dilakukan saja aku tidak. Beberapa hari ini aku dibuat sibuk untuk membantu persiapan Mas Adam yang pergi sowan. Sehingga aku lupa dengan rencana sendiri. Lebih parahnya aku lupa meminta izin Mas Adam. "...belum Wa." Kataku dengan suara lemas. "Terus gimana mbak? Nggak jadi ikut?" Najwa tetap terdengar tenang. sepertinya dia bisa merasakan kepanikanku. "Bentar deh, mbak hubungi lagi nanti yaa.. Mbak mau telepon Mas Adam kalau gitu. Soalnya dianya nggak lagi di rumah." Kataku sembari mengumpulkan keberanian untuk mewujudkan apa yang aku katakan. Jujur meminta izin untuk datang ke pernikahan Mbak Rini yang akan diadakan di Bali itu menurutku sangat menyeramkan. Karena aku harus mengumpulkan keberanian terlebih dahulu. Aku takut Mas Adam akan melarangkuu. "Oke mbak, “ jawab Najwa. Aku pun mematikan sambungan telepon itu dengan nafas berat yang kuhempuskan dengan keras. Aulia sontak mendekatiku. Nampaknya dia sudah tau jika aku mengalami masalah. Mungkin di raut wajahku semua tergambar jelas. "Kenapa Mas Adam? Kamu mau ijin ke mana?" Tanyanya dengan raut wajah khawatir. "Huhuhu bodoooohhh, bisa-bisanya aku lupa nggak minta izin.” Aulia terlihat semakin bingung, “emang mau kemana sii?” “Huhu gimana ini auliaaaa, masak aku izininnya Cuma lewat telepon siih?” jujur aku nggak berharap jawaban dari aulia, aku hanya ingin mencurahkan kebingungan yang ada di kepalaku. Tapi tampaknya Aulia tidak mengerti itu. Dia kini terlihat kesal karena ucapanku yang tak kunjung jelas. “Iya kamu mau izin kemana Ara? Jawab duluu sebelum minta saran!” katanya dengan wajah garang. Mau tak mau aku pun menjelaskan duduk perkaranya. Padahal inginku dia mengerti tanpa kujelaskan. Wkwk nggak bisa ya? oke. “Oh jadi kamu ada undangan dari Mbak rini buat ke Bali, tapi kamu belum izin ke Adam. Gitu kan masalahnya?” kata Aulia setelah mendengarkan penjelasanku. Aku mengangguk lemah. “Aku harus gimana Liaa? Masak nggak dateng sihh? Ya gpp sih, toh aku nggak deket sama Mbak Rininya juga. Tapi masalahnya Najwanya itu hlo! Dia kayak berharap banget aku bisa dateng,” ujarku sembari memanyunkan bibir bawahku. “Yauda minta izin aja,” kata Aulia dengan entengnya. “Iya aku tauuu, tapi takutt.” “Takut kenapa sih?” “Takut nggak dibolehin.” “Terus kamu mau ngerasa bingung terus? kalau kamu nggak berani buat tanya ya kamu bakal gini..gini aja Raa. Kecuali kalau kamu berani pergi tanpa bilang ke dia.” “Heh! Ngawur, nggak berani aku.” “Yauda minta izin!” kata Aulia tegas. Oke sepertinya tidak ada jalan lain, betul kata Aulia. Mau nggak mau aku memang harus meminta izin ke Mas Adam. Kalau nggak gitu aku nggak pergi dan tetap dihinggapi perasaan resah dan bimbang seperti ini. Ketika aku hendak menelpon mas Adam, ponselku kembali berdering. Itu telepon dari Mas Adam. sungguh kebetulan sekali. “Assalamu’alaikum Mas, uda sampai ya?” kataku sembari melirik jarum jam di kamar Aulia yang sudah menujukkan pukul satu siang. “Wa’alaikumsalam, iya ini uda sampai di surabaya. Terus sekarang nunggu dijemput Dani.” “Oh, Alhamdulillah.” “Kamu di mana? jadi ke rumah Aulia?” tanyanya. “Iya jadi Mas, ini masih di rumah aulia.” Kataku. “Oke, jangan pulang malem.” “Iya, Mas.” Kataku singkat. Sebenarnya sejak tadi aku sibuk menyusun kata agar bisa mengucapkan kalimat meminta izin padanya. tapi aku tidak menemukan kata-kata yang tepat dan aku tau jika aku kelamaan mikir pasti aku akan melewatkan kesempatan ini. sebab itu kuucapkan saja langsung tanpa basa-basi. “Mas, Ara izin dateng ke nikahan Mbak Rini di bali ya?” hanya dengan satu tarikan nafas aku mengatakannya. Mas Adam masih diam, mungkin dia mencoba memahami perkataanku. Duh pasti dia bingung kenapa aku tiba-tiba bilang gitu. Harusnya aku kasih intro apa dulu kek...nyeritain Mbak rini itu siapa atau apalah. Tapi otakku sudah sangat buntu! “Apa Ra? Kamu mau apa?” katanya. Aku menghembuskan nafas panjang. Baiklah, aku akan mengatakannya dengan pelan. “Mas, aku diundang ke nikahan temenku dan pernikahannya diadain di Bali. Boleh nggak mas? Ibu juga diundang kok, jadi aku ke sananya sama iBuk.” “Kenapa sama Ibuk, ya sama Mas aja gpp. Mas mau nemenin.” Katanya yang tampaknya salah paham. Ah tidak, salahku juga yang tidak menjelaskan kapan acara pernikahannya. “Em...tapi masalahnya acaranya itu dua hari lagi Mas. Kan mas masih di kediri.” “....” Tidak kudengarkan jawaban dari Mas Adam dan itu membuatku semakin resah. Aku memejamkan mata erat sembari menerka kira-kira jawaban apa yang akan dibarikan oleh suamiku itu. Aulia di sampingku menenangkanku, dia mengelus bahu tanganku dengan tatapan sendunya. Jujur semakin kupikirkan semakin aku berpikir Mas Adam tidak akan memberiku ijin. Namun.. “Yauda.” Katanya setelah lama terdiam. “Ha?” aku masih merasa tak yakin. “Yauda gimana maksudnya?” “Yauda kamu pergi aja.” jelasnya namun masih memberiku sebuah perasaan tak yakin. “beneran Mas Adam ngizinin?” “Iya Ara, sama Ibu kan kamu perginya?” “Iyaaa Mas, soalnya Ibunya mbak rini sama Ibu kan temenan. Lah aku kenal Mbak Rini ya dari Ibuu.” “Oh iyaya, yauda gpp pergi aja.” “Beneran kan Mas? Sumpah aku takut banget mas Adam nggak kasih izin.” “Iya ra,” “Yeyyeyeyeyeye!!!” aku pun sontak berteriak kegirangan. Kudengar di sebrang sana Mas Adam juga sedang terkekeh geli. Aulia di sampingku pun turut senang. “Yauda kalau gitu aku mau siap-siap dulu, terus mau—” “Eeh tapi kamu janji dulu.” katanya yang menghentikan ucapanku. “Janji apa mas?” “Janji kamu selalu fast respon kalau aku chat dan nggak ngilang.” “Iyaaa.” “Awas ya kalau mas chat dan nggak kamu bales.” “Nggak, aku bakal bales kok.” “Janji?” “Iya Mas, akan mantengin hp aku setiap saat. Biar bisa selalu bales chat Mas Adam.” “Bagus.” Aku tersenyum senang. ah, ternyata Mas Adam tidak seseram yang kukira. Kukira dia akan melarang karena nggak sama dia perginya. Tapi ternyata....yeyeyey! BALI IM COMINGG! TBC.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD