Bab 32

1217 Words
Bab 32: Ke Bali!!!! Bali adalah pulau di indonesia yang sudah sering aku kunjungi. Sebelum kedua orang tua bercerai mereka pernah mengajakku pergi ke bali dua kali. Pertama saat perayaan tahun baru dan yang kedua sebelum perceraian mereka. Kemudian ketika aku duduk di bangku sekolah menengah pertama, sekolahku mengadakan study tour ke bali saat aku kelas dua. Aku juga ke bali di tahun yang sama bersama Aulia dan keluarganya. Di sekolah menengah atas aku jalan-jalan lagi ke bali bersama teman sekelas, tapi tidak dalam rangka acara sekolah. Itu sebuah tour yang diadakan anak sekelasku sebagai perayaan kelulusan. Kemudian dalam kurun waktu tujuh tahun ini, aku sudah tiga kali ke Bali untuk liburan. Yang berarti aku sudah jalan-jalan ke pulau bali sebanyak delapan kali. Tapi anehnya, perasaan antusias, senang, tak sabar, tetap memenuhi hatiku. Bali seolah memiliki pesona yang tak pernah habis untuk membuatku tetap pergi ke sana. Padahal di Jogja pun banyak pantai yang indah, tapi menurutku laut bali memiliki ceritanya sendiri. Biru airnya selalu membuat hatiku menghangat karena teringat orang-orang yang pernah bersamaku untuk melihatnya.  Ah, kenangan datang ke pulau ini yang paling indah adalah dua tahun yang lalu. saat aku datang bersama teman-teman dimana mereka semua masih melajang. Aku ingin sekali mengulang masa-masa itu. Namun mana bisa, semuanya sudah berubah dan berbeda ketika aku dan mereka sudah memiliki suami. Jangankan untuk liburan bersama, memberi kabar satu sama lain saja sudah sangat jarang. Setelah makan dan shalat dhuha aku pun membawa satu koper kecil milikku keluar rumah. Ibu janji akan menjemputku, sebab itu aku memutuskan untuk menunggu di depan rumah saja. sebelum itu, aku pastikan rumahku sudah dalam keadaan aman untuk ditinggal. Memastikan tak ada saluran listrik yang terhubung dan kompor yang mungkin masih menyala. Aku menyisahkan lampu teras rumah untuk tetap bersinar, agar memberi penerangan rumah ini ketika malam nanti. Sembari mennggu Ibu, aku duduk di depan kursi teras. Ah, setelah pindah ke rumah ini aku sepertinya tidak pernah duduk di sini. sehingga rasanya sangat asing ketika aku melihat halaman depan rumah yang dipenuhi tumbuhan yang menyejukkan mata. Seketika membuatku bersyukur kepada Tuhan atas segala rahmat yang ia berikan padaku. Karena berkat kasih sayanglah mata ini bisa melihat keindahan tanaman yang terhampar di halaman rumah, karena berkat kasih sayangnya pula lah aku berada di sini, menjadi istri mas Adam yang tak pernh bosan untuk kusyukuri. Tiba-tiba aku rindu Mas adam, semalam kami sempat berbincang singkat di telepon sebelum aku tidur. Dia menasehatiku untuk selalu menjaga diri ketika di Bali. Dan baru aku sadari jika Mas Adam itu sangat...sangat cerewet! Dia bahkan mengingatkanku berkali-kali untuk selalu memeriksa HP dan tak lupa memberi kabar padanya. Ah iya! Pagi ini aku belum memberinya kabar sama sekali. Aku pun merogoh tasku dan mengetikkan beberapa kalimat untuk kukirimkan padanya. Aku ke bandaranya bareng Ibu, ini lagi nunggu beliau jemput. Kamu lagi apaa? Isi pesannya seperti itu. Biasanya, kalau Mas Adam lagi posisi pegang Hp tidak sampai semenit pesan dariku pasti akan mendapatkan balasan darinya. Namun ketika dia tidak pegang Hp, membutuhkan lima belas atau dua puluh menit untuk mendapatkan balasan itu. dan tampaknnya kali ini Mas Adam tidak memegang Hpnya. Aku pun memasukkan ponselku ke dalam tas. Bebarengan dengan munculnya Ibu yang menyuruhku untuk segera bergegas. “Nggak ada yang ketinggalan kan?” ujar Ibu setelah aku membantu Pak Adi memasukkan koper ke jok belakang mobil. Aku pun mengambil duduk di samping Ibu dan Pak Adi pun melajukan mobil ketika memastikan semuanya sudah siap. “Nggak ada Ibu,” jawabku singkat. Kulirik Ibu yang masih sibuk menatap ke kanan kiri seolah mengobservasi lingkungan tempatku tinggal. Aku membiarkannya. Wajar, beliau memang belum pernah mampir ke sini. salah sendiri selalu sibuk dan menolak ajakan malamku dengan Mas Adam. “Senang kamu tinggal di sini?” tanya Ibu. “senang.” jawabku sembari mengulas senyum. “Rumahku bagus loh, harusnya Ibu tadi mampir duluu.” “Nggak ada waktu.” Jawab Ibu dengan singkat. “Salah sendiri mepett banget berangkatnya,” kataku sembari menatap keluar jendela. Suasana hati langit hari ini tampaknya sedang karena kini warna birunya memancar dengan cerah. “Ibu harus nyiapin makanan buat Bapak dulu.” kata Ibu. “Kenapa nggak suruh Bi asih aja?” “Ya bapakmu nggak mau. Daripada nggak dibolehin ikut, Ibu nurut aja.” “Hahah Bapak kenapa nggak diajak sekalian sih?” tanyaku yang masih penasaran alasan Bapak dilarang ikut oleh Ibu. “Pengennya Ibu juga gitu Ra, tapi besok bapak ada rapat penting di kampusnya. Kalau Ibu bolehin ikut, pasti Bapakmu itu rela nggak ikut rapat.” “Duh...emang bapak bucin  banget.” Kataku sembari menggelengkan kepala. “Terus Adam kenapa nggak ikut?” kata Ibu yang masih aja nanyain hal yang sama dengan yang ia tanyakan pada obrolan kami semalam. “Mas Adam di kediri Ibuu, kan aku uda bilang kemarin.” “Ya apa nggak bisa ditunda itu ke kedirinya? Kapan lagi coba Ibu bisa memberitahu duni kalau Ibu uda punya mantu?” kata Ibu dengan wajah sedih yang dibuat-buat. Mulai deh dramanya. Aku mengabaikan ucapan Ibu dan mencari keberadaan ponselku. dengan harapan ada balasan pesan dari Mas Adam. Namun nihil, aku belum menemukan balasan pesan darinya. Kemana dia? Ah, mungkin lagi quality time dengan temen dan guru-gurunya di sana. Aku tak mengambil pusing masalah pesanku yang belum dibalas mas Adam. yang ada dikepalaku kini mulai mengingat kembali apa yang harus aku butuhkan nanti di bali. Sembari berdoa jika tak ada barang yang tertinggal. Hingga kemudian aku teringat.. “Ibu!!!” aku sedikit berteriak. Ibu yang tadinya sibuk menatap ponselnya sontak menatapku, “kenapa??” “Aku lupa nggak bawa chargerr!!!” kataku dengan wajah yang mau menangis. “Ayoo buu balekkk, aku mau ambil chargerkuu!” bisa gawat kalau sampai batraiku meninggoy dan aku tak bisa menghubungi mas Adam. Bisa-bisa Mas Adam marah karena aku ingkar janji. “Hadeehh mama kira apa,” kata Mama sembari mengelus dadanya. “Beli aja sih Ra, nanti di bali juga ada kan yang jual.” “Tapi repot Ma harus nyariii duluu, ayo kita puter balikk ajaa ke rumahku ambil chargerr!” kataku dengan nada yang hampir menangis. Bodoh sekali memang, padahal aku sudah mempersiapkan dengan hati-hati dan penuh ketelitian. Namun masih saja ada yang tertinggal. “Pakek chargernya Ibu dulu kan bisa,” kata beliau. “Ini uda mepet ra, entar kita malah ketinggalan pesawat loh!” “tsk,” aku berdecak kesal. Tampaknya tak ada jalan lain selain nurut perkataan Mama. Mama memberikan chargernya padaku, “ini pakek dulu. Mama nggak boros batrai kok hpnya.” “IH! HP Mama androo, nggak cocok lahh chargernya buat hp aku!!” kataku yang mencoba tenang tapi tetap tak bisa. Suaraku walaupun tidak berteriak , tetap terdengar seperti orang yang marah-marah. “Oh nggak bisa, hahah mama kira sama.” Kata Ibu dengan wajah tak bersalahnya. AKu menghembuskan nafas panjang. okey, kebodohan ini gara-gara kamu sendiri Ara. Jadi kamu nggak bolehh kesel atau marah sama orang lain! Setelah berhasil menenangkan diriku, aku mengecek ponselku lagi. Batrainya masih sembilan puluh persen. Oke, mungkin masih tetap bisa menyala sampai aku mendapatkan charger baru. Hatiku bisa bernafas sedikit legah, tapi itu hanya sedikit. Karena berikutnya aku kembali teringat pesanku yang belum dibalas Mas Adam. sudah hampir tiga puluh menit. aku pun memutuskan mengetikkan pesan baru untuknya. Mas Ara lagi di jalan menuju bandara. Mas sibuk ya? TBc.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD