Tanpa terasa blezzer hitam Elle sudah luruh. Lolos dari bahunya, jatuh ke lantai sedetik sebelum ia memutar tubuhnya. Dan kini wajah mereka berdua kembali bertemu.
Tatap mata yang menelisik setiap lekuk wajah mereka. Merekam tiap senti kulit wajah yang ada di depannya. Bentuk bibir, hidung, tahi lalat, serta senyum dari mereka.
“Kau harus tahu, Kus. Kau pria hebat yang bisa paling cepat memikatku,” ucap Elle sembari memejamkan mata. Menghela napas, tak kuat beradu pandang dengan mata laki-laki di depannya.
Hingga tanpa Elle sadari Markus telah mendorong kepalanya hingga amat dekat. Teramat dekat hingga kening mereka bertemu. Muka Elle yang tengadah menjemput kepala Markus yang harus merunduk untuk mencapai kepalanya.
Tak bisa ia hindari lagi, apalagi saat tangan Markus mulai melingkar di pinggangnya. Mengular, menarik tubuhnya yang kini hanya berbalut kemeja putih setelah blazzernya tanggal. Menarik tubuh kecilnya lebih dekat. Hingga jatuh dalam pelukan Markus.
Dengus napas laki-laki itu sudah terasa di hidungnya. Bulu-bulu lembut di rahang besarnya kini bisa Elle rasakan dengan jelas di telapak tangannya. Saat sedetik kemudian ia bisa merasakan kulit bibir Markus tiba di sepasang bibirnya.
Kecupan lembut lahir, pelan, lembut, dan hangat.
Udara dingin yang keluar dari AC. Sepinya kamar hotel yang kedap suara. Hati Elle yang diam-diam berteriak tanpa suara. Akhirnya, meski bukan kali pertama tapi kecupan bibir Markus tetaplah terbaik. Elle bangga bisa mendapatkan laki-laki di depannya ini.
Dan satu kecupan kecil pun usai, kemudian disusul jeda yang panjang. Elle membuka matanya, menatap Markus yang tersenyum hangat ke arahnya.
“Ih, jangan gitu, ah! Malu tau,” protes Elle sambil membuang mukanya. Wajah yang memerah karena perlakuan Markus barusan. Mimik muka laki-laki itu seperti tengah menertawakannya.
Benar saja, Markus memang tengah terkekeh. Mengeratkan pelukannya, menggoda Elle agar membuang wajah tertekuknya. “Kau tahu, sedetik barusan jantungku rasanya ingin meledak sebab berhasil mencium perempuan yang paling cantik di dunia,” ucap Markus.
Kalimat yang seketika membuat Elle balik tertawa gemas. Menggeliat, mencubit perut Markus. Membuat laki-laki itu menghindar hingga melepaskan pelukannya.
“DASAR GOMBAL! Kamu kan pernah melakukannya. Jadi perempuan mana yang pernah kau cium lagi?” umpat Elle sambil mendorong tubuh pria itu menjauh darinya.
Membuat laki-laki itu semakin tergelak. Berbalik badan, berjalan menjauh.
“Asal kau tahu saja, El. Gombalanku mahal loh. Tidak banyak perempuan yang bisa mendapatkannya,” balas laki-laki itu.
Laki-laki itu kini duduk di tepi ranjang dengan kasur empuk di atasnya. Melepas kancing tangan kemeja panjangnya. Melonggarkan dasi, sebelum akhirnya ikut lepas juga. Disusul tiga kancing paling atas dari kerah kemejanya.
Sesaat setelah itu disusul dengan melepas sepatu dan kaos kaki. Menghela napas panjang, melempar tubuhnya telentang di atas ranjang.
Elle tahu laki-laki itu sedang kelelahan.
Terlepas dari semua yang tidak ia tahu. Terlepas dari perjalanan panjang lintas pulau yang ia lakukan. Laki-laki itu hanya membaringkan tubuhnya lemas di atas kasur. Matanya terpejam, napasnya teratur. Seperti tengah menikmati rasa lelah yang menjalar di sekujur tubuhnya.
Ada beban yang bukan hanya sekedar lelahnya perjalanan.
Sebagai anak buahnya yang merangkap sebagai kekasih, Elle tahu tak banyak yang bisa ia lakukan. Bertanya, mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi rasanya juga seolah hanya menambah beban laki-laki itu.
Ia hanya bisa sedikit meringankan beban Markus. Jadi aspirin untuk luka-lukanya. Sama seperti apa yang kini ia lakukan.
Melangkah dengan kedua kakinya, berjalan mendekat hingga duduk di pinggiran ranjang tepat di sebelah Markus terbaring. Pria itu membuka matanya tepat saat Elle tersenyum hangat ke arahnya.
“Capek ya, Kus?” ucap Elle. Jari lentiknya mengusap kening laki-laki itu. Memijit lembut, menyisir rambut pria itu dengan jari-jarinya. “Istirahat yang cukup akan membuatmu jauh lebih baik.”
Markus menggeleng. “Kamu yang cukup, itu baru bisa membuatku membaik.”
Elle tahu apa yang laki-laki ini mau. Melepas sepatu high heels nya. Membiarkan sepasang barang dengan brand ternama itu tergeletak begitu saja. Mengangkat satu per satu kakinya ke atas ranjang. Menyusul Markus tidur, berbaring di sebelahnya.
Tubuh kecil berisi itu tidur dengan posisi miring menghadap Markus yang terlentang. Melingkarkan tangannya di pinggang pria itu. Ganti menarik tubuh Markus agar merekat di tubuhnya.
“Aku menyesal soal itu, El. Aku menyesal mengajak Rama bertemu,” ucap Markus lirih. Air matanya tiba-tiba saja luruh. Tanpa suara, tanpa tangisan. Tapi kesedihan jadi begitu kental terasa mengisi seisi kamar hotel.
Kesedihan yang harus ia pikul sendirian. Penyesalan yang selalu datang terlambat.
“Ssstttt .... !!! I’ts over, Kus. It’s already over,” ucap Elle. Meredakan badai yang memorak-porandakan hati Markus. Mengelus kening pria itu yang mulai berbuih keringat dingin. “And now, just there are us. Cuma ada kita sayang, cuma ada kita. Kau tak perlu merisaukan apa yang sudah terjadi atau sesuatu yang bahkan belum terjadi.”
Kalimat Elle barusan terbukti berhasil membuat Markus kembali. Walaupun belum bisa menghapus semua kesedihannya, walaupun belum bisa menguras habis air matanya, setidaknya itu cukup.
Cukup untuk membuat Markus membuka mata, menatap Elle dengan bola mata berbinar. Cukup untuk membuat laki-laki itu menghapus air mata dengan telapak tangannya sendiri. Hingga pada akhirnya cukup untuk membuat kedua ujung bibir Markus tertarik.
Mengukir senyum yang sangat manis sekali. Sedikit membuang jauh-jauh semua beban dan rasa takutnya. Seperti mendapat bantuan dari seseorang yang rela mengangkat beban itu bersama-sama.
Senyum yang kini menular, ikut terukir di wajah manis Elle.
Markus memutar tubuh. Membuat tubuhnya miring berhadapan dengan tubuh Elle. Melingkarkan tangannya, membalas pelukan perempuan kekasihnya itu. Tepat beberapa saat sebelum Elle kembali memejamkan matanya.
Seperti memberi aba-aba. Markus pelan-pelan mendorong wajahnya. Membiarkan semua indranya merasakan hangat tubuh Elle. Hingga bibir mereka kembali bertemu.
Kecupan kedua lahir, sayangnya keraguan itu hinggap lagi di d**a Markus.
Hampir ia menarik kembali kepalanya. Hampir ia mengakhiri kecupan itu saat tiba-tiba tangan Elle menahan tubuh berototnya.
Tangan wanita itu bergerak, melingkar di leher jenjang Markus. Menarik kembali kepala laki-laki itu, tenggelam lebih dalam di ciuman yang tengah mereka lakukan. Tenggelam di hangat bibir Elle yang terasa begitu lembut.
Merontokkan semua keraguan di hati Markus. Membuatnya yakin bahwa kini hanya Elle satu-satunya orang yang ia perlukan, bukan siapa pun lainnya.
Markus hanya bisa berpasrah. Membiarkan bibirnya tenggelam lebih jauh. Memejamkan matanya, merasakan semua sensasi yang Elle berikan padanya.
Angin yang terasa berembus di hidungnya. Dua bilah bibir merah merekah yang terbuka. Seperti mempersilakan Markus bergerak lebih jauh. Memasukkan bibirnya, mengecup lembut bibir bagian bawah perempuan itu.
Ciuman hangat yang kini berubah jadi isapan-isapan panjang. Semakin panas, semakin basah, semakin liar. Hingga isapan-isapan itu membuat mereka berdua kehabisan napas.
Markus membuka matanya setelah melepaskan ciuman. Menemukan wajah Elle yang masih saja memerah menahan malu saat mata mereka kembali bertemu.
“Aku mencintaimu, Kus. Itu kenapa aku tak ingin terjadi apa-apa padamu,” ucap Elle meski sambil merunduk membuang muka. Tak berani menatap mata pria yang ada di depannya. Menyembunyikan debar jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya.
“Hei,” jawab Markus pendek. Tangannya bergerak meraih dagu kekasihnya itu, mengangkatnya. Memaksa Elle untuk menatap wajahnya. “Aku tahu itu sayang. Aku juga mencintaimu,” lanjutnya sambil membuang anak rambut Elle yang sedikit menutup wajahnya.
Menariknya, menaikkan ke atas daun telinga perempuan cantik di depannya itu. “Itu juga kenapa kau ada di sini bukan? Itu juga kenapa ciuman barusan terasa sampai relung hatiku,” lanjut Markus.
Elle hanya mengangguk. Raut wajahnya mulai normal, tak lagi malu dengan semua perasaan yang membuat jantungnya berdegup kencang.
“Sepertinya kita sama-sama tahu apa yang akan terjadi satu jam ke depan, Kus.” Elle tersenyum, mengerlingkan matanya. Membuat laki-laki di depannya terkekeh.
Membiarkan satu persatu kancing kemejanya dilepas oleh tangan Elle.
Bersambung ....