Bab 33

1127 Words
Bab 33: Bali! Aku tidak tau, apakah setiap wilayah memiliki kadar udara yang berbeda-beda. Yang jelas menghirup udara Bali mampu mempengaruhi suasana hatiku. Hatiku yang sejak tadi bingung, memikirkan kenapa Mas Adam belum membalas pesan pun jadi terasa lebih baik. apalagi melihat suasana sekelilingku yang dipenuhi nuansa bali. Turist dimana-mana, beberapa orang menggunakan sarung bali, dan bangunan airport yang arsitekturnya sangat kental  nuansa Balinya. Karena terlalu sibuk memperhatikan sekelilingku, aku tak sadar ketika tiba-tiba ada Najawa di hadapanku. Gadis itu tersenyum sembari memelukku erat. “Hhuhu akhirnya Mbak Ara dateng jugaaa,” katanya. Aku yang mendapatkan pelukan tiba-tiba itu pun tentu saja masih bingung, namun dengan cepat kukendalikan diriku. “Ya Allah, ngagetin aja kamu Waa. Iya yaaa, haha alhamdulillah...sekalian jalan-jalan. Uda lama nggak ke Bali.” “Bener ya Mbak habis ini kita jalan-jalan? Tujuanku ngotot mbak buat ikut ya ini loh, biar Mbak Ara bisa jalan-jalan..” “Haha kamu tau banget kalau aku jarang liburan.” Kataku sembari terkekeh geli. Najwa pun mengajakku dan Ibu untuk segera naik ke dalam mobil yang sudah disediakan. Jadi aku dan Mama tidak datang sendiri. Ada beberapa saudara dan kolega keluarga Najwa yang juga turut diundang di pesta pernikahan Mbak Rini besok. Jumlahnya pun lumayan banyak, bisa dibilang tadi di pesawat hampir seluruuh penumpangnya adalah para undangan. Dan sekarang, para tamu undangan sudah disediakan mobil untuk menuju ke hotel tempat acaranya berlangsung. Entahlah, aku tidak mau memikirkan berapa banyak biaya yang keluarga Najwa keluarkan untuk acara ini. Yang jelas, aku tau keluarga mereka memang keluarga kaya dan baik hatii. Jadi tak heran, mereka sangat menyamput para tamu undangannya sebaik ini. Membutuhkan waktu yang cukup lama menuju hotel, sehingga membuatku tertidur lagi setelah tadi sempat ketiduran di pesawat. Entah kenapa rasanya aku sangat lelah, mungkin karena aku terlalu bersemangat. ketika aku merasakan kenyenyakan tidur, Ibu membangunkanku. “Uda sampai Raa,”ujar Ibu. Aku sontak bangun, dan menatap sekeliling. Kulirik dari balik jendela, sebuah hotel mewah tengah berada di depan mata. Aku bahkan sempat beberapa kali mengerjapkan mata saking tak percayanya dengan pemandangan di depanku. Serius ni aku bakal nginap di sini? sumpah hotel ini adalah hotel yang sangat terkenal di bali. Beberapa kali sudah punya rencana ingin menginap di hotel ini dengan teman-teman tapi selalu gagal. “Ra kok diem, ayo turun!” ujar ibu yang membuatku segera turun dari mobil. “bagus banget ya hotelnya,” kata Ibu yang berdiri di sampingku. Kami sudah mirip orang linglung yang sejak tadi masih diam sambil memperhatikan sekitar. Masa bodoh orang bilang kami norak, yang jelas hotel ini benar-benar menyihir kesadaranku. “Iya Ma, huhu ini hotel uda jadi keinginan Ara dari lama. Akhirnyaaa!!” kataku sembari memeluk Mama dari samping. “Makanya too ajak Masmu itu bulan madu, kalian baru aja nikah kenapa nggak pernah jalan-jalan?” Kata Mama yang membuatku teringat ajakan mas Adam yang pernah dia katakan ketika kami belum menikah. Katanya dia akan mengajakku kembali lagi bersamanya camping di salah satu pantai di gunung kidul. Namun sampai sekarang dia tak pernah menyingung masalah itu. Apa dia lupa? “Mbak Ara, ini akses masuk buat ke kamar Mbak Ara dan Ibu.” Kata Najwa. Setelah menunggu beberapa menit di lobby bersama Ibu dan para undangan lain yang sudah tiba di hotel. Ara memberiku dua akses kamar, aku menghernyit heran. “Loh, dua kamar? kenapa nggak jadi satu aja aku sama Ibu?” tanyaku. Ibu yang ada di sampingku sontak menggeleng, “nggak! Ibu nggak mau satu kamar sama kamu.” “Bu? Kok gituuu? Jarang-jarang kan kita tidur satu kamaarr,” kataku dengan raut wajah memelas. Sungguh, aku bingung kenapa Ibu tak mau satu kamar denganku. “Hhh, Ibu capek Ra. Ibu pengen tidur dengan tenang, besok aja yaa kita sekamarnya.” Kata Ibu sembari mengambil sebuah kartu yang menjadi ‘alat’ untuk membuka kamar yang disediakan untuknya. Ibu tanpa bersimpati sedikit pun padaku kini sudah melenggang pergi membawa koper miliknya. Ibu seolah sudah hafal kebiasaanku yang kesulitan tidur di kamar hotel. Sebab itu beliau memilih enggan tidur denganku. “Mau tidur sama aku aja Mbak? Kayaknya Mbak Ara nggak mau tidur sendirian,” kata Najwa yang tampaknya tak tega melihat wajahku kini yang pasti sudah melas. “Eh..gpp?” kataku antusias. “Iyaaa, malah seneng aku bisa ada temennya.” “Tapi aku kalau tidur di hotel susah loh Ra,” “Ha? kenapa susah?” “Ya nggak tau, aku emang kesulitan tidur tiap nginep di hotel. Kamu nggak papa kalau nanti aku ganggu?” “Gpp Mbak Ara,” jawab Najwa dengan senyum lebarnya “nani aku temani Mbak Ara sampai tidur.” “Jangan bohong!!!” kataku dengan pura-pura marah. Najwa terkikik, “nggak.” Setelah menunggu Najwa menyelesaikan urusannya untuk membagikan kunci akses untuk masuk ke dalam kamar kepada para tamu undangan lain, kami pun segera naik ke lantai tempat kamar Najwa berada. “Mbak laper kan? aku pesenin makanan ya,” kata Najwa setelah kami sampai di kamar. Aku yang masih terpana dengan kamarnya pun masih diam. Sungguh kamar hotel ini sangat luar biasanya. Cat dindingnya yang bewarna coklat muda membeirkan kesan hangat ketika aku masuk ke dalam. Apalagi suara deburan ombak yang terdengar sangat jelas. Aku pun sontak berjalan menuju jendela yang tertutup gorden coklat, membuka gorden itu dan mendapati sebuah pemandangan laut yang luar biasa cantiknya. “Kalau pagi malah bagus banget Mbak pemandangannya.” Kata Najwa yang kini tampaknya tengah meletakkan koperku di dekat lemari. “Huhu sumpah ini impian aku Waaa!! Bisa tidur di hotel yang jendelanya langsung menghadap ke laut!” Kataku dengan bersemangat. “Yauda berarti Mbak beruntung nggak jadi tidur sama Tante, soalnya kamarnya tante nggak ada pemandangan lautnya.” “Iyaa huhu, makasii yaaa. Ini semua berkat keluarga kamu.” kataku sembari memegang pergelangan tangannya dan memeluk Najwa. “Yauda, sekarang Mbak mandi terus aku pesenin makanan. Biar nanti pas selesai mandi langsung makan.” “Yey!! Makasiii” katakuu dengan sebuah senyum yang masih dengan setia bertengger di wajahku. Sebelum mandi, aku mengecek ponselku, barang kali sudah mendapatkan balasan pesan dari mas Adam. Tapi sial. Tak ada balasan apapun darinya, padahal aku sudah mengirimkannya pesan baru secara berkala. Kemana dia? Kenapa pesanku tak dibalas? Apa ada masalah? Semua pikiran burukku tiba-tiba membuatku cemas. Namun aku segera mencoba untuk menghapuskannya. Kuhembuskan nafasku dalam-dalam, mencoba menhapus kegundahan yang tiba-tiba menyerang. Mas Adam pasti lagi sibuk ketemu temen-temennya dulu, makanya seharian ini nggak sempet buka Hp. Ya, pasti tidak terjadi apapun padanya. Aku mensugesti diri sendiri hingga aku merasa tenang. setelah tenang aku pun menuju kamar mandi dan membasuh tubuhku. Air hangat dan lilin aroma yang ada di kamar mandi, sangat membantu membuatku kembali rilex. Aku pastikan aku akan kembali ke hotel ini bersama Mas Adam. pasti asyik bisa menghabiskan malam bersamanya di sini. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD