Bab 4

1530 Words
“Ra, Minggu depan kamu nggak sibuk kan?” Tanya Adam. Ara yang sejak tadi sibuk menatap mie tektek buatannya pun menatap Adam. Setelah mengelilingi Taman sari Ara mengajak Adam ke kafenya. Kemudian membuatkan Adam mie  tektek buatannya. Mereka kini tengah berada di meja dekat jendela yang menampakkan jalanan Malioboro yang ramai. “Nggak Mas.” Jawab Ara singkat. Pikirnya melayang pada ucapan Adam tadi, yang katanya akan mengajaknya ke Pantai yang ada di gunung kidul. Apa itu serius? “Kenapa? Apa Mas serius mau aja aku ke pantai?” Mie di depannya terlihat tak menarik lagi, Ara menatap Adam dengan antusias. Bahkan rasa laparnya yang sejak tadi meminta pertanggung jawaban seolah menghilang begitu saja. Adam mengangguk, sembari mengunyah mie tektek buatan Ara. Tadi ketika pertama kali mencoba mie itu, Adam sudah bilang jika mie buatan Ara enak sekali. Ara tentu saja senang mendengar pujian itu. “Mas serius, tapi kalau ajak kamu ke sana takut ganggu kerja kamu.” “Ih gpp mas, aku uda sering pergi jauh kok. Kan aku juga punya karyawan. Kalau di kafe ini ada yang namanya Bara—dia koki, sekaligus aku pasrahin buat mantau kafe kalau aku nggak ada.” jelas Ara. Dia tak mau kesempatan pergi ke pantai bersama Adam hilang, sebab itu ia mengarang cerita dengan bilang sering pergi jauh. Padahal selama ini ia paling nggak bisa kemana-mana. Ara itu perfeksionis. Semua yang berhubungan dengan Kafe harus sempurna menurut dirinya. sebab itu sejak dulu dia tak pernah memercayakan kafe ini pada orang lain selain Bara. Adam mengangguk, “beneran gpp? Soalnya kita nggak cuma sehari di sana.” “Ha? emang mau berapa hari?” “Tiga hari dua malam.” “Kita nginep?” “Iya Ra, ngecamp gitu.” “Berdua?” Tanya Ara dengan raut wajah terkejut. Dia pikir Adam mengajaknya ke pantai itu untuk menikmati pemandangannya sebentar kemudian pulang. tapi...kenapa jadi ngecamp? Berdua lagi? Ara mau sih, tapi mereka kan belum menikah.. masak iya bobok di tenda berdua? Adam juga sama. terkejut dengan pertanyaan Ara. Dia tak menyangka Ara akan berpikiran begitu. “Ya enggak,” katanya dengan cepat. “Nanti sama temen-temen aku Raa.” “Oh nggak berduaa?” “Nggak.” “Oh aku kira berdua.” “Kamu mau berdua?” “Ha..eh...enggak!” “Yauda, kamu mau?” Ara mengangguk, “mau! Tapi aku nggak pernah ngecamp Mas. Nggak tau harus bawa apa aja.” “Tenang, entar aku kasih tau kamu.” “Oke.” “Yang jelas kamu nanti harus masak, biar temen-temenku tau kalau masakan kamu enak.” “Ha? kenapa gitu?” “Ya gpp, biar mereka tau aja.” Ara pun mengangguk, sekalipun merasa tak puas dengan jawaban Adam. Mereka pun melanjutkan makan mie tektek yang sudah hampir dingin. Lebih tepatnya sih mie milik Ara yang dingin, soalnya dari tadi belum dimakan. Sementara mie Adam uda habis nggak tak tersisa. -- Ara memberi tau Ibunya kalau Adam mengajaknya camping. Reaksi Ibu tentu saja sangat heboh, beliau senang karena hubungan Adam dan Ara bisa sejauh itu. Sekalipun niat awal keluarga Adam memang ingin melamar Ara menjadi menantu, mereka tetap memberikan ruang tersendiri bagi Adam dan Ara untuk berkenalan dan menjadi dekat. Jika memang tak cocok, mereka tentu saja tidak memaksakan perjodohan ini. Tapi jika sampai adam mengajak Ara camping bersama teman-temannya seperti ini, maka bisa dikatakan perjodohan ini berhasil kan? “Kapan kamu camping sama Adam?” tanya Ibu melalui sambungan telepon. Entahlah akhir-akhir ini Ibu jadi sering sekali menelpon Ara. “Besok Ibu.” jawab Ara dengan nada malas. Pasalnya Ibu sudah menanyakan ini kemarin. “Ibu kenapa tanya terus sihh?” tanya Ara dengan raut wajah kesal. Dia sekarang tengah berada di dalam kamarnya, menyiapkan perlengkapan yang harus ia bawa besok. “Hahaha” Ibu tertawa, “Ibu nggak sabar nduuuk.” “Nggak sabar apaa?” “Lihat kamu sama Nak Adam di plaminan.” “Ha? Ibu ngomong apa si?” kata Ara dengan nada heran. Okeh, Ara emang tau tujuan Adam mendekatinya beberapa hari terakhir memang berniat untuk mengajaknya serius, yaitu ke jenjang ke pernikahan. Tapi, Ara tidak pernah menyangka akan secepat ini. Apalagi Adam tak mengajaknya bicara apapun masalah pernikahan. “Ibu uda dapet gedung plaminannya Ra, tadi Ibu hunting keliling jogja sama Tante Bilqis. Alhamdulillah, dapet gedungnya di deket sini-sini aja. tempatnya juga enak, adem dan harganya terjangkau.” “Gedung plaminan buat siapa sih Buuu?” “Loh Ra..ya buat kamu sama adam!” “Ha?” Saking terkejutnya dengan apa yang diomongin Ibu, Ara sampai hampir jatuh dari posisinya yang sejak tadi berdiri. Ia sontak duduk di tepian tempat tidurnya. “Kamu nggak tau to? Adam kemarin nyuruh ibunya nyari gedung buat pernikahan kalian. Adam nggak bilang kamu?” “Ha? mas adam yang nyuruh? “Iyaaa Araa. Ibu kira Adam uda bahas masalah ini sama kamu.” “Nggak Ibu, Mas Adam nggak pernah ngomong apa-apa." “Kamarin waktu ke Taman sari nggak bahas masalah ini?” “Nggak, kita nggak bahas masalah pernikahan sama sekali.” “Yauda pokoknya dia mau pernikahan kalian dimajukan.” “Ha?” “Dia bahkan nggak mau ada acara lamaran.” “Loh terus?” kata Ara, dengan rasa terkejut yang semakin menjalar dalam d**a. entah Ara semakin tak paham jalan pikiran Mas Adam. kenapa dia tak membicarakan masalah ini pada ara dulu sih? Apa menurut mas Adam suara Ara tidak penting di sini? “Yaa dia Cuma mau ada khitbah aja. nggak tau kapan, kayaknya si dekat-dekat ini.” “Kok aku nggak tau apa-apa si?” “Coba tanya Mas Adam ya Ra.” “Yauda. nanti aku coba tanya dia Bu.” Setelah menjawab salam, Ara merebahkan dirinya di atas kasur. menatap plafon kamarnya yang bewarna putih. Pikirannya melayang. Banyak tanda tanya di kepalanya yang tak kunjung mendapatkan jawaban. Yang jelas, pertanyaan-pertanyaan itu juga diikuti perasaan amarah yang merasa Adam sudah egois. Pasalnya tidak mengajak Ara berunding dulu tentang proses hubungan mereka selanjutnya. setidaknya jika memang tidak ingin berundung, Adam memberi tau Ara dulu tentang rencananya sebelum memberi tau orang lain. Agar Ara tidak terlihat bodoh seperti ini. Lagian, hubungannya dengan Adam juga biasa-biasa saja..kenapa Adam langsung ngegas minta nikah? Atau sejak awal Adam emang pengen nikah langsung ya tanpa pacaran atau kenalan dulu? Ketika Ara tenggelam dalam pikirannya sendiri, sebuah telepon masuk lagi. kali ini bukan dari mama, tapi dari Adam. Lelaki yang sibuk mewarnai pikirannya akhir-akhir ini. “Halo Mas,” “Ara kamu uda packing?” “Iya ini proses.” “Jangan lupa bawa bahan makanan ya.” “Iya mas, ara uda nyiapin menu makannya juga kok.”Jawab Ara. Dia memang mendapatkan tugas sebagai penanggung jawab konsumsi selama acara camping berlangsung. “Untuk berasnya nggak usah bawa Ra, nanti anak-anak yang bawa.” “Iya mas.” “..” Adam diam, sementaara Ara tengah menimbang sesuatu. ia ingin menanyakan keberan jika Adam menyuruh Tante Bilqis untuk memesan gedung pernikahan. Atau jangan-jangan ini akal-akalan Ibu saja biar bikin Ara bahagiaa? “Mas?” setelah diantara mereka terdiam lama, akhirnya Ara berani memecahkan keheningan. “Ya Raa?” “Em..” ara masih ragu untuk menanyakannya. Disebarang sana, Adam tampaknya masih sangat sabar menunggu Ara bersuara. “Ara mau ngomong apa?” sejak tadi Adam memang berfirasat Ara akan mengatakan sesuatu, sebab itu ia tak langsung mematikan telepon ketika urusannya untuk menginggatkan Ara sudah selesai. “Mau nanya mas.” “Iya?” “Mas nyuruh Tante buat nyari gedung ya?” “Oh, iya Ra.” “...” ara diam. Dia menunggu penjelasan Adam selanjutnya, tapi tampaknya Adam tak ingin menjelaskan apapun. Ara pun  membuka suara, “emang kapan mas nikahnya?” “Akhir oktober Ra.” jawab Adam. Oktober itu kurang dua bulan lagi. Apa Adam lagi bercandaaa? Dia mau nikah sama siapa si? Mau nikah sama Ara kan? Kenapa nggak bilangg Araa? “Oh, mas nikahnya sama siapa?” “Loh...sama Ara kan?” “Kok nggak bilang?” “...” Tidak ada jawaban lagi dari Adam begitupun Ara. Entahlah, dia merasa tidak dihargai di sini. betul, Ara memang ingin menikah dengan Adam, tapi kenapa seolah Adam mengambil keputusan itu sendiri? seperti tak menganggap Ara terlibat dalam pernikahan ini. “Ara marah ya?” tanya adam. “Iya, Ara ngerasa nggak dihargai. Kalau Mas udah punya rencana sendiri, setidaknya bilang ke Ara. biar Ara nggak kelihatan bodoh waktu ditanya Ibu.” “Maaf ya Ara, mas nggak nyangka Bunda bakal kasih tau kamu dan keluarga kamu. rencananya Mas mau datang ke rumah kamu dan ngasih tau semuanya setelah kita camping. Soalnya minggu ini Ayah Mas lagi ngurusin cabang mebel yang di surabaya.” “Oh..” “Maafin aku ya Ra.” “Gpp Mas.” “Yauda kamu istirahat, besok aku jemput ya.” “Ya.” Air mata ara yang sejak tadi ia tahan di pelupuk mata pun akhirnya jatuh. Iyaa Ara emang cengeng banget. Padahal cuma masalah nggak dikasih tau aja Ara uda nyesek sendiri dan kecewa sama Adam. Ara tidak tau harus bersikap bagaimana untuk besok. Merasa tak enak karena sudah marah pada Adam. Tapi dia punya hak kan untuk marah? tbc xx, muffnr
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD