Suara desing mesin pesawat masih terdengar. Bahkan setelah belasan langkah sejak Markus turun dari anak tangga pesawat. Berjalan menuju bandara, tempat seorang perempuan sedang menunggunya.
Tangannya terangkat setinggi pinggang. Matanya melirik jam di pergelangan tangan. Pukul tiga sore, yang artinya satu jam setengah perjalanan pesawat. Perjalanan yang terasa jauh lebih singkat dari biasanya.
Bayangannya pada nasib Rama sahabatnya seakan memutar waktu jadi lebih cepat dari biasanya.
Di sana, di kursi lobi yang tak jauh dari pintu keluar, perempuan itu tengah menunggu. Seorang perempuan bertubuh tinggi berkulit kuning langsat dengan rambut panjang yang dibiarkan terurai. Rambut yang diwarna pirang di ujungnya. Lengkap dengan poni yang sedikit menutup keningnya. Wajah cantiknya, tubuh ramping tinggi semampainya selalu mengingatkan Markus pada salah satu member Girlband Korea Blackpink bernama Lisa.
“Sudah lama menunggu?” ucap Markus. Tubuhnya sudah sempurna berdiri, mendarat di belakang perempuan itu.
Perempuan yang tampak menghela napas panjang, mendengus lelah, melihat jam di pergelangan tangannya. “Tiga puluh menit,” ujarnya sambil memutar wajah menghadap wajah Markus yang ada di belakangnya. “Setidaknya kau pernah membuatku menunggu lebih lama dari ini,” lanjutnya sambil tersenyum, kemudian berdiri.
Markus dengan ringan membuka lengannya. Perempuan itu beringsut, tubuh yang berbalut kemeja putih dilapisi blazzer dan rok hitam setinggi lutut itu melompat kecil mendaratkan tubuhnya.
Memeluk Markus dengan penuh kehangatan. Mengusap punggung pria di depannya itu.
“I miss you so much komandan,” ucapnya di tengah pelukan panjangnya.
“Ini bukan di kantor, El.” Markus melonggarkan lengannya. Melepaskan pelukan gadis itu, menangkap kedua lengannya. “Jangan panggil aku dengan panggilan itu selama di luar kantor.”
Elle mengangguk, tersenyum lebar. Wajah manisnya selalu berhasil membuat hati Markus meleleh.
“Akan kucoba lagi untuk satu hal yang sulit kulakukan itu,” jawab gadis itu singkat sambil menyerahkan kunci mobil ke arah Markus.
Dua orang itu kemudian bergerak. Berjalan bersamaan, tangan kiri Markus menarik koper. Sementara tangan kanannya menggandeng tangan kiri Elle.
Dua orang yang saling jatuh cinta karena pekerjaan. Elle adalah anak buah Markus, tangan kanan laki-laki itu. Berdua mereka memecahkan beberapa misteri. Berdua mereka menginvestigasi puluhan kasus bersama-sama.
Bedanya, Markus lebih banyak di lapangan. Sementara Elle lebih banyak di kantor mengurus dokumen-dokumen yang datang atau yang Markus perlu.
Ramainya bandara, riuhnya orang yang datang dan pergi di lobi. Pengeras suara yang sesekali terdengar memberikan himbauan dan pengumuman. Menyalak, terdengar hingga sudut paling kecil bandara.
Mereka berdua bahkan tak peduli dengan itu semua.
Hari ini, tepat setelah enam bulan mereka jadian. Elle, berhasil meluluhkan hati Markus, komandan kesatuannya sendiri. Mengangkat wajah, menatap laki-laki yang lebih tinggi dari dirinya itu. Laki-laki yang menggenggam tangannya erat.
Siapa sangka perjuangannya akan berbuah manis. Markus berhasil jatuh di pelukannya.
“Kamu dari kantor atau dari apartemen?” ucap Markus memecah keheningan.
Mereka berdua kini sudah berada di dalam mobil. Sudah masuk ke jalan beraspal, setelah beberapa menit yang lalu keluar dari parkiran bandara.
“Dari keduanya,” jawab Elle sambil melingkarkan sabuk pengaman di tubuhnya. “Tadi dari apart sekitar jam satu. Makan mandi dan lain-lain baru ke kantor beresin berkas masuk.”
“Berkas masuk?” potong Markus cepat. “Di hari libur seperti sekarang?” lanjutnya dengan nada heran di akhir pertanyaannya.
Elle mengangguk, menjawab pertanyaan laki-laki yang kini menambah dalam injakan gas di sebelahnya. “Itu dia. Awalnya aku juga bingung. Kok ada berkas baru masuk padahal tim kita sedang libur tugas.”
Elle menghela napas panjang. Membuat kalimatnya terjeda, terdiam menyimak lalu lintas yang mulai padat sejak mobil sedan yang mereka tumpangi masuk lalu lintas kota.
“Dari beberapa lembar yang sempat k****a, ini ada kaitannya dengan penyerangan markas polisi, Kus. Meski beberapa lembar yang lainnya masih belum sempat k****a. Ada beberapa laporan dan surat tugas yang masih terkunci rapat di dalam map. Aku menunggu persutujuanmu,” lanjut Elle.
“Masih soal kejadian itu ya ternyata,” dengus Markus sebal. Menginjak gasnya lagi setelah antrean kendaraan di depannya bergerak. Memutar setir berbelok ke kanan dari perempatan lampu merah yang sempat menahan mobilnya. “Tapi mungkin semua berkas itu akan jadi yang terakhir sebelum kasus ditutup.”
Kalimat Markus seketika membuat Elle mengerutkan kening. Menyipitkan mata, tajam ke arah laki-laki yang ada di sebelahnya itu. “Maksudmu? Kasus ditutup?”
Markus mengangguk. Memutar ke kiri sekali lagi setir mobilnya. “Rama ditangkap,” ucapnya. Tak bisa lagi menutupi kesedihan dan penyesalan yang tampak jelas di raut wajahnya.
“What?” pekik Elle tiba-tiba. “What the f*ck that news. Tapi bukannya kamu?”
“Ya, aku juga hampir jadi buronan.” Markus menggigit bibirnya. “Setan ... !!!” Tangannya menggebrak kemudi. Mengingat kejadian yang baru saja terjadi kemarin malam.
Ingatannya merekam jelas semuanya. Meski matanya tak bisa melihat dengan jelas. Meski satu-satunya sumber cahaya hanya dari rokok yang mereka nyalakan. Tapi Markus bisa dengan jelas mereka ulang semua yang terjadi malam itu.
Elle hanya bisa menelan ludah. Masih tak percaya dengan kalimat yang barusan telinganya dengar. Ia tahu betul bagaimana selama ini Markus menyembunyikan keberadaan Rama. Ia jelas tahu siapa dua orang ini.
Rama dan Markus, dua orang sahabat yang harus memilih jalan yang berbeda. Bak api dan air, hanya salah satu yang terkuat di antara merekalah yang bertahan.
Elle tahu bagaimana berkali-kali Markus menolong Rama. Laki-laki yang ia cintai itu, bahkan sering membakar surat tugas penangkapan Rama berkali-kali. Atas nama persahabatan, atas nama persaudaraan sehidup semati.
Elle semakin mengerutkan kening saat laki-laki itu memutar setir ke kiri lagi.
“Loh, Kus!” Matanya menyipit, bingung apa yang dilakukan Markus. “Bukannya lurus kalau mau ke rumahmu?”
Laki-laki yang ditatap Elle dengan wajah bingung itu justru terpingkal. “Kau tahu hari ini hari terakhir libur tugas kan?”
“Trus?”
“Aku ingin sejenak melupakan soal Rama. Dan kau tahu? Jangan di rumahku, nanti ketahuan ayah,” bisik Markus sambil memiringkan tubuhnya. Mengucapkan kalimatnya dengan nada menggoda tepat di depan daun telinga Elle.
Perempuan mana yang tidak akan tergoda dengan Markus. Ketampanannya, tubuh atletik, hidung mancung, rahang besar. Seorang polisi muda dengan serentetan penghargaan dan prestasi mentereng. Cukup hanya dengan satu kalimat saja bisa membuat Elle tersipu malu.
Gemas, mendaratkan cubitan kecil ke pinggang Markus. Membuat laki-laki itu memekik kemudian tertawa.
“Kenapa kamu jadi genit begini deh? Heran,” jawab Elle.
“Em ... kenapa ya?” balas Markus, mengawang, menggosok dagu dengan jari telunjuknya. “Karena lagi sama kamu.”
“Ciiihh .... Dasar gombal!” Elle menekuk wajah, memonyongkan bibir, sebal. “Kalau mau gombal jangan ke pacar sendiri ya, Pak. Ke cewek lain sana!”
“Em ... nanti bisa dicoba sih,” jawab Markus menahan muka gelinya saat melihat mimik muka perempuan yang ada di sebelahnya. “Kalau selama ini sih belum pernah ya, sorry-sorry aja.”
“Belum pernah apa?” tanya Elle dengan nada tinggi. Memojokkan Markus yang tak berkutik.
“Belum pernah .... eeemmm .... belum pernah ketahuan. Hahahahha ....” balas Markus sambil tertawa lepas. Puas sekali rasanya membalas Elle.
Kalimat yang membuat Elle sebal. Memukul-mukul lengan kiri Markus. Merancu tidak jelas, mengumpat, menyumpahi Markus yang masih tergelak di sebelahnya.
“Dasar, nyebelin!! Awas ya kalau sampai ketahuan!” Elle mengancam, berkacak pinggang, memasang muka galaknya.
“Ye ... gitu doang marah. Bercanda aku tuh!” Tangan Markus memutar setir ke kiri. Di waktu yang tepat saat sedetik sebelum mobil sedan hitamnya berbelok. Memasuki gedung tinggi dengan sepuluh lantai menjulang.
Keempat rodanya berputar semakin pelan. Semakin pelan lagi hingga berhenti tepat di satu petak parkir yang masih kosong. Dua orang itu keluar mobil bersamaan. Berjalan dengan bergandengan tangan, berhenti di meja resepsionis.
Sekejap berhenti, mengisi lembar daftar sebelum kunci kamar hotel berada dalam genggaman tangan Markus.
“Kita bisa ke apartemenku, Kus. Kenapa kau suka sekali menghamburkan uang untukku?” ucap Elle sesaat setelah pintu lift terbuka.
Markus tersenyum sambil terus berjalan menuju kamar dengan nomor yang sama dengan angka yang ada di kunci di tangannya.
“Bisa untukku, tapi mungkin tidak untukmu. Aku rasa kau juga bisa bosan dengan suasana apartemenmu sendiri,” jawab Markus sambil membuka pintu kamar.
Elle tersenyum, laki-laki yang berjalan di sebelahnya ini tahu persis apa yang ia rasakan bahkan jauh sebelum ia ungkapkan. Kedua kakinya terus berjalan hingga mereka berdua tiba di kamar itu.
Tersenyum lagi saat sorot matanya jatuh pada pemandangan yang disuguhkan di luar jendela.
Membuatnya takjub, perasan yang sudah sekian lama tak pernah ia rasakan di tengah penatnya tugas dan berkas-berkas di kantor. Tersenyum, kedua bola matanya membulat sebab dari sini ia bisa melihat dengan jelas keindahan kota. Dari lantai sepuluh gedung yang mungkin akan jadi tempat mereka bermalam.
Namun tak lama kemudian, Elle memekik kaget saat sepasang tangan melingkar di pinggangnya dari belakang. Tangan yang menahan tubuhnya agar tidak menggeliat.
Pelukan hangat tercipta.
Membuat jantung Elle berdebar cepat bak sebuah kembang api pergantian tahun. Dengus napas laki-laki ini yang terasa di tengkuknya, aroma tubuhnya, hangat lengan yang memeluknya, bulu halus di garis muka Markus yang bersentuhan dengan leher jenjangnya.
Semua tentang pria ini tak pernah gagal membuatnya jatuh cinta berkali-kali.
Udara sejuk ruangan hotel dan wangi-wangian ruangan. Semakin membuat pelukan itu terasa sangat intim. Elle bisa merasakan wajah Markus bergerak, bibirnya bertemu daun telinga. Tepat sebelum satu kalimat lagi-lagi berhasil membuatnya tersipu.
“I love you more than 3 PM,” bisik Markus tepat di depan daun telinga Elle. “Let play some fun game. And forget what problem should happens.”
Bersambung ...