Panggilan pulang.

1382 Words
Sorot cahaya menembus celah jendela. Sinarnya bergerak bebas. Menjalar lewat udara, lewat permukaan kelambu yang tak tertutup dengan sempurna. Angin pagi bertiup lencang. Menyelip di antara bibir jendela. Meniup kain kelambu, menggesernya, membuat sinar matahari merasuk lebih banyak.   Turun, mengecup wajah Markus yang masih tertidur pulas.   Tenggelam di dalam tubuh kekar pria berdarah Indo Amerika itu. Bercampur dengan rasa lelah. Bahkan malam itu mungkin jadi malam paling melelahkan yang pernah tubuhnya rasakan. Bahkan hingga tak sempat membersihkan tubuhnya. Langsung tertidur begitu tubuhnya jatuh di atas pembaringan.   Alarm dari ponsel miliknya memekik sekali lagi. Setelah sebelumnya empat kali tertunda, pada akhirnya suara bising kelima itu berhasil membangunkan Markus. Melonjak kaget, membuka kedua matanya tiba-tiba.   “Aaarrrrggghhh .....!!!”   Laki-laki itu memekik, meringis. Bangun tidur dirajam dengan semua syaraf di tubuhnya terasa kaku dan mati rasa. Bahkan memutar wajahnya dari tengkurap ke telentang menghadap langit-langit kamar saja rasanya seperti perlu mematahkan belasan tulang.   Gemertak, seperti engsel ayunan yang lama tak pernah dibaluri minyak.   “Hah .... Apa yang semalam itu hanya mimpi?” tanya Markus dalam hati saat kesadarannya seratus persen telah kembali.   Membuka selimut yang melilit di tubuhnya kasar, membuang sejauh yang tangannya bisa.   “AAAAARRRGGGHHHH .....!!” Laki-laki itu memekik lagi. Rasa sakit tiba-tiba mendarat di persendian sikunya. Rasa sakit yang terasa hingga bahunya. Rasa sakit yang tiba-tiba mengembalikan ingatan Markus pada kejadian semalam.   Ia kembali ingat saat tubuhnya tersungkur dari kursi besi itu. Tersungkur karena tarikan tangan Rama di seragamnya, menyuruhnya berlari sejauh mungkin.   “MARKUS RUN!!”   Teriakan laki-laki itu melintas lagi di dalam kepalanya. Menggema di dalam telinganya. Seperti menggaung tak habis-habis dengan keras suara yang beragam.   Dari yang hanya suaranya, kini Markus bisa mendengar jelas dengus napasnya. Dari yang hanya suaranya, Markus bisa ingat wajahnya. Dari suaranya, muncul sorot tajam mata laki-laki itu. Sorot mata yang tak berubah dari dulu.   “AAAAARRRRGGGGHHHH .... !!!” Markus memekik sekali lagi.   Kakinya sudah turun dari ranjang. Terasa nyeri tepat di pergelangan. Mengerang saat coba mengangkat tubuhnya. Rasa sakit merajam hingga terasa ke seluruh tubuh. Membuatnya mengurungkan niat untuk berdiri. Kembali terduduk lemas di pinggiran kasurnya.   Rasa nyeri yang terasa sangat menyiksa. Ia jadi ingat saat kubangan air hujan bercampur lumpur malam itu. Lubang yang tak dilihat matanya sebab saking gelapnya. Ditambah hujan deras yang mengguyur.   Lubang yang membuatnya tersungkur, membuat tubuhnya terpelanting keras. Pasti lubang itu yang kini kakinya terkilir. Malam itu suasana yang mendesak di ambang hidup dan mati jadi aspirin.   Adrenalin yang terpacu membuat kakinya baru terasa sakit sekarang.   Membuatnya mengerang berkali-kali tiap mencoba menggerakkan kakinya lagi dan lagi. Mengusap wajah bangun tidurnya. Hingga akhirnya menyerah. Meluruskan kakinya lemas, putus asa setelah berkali-kali gagal mencoba berdiri.   Ini bukan mimpi, tadi malam bukanlah mimpi dan semua itu benar-benar terjadi.   “Rama? Masihkah kau hidup kawan?” tanya Markus lagi. Berbisik di dalam hati, berbicara pada dirinya sendiri.   Sedetik sebelum terdengar suara daun pintu kamarnya berputar. Seseorang muncul dari balik pintu saat pintu setengah terbuka. Wajah cerahnya bertatapan langsung dengan wajah kumal Markus.   “Oh kukira kau belum bangun,” ucap laki-laki yang masih satu umur dengannya itu. Menyilangkan tangan di d**a, memasang wajah hangatnya. “Sarapan ada di bawah kapan pun kau siap,” lanjutnya.   “Eh Rum! Sini bentar deh,” ucap Markus ke arah Rumi. Laki-laki yang seketika mendekat tanpa harus diminta dua kali. Markus menunjuk sesuatu di bawah ranjang, menunjuk ke arah kaki kanannya. “Tolong pijitin, sakit banget.”   “Oh pijit, kirain apaan.” Rumi merunduk, meraih pergelangan kaki Markus saat sudah dekat.   “Aaarrrgggghhh ...!! Sakit bego!” umpat Markus.   “Ye ... baru juga dipegang dikit. Bentar Rumi ambil minyak pijit,” ucap laki-laki itu sebelum kembali berdiri. Berbalik badan, mencari sesuatu di dalam lemari Markus.   Begitulah dua orang ini.   Rumi adalah penduduk setempat yang kebetulan ibunya pernah berhutang uang dengan Dwine, ayah Markus. Karena hutang sudah cukup lama tak kunjung berkurang, Dwine meminta ibu Rumi untuk jadi pembantu di rumah ini.   Membersihkan sekaligus menjadi pembantu jika ada orang yang berkunjung atau menginap di rumah ini, di daerah pedalaman Sumatra. Rumah dua lantai yang tampak paling mewah dari belasan rumah lain di kiri dan kanannya.   Kemarin, pagi hari saat Markus datang ke rumah. Ia menemukan Rumi, keduanya sudah lama akrab. Mereka sering bertemu apalagi seiring Markus sering menghabiskan waktu liburnya di rumah ini.   Jabatan dan pekerjaan tak membuat jarak di antara mereka berdua. Markus senang punya teman seumuran dengannya. Apalagi Rumi, bangga sekali rasanya punya kawan seorang penegak hukum.   “Habis jatuh lagi, Kus?” Ibu jari tangan Rumi sudah bergerak. Mengurut setiap lekukan di pergelangan kaki Markus. Meniti perlahan urat laki-laki itu dari bawah lutut hingga pergelangan kaki.   “Hhhe’eemmm ....”   Markus hanya bisa berdeham mengiyakan. Meringis, menggigit selimut tebalnya, menahan rasa sakit yang mengular dari ujung pergelangan kakinya. Tak terasa bahkan sampai bulir-bulir keringat membuncah dari pori-pori dahinya.   “ARRRGGGGHHHHHH .... !!!”   Laki-laki berteriak, memekik kencang saat tiba-tiba Rumi memutar pergelangan kakinya. Kasar, seperti menarik paksa tulang-tulangnya hingga terdengar suara gemertak keras.   Markus kaget bukan main. Apalagi nyeri yang rasanya seperti bertambah parah. Tersungkur di atas kasur, menggeliat, meringis menahan sakit.   Sementara Rumi dengan santainya berdiri, menyudahi aksi ekstremnya. Ringan sekali berjalan seperti tak terjadi apa-apa. Bergerak, berjalan menuju meja yang ada di seberang ranjang Markus. Mengambil satu batang rokok dari sana, kemudian menyulutnya.   “Maaf untuk itu, Kus. Tapi aku harus melakukannya meski rasanya seperti tertusuk sangkur bergerigi,” ucapnya lagi sambil meraih korden di dua jendela kamar Markus, membukanya lebar-lebar.   Membiarkan sinar matahari sepenuhnya menyiram tubuh laki-laki yang masih merintih kesakitan di atas ranjang tidurnya. Keringat tak hanya muncul dari dahinya. Tapi juga sekujur tubuh itu yang kini mengejang, menahan saki dari luka tak berdarah. Sakit yang tak bisa digambarkan. Melipat lututnya, memegangi kaki kanannya yang masih belum bisa digerakkan.   “Aku jadi penasaran, apa yang kau kejar semalam? Itu tadi syarafmu terjepit persendian. Kalau orang biasa pasti sudah pingsan menahan sakitnya. Tapi aku tahu laki-laki seperti apa dirimu,” ucap Rumi lagi dengan nada sangat santai. Tak tahu kawannya hampir kehilangan kesadaran akibat ulahnya.   Mengepulkan asap putih dari bibirnya. Membumbung, memenuhi ruangan. Sebelum beranjak, duduk di pinggir ranjang menemani Markus yang masih tergeletak meringis menahan sakit di pergelangan kaki kanannya.   “Sesuatu yang buruk terjadi semalam,” jawab Markus yang akhirnya bisa membuka mulutnya. Menghela napas panjang, menandaskan rasa sakitnya. “Aku bersyukur masih bisa hidup malam ini.”   Laki-laki bertubuh kekar berotot itu kini sudah bisa mengangkat tubuhnya. Menemani duduk Rumi di tepian ranjang. Menepuk-nepuk pundak laki-laki yang tubuhnya jauh lebih kurus dari dirinya itu.   “Terima kasih, lain kali kau perlu memberiku aba-aba untuk tindakan ekstrem seperti tadi. Sudah bagus nyawaku tak ikut tercabut saat berteriak,” ucap Markus yang kemudian membuat mereka berdua tertawa.   “Kuharap aku bisa mendengar cerita hebat tentang semalam suatu hari nanti,” ujar Rumi kembali. Tangannya terjulur, menawarkan sebungkus rokok yang sebenarnya juga milik Markus. “Ada yang bilang nikotin adalah obat terbaik untuk meredakan adrenalin.”   Markus tersenyum, mengambil satu batang rokok, menyulutnya. Mengisap lintangan tembakau favoritnya itu dalam-dalam, menghembuskannya perlahan.   “Lagi-lagi soal Rama. Kau tahu kan soal pria itu?” Markus melayangkan tatapan kosong matanya bersama kepulan asap. Mendarat di tembok putih yang ada di depannya.   “Tak banyak,” jawab Rumi singkat. “Kecuali kau mau membagiku lebih banyak, Kus.”   Markus tersenyum miring mendengar jawaban Rumi. “Ada banyak hal yang kau hanya perlu tahu akhir ceritanya saja, Rum.”   Nada dering tiba-tiba menyalak, memotong percakapan. Membuat kepala dua pria itu seketika berputar, mendarat di ponsel milik Markus yang masih tergeletak di atas kasurnya.   “Halo?” ucap Markus setelah menggeser tombol panggilan berwarna hijau ke atas layar.   Laki-laki di seberang telepon sana hanya terdiam. Terdengar hanya menghela napas panjang. Membuat Markus mengerutkan kening, menyipitkan mata.   “Pulang segera, atau simpan ucapan selamat tinggal pada sahabatmu selamanya.”   ‘Tut ... tut ... tut ... !!!!’   Panggilan berakhir begitu saja. Satu kalimat, satu pesan, panggilan mendadak. Kaget, heran, bercampur bingung. Tanda tanya besar muncul di atas kepala Markus. Apa itu tadi? Apa yang kini menunggunya?   Apa pun itu pasti ini semua berkaitan dengan satu nama. Tapi bukan itu yang jadi masalah, bukan Rama.   “Namun bagaimana ayah bisa tahu soal ini?” tanya Markus dalam hati. “Bagaimana petinggi kepolisian tahu soal Markus? Sampai kabar semalam menyebar secepat itu?”     Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD