Malam Terakhir.

1443 Words
“Lo gila?” pekik Markus mendengar satu nama yang disebut dengan jelas oleh laki-laki yang duduk menyilangkan kaki di depannya.   Irish, nama itu.   Nama yang terdengar hingga relung hati Markus. Perempuan yang sekaligus kekasih Rama sejak tiga tahun yang lalu.   “Ini bukan waktunya bercanda, Ram! Lo ngerti posisi kita kan?” lanjut Markus. Kembali duduk di kursinya. Mendesis, ikut menyilangkan kaki, menggeleng, memijat dahinya dengan kedua jarinya. “Perempuan itu tak akan merelakan perginya lo gitu aja, Kus!”   Rama tersenyum miring. Menatap hampa di tengah kegelapan yang menyelimuti mereka berdua “Memang apa lagi yang gua punya selain itu, Kus? Nggak ada.”   “I–iya apa aja. Nggak harus tentang Irish kan, Ram? Nggak harus tentang perempuan,” jawab Markus yang tak sabar. Berdiri, merunduk, menggebrak meja. Mendekatkan wajahnya pada Rama, menatap tajam bola mata Markus di dalam keremangan. “Ada yang lebih berharga dari hidup satu orang perempuan. Ayolah, bangun kawan!”   Tangan laki-laki berseragam itu menepuk dua pipi Rama. Seolah membangunkan laki-laki itu dari tidur panjangnya. Tapi yang ada, Rama justru terkekeh.   “Iya apa? Apa yang lebih berharga dari Irish, Ram? Apa?” tanya laki-laki itu balik. Menjauhkan sepasang tangan sahabatnya itu dari pipinya.   “Rumah? Mobil? Aset dan rekening gua? Saham di Singapura? Yayasan panti asuhan yatim piatu yang gua beri santunan? Apa? Jawab cepat!” bentak Rama tak sabar.   Petir menyambar lagi. Kilatannya memberi satu detik cahaya yang sangat terang. Tergambar jelas raut wajah Rama. Sorot matanya yang tajam. Garis rahangnya yang ditumbuhi bulu halus. Rambut ikalnya yang terawat, sedikit gondrong disisir ke belakang.   “Semua itu nggak akan ada artinya lagi saat ini semua selesai, Kus. Semua itu bakal ikut hilang pas gue udah nggak ada. Semua itu bakal ikut ke mana cerita ini selesai. Dan lo juga tahu hukuman apa yang bakal gua dapat di meja pengadilan bukan? Hukuman mati.”   “Hanya Irish, satu-satunya nama yang muncul di pikiran gua pas lo menawarin bantuan. Cuma perempuan itu, Kus! Nggak lebih!”   Rama menghela napas panjang. Jantungnya memompa jauh lebih cepat. Bayangan perempuan itu kembali melintas di pikirannya, hilir mudik di dalam menyesaki kepalanya. Pertemuan pertama mereka di sebuah toko bunga. Perkenalan mereka yang dirancang oleh Markus.   Paras ayunya, tubuh yang tak terlalu tinggi tapi menggemaskan. Bola mata coklat yang dalam. Barisan gigi yang rapi dengan dua gigi kelinci di barisan terdepan. Alis yang menjuntai cantik tanpa perlu tambahan coretan. Senyumnya, dunia seakan berhenti berputar saat perempuan itu tersenyum ke arahnya.   “Gua cuma nggak pengen senyum perempuan itu memudar, Kus. Gua nggak mau Irish menangis lagi. Karena gadis itu lah gua bertahan sejauh ini, Kus. Sebab gadis itu gua menemukan duniaku kembali. Sebab gadis itu juga gua kembali menemukan indahnya perasaan dicintai,” lanjut Rama mengakhiri kalimatnya.   Di luar kilatan cahaya muncul lagi. Seperti retakan langit yang besar. Seperti mengiring luapan emosi Rama. Tangan kekarnya mengepal di atas meja. Meremas, menahan kemarahannya.   Ia tak bisa mengendalikan ini semua. Sekali pun ingin, ia juga tak tahu harus mulai dari mana. Semua urusan ini jadi bertambah rumit. Tiga tahun bersembunyi dari Irish. Tiga tahun merahasiakan siapa dirinya. Tiga tahun yang tidak gampang.   “Pada akhirnya gua harus kalah juga,” ujar Rama lagi. Kali ini sembari tersenyum lega. Merasa dunianya telah cukup sekarang. Merasa tak ada lagi yang perlu lagi ia cari, tak ada lagi yang perlu ia kejar. “Terima kasih sudah membujuk gua buat berani kenalan dengan Irish, Kus.”   “Ram, plis!” Markus mengerutkan kening. Ia tahu semua kisah percintaan antara Rama dan Irish. Ia tahu betul bagaimana benih cinta itu ditanam hingga tumbuh dan mekar berbunga sampai detik ini. “Irish nggak bakal siap mendengar semua kenyataan ini, Ram. Dia nggak bakal siap berpisah sama lo!”   Rama tersenyum miring, menelan ludah, menghela napasnya dalam-dalam. “Sayangnya, tak akan pernah ada kata siap untuk sebuah perpisahan, Kus. Dan gua udah sadar apa yang setiap hari mengancamku selain kematian. Yaitu berpisah dengan Irish. Perpisahan yang akan terasa manis bagaimana pun akhir ceritanya.”   “Tapi Ram, apa yang bakal gue kukatakan pada Irish saat dia butuh lo?” tanya Markus.   “Kerja,” jawab Rama singkat.   “Kalau dia pengen ketemu lo?” tanya Markus lagi.   “Bilang aja gua lagi di luar negeri,” jawab Rama lagi.   “Kalau dia bilang rindu?” tanya Markus lagi. Kali ini dengan menambahkan tekanan di kata terakhir.   Membuat mulut Rama terkunci. Menelan ludah, membayangkan betapa kasihannya perempuan itu menanggung cinta mereka sendirian. Terpejam, berusaha mengikhlaskan semua kenangan tentang Irish yang melintas di pikirannya. Menghela napas panjang, membulatkan tekadnya.   “Bilang, bahwa dia bakal selalu jadi tokoh terbaik di seluruh chapter hidup gua dari awal hingga akhir,” jawab Rama sembari tersenyum meski terasa begitu sesak di dalam dadanya.   Laki-laki itu berdiri, meninggalkan Markus yang kehabisan kata-kata. Hanya memijat dahinya, memikirkan apa yang harus ia lakukan.   “Tapi bentar, gua kira malam ini masih cukup waktu untuk sebuah perpisahan bukan, Ram?” tanya Markus di tengah diamnya. “Masih cukup waktu untuk mengucapkan kalimat selamat tinggal pada Irish kalau lo mau.”   Tanpa Markus tahu, Rama punya insting yang jauh lebih kuat. Seluruh indranya terlatih untuk berfungsi dua kali lipat jauh lebih baik dari manusia biasa. Dan benar, malam ini firasatnya benar-benar terjadi.   Kilat menyambar lagi, lebih lama. Berbalas satu dengan kilatan yang lain. Tepat saat kedua mata Rama menangkap gerak-gerik mencurigakan. Perdu tinggi yang ada di barisan sawit bergerak. Bergoyang berlawanan dengan ke mana arah angin bertiup.   Kilatan kedua datang menyusul, menghapus lagi semua kegelapan. Semua yang tadinya hitam gelap sedetik seperti tersiram warna. Memberi cukup waktu bagi Rama untuk melihat dengan saksama. Mengerutkan kening, membesarkan pupil matanya.    Indra yang bekerja jauh lebih baik. Waktu sedetik sama dengan memberi dua detik waktu untuk Rama. Gerakan kilat, munculnya warna hingga hilang lagi terasa seperti bergerak lebih lambat.   Dan benar saja, di sana, tak jauh dari gudang ini, dibalik perdu yang tinggi sekitar sepuluh meter dari tempat ia berdiri matanya bisa menangkap dengan jelas.   “MARKUS RUN!” pekik Rama sambil mendorong tubuh laki-laki itu.   Membuat Markus terjatuh dari kursi. Sempoyongan secepat mungkin bangun, memekik karena pecahan kaca mengoyak kulit telapak tangannya. Tapi tak sempat mengeluh apalagi bertanya apa pun. Situasi ini, hidup dan mati.   Markus hanya tahu berlari secepat yang ia bisa. Gelapnya malam, tingginya rumput, deretan sawit, hujan yang deras.   Keduanya berlari terpisah. Tak tampak lagi ke mana Rama pergi. Tak terlihat lagi ke mana siluet bayangan hitam tubuh kurus itu pergi. Tak terdengar langkah kaki yang meremas dedaunan kering itu lagi.   Markus hanya tahu berlari, berlari dan berlari.   Tak peduli dengan apa yang di depannya. Melompat melewati pohon tumbang. Terperosok saat mendarat di tanah liat penuh kubangan air, susah payah berdiri lagi. Tubuhnya terseok, tapi dengan kesadaran yang ia punya , ia masih cukup kuat untuk berlari.   Debar jantungnya berdetak kencang seiring jumlah pasokan oksigen yang menipis di paru-parunya. Merunduk saat tiba-tiba ada ranting sawit. Tersungkur lagi, bangun lagi.   Markus bahkan tak sempat menengok ke belakang. Semuanya jelas, semuanya bisa diterima akalnya. Hidup dan matinya di pertaruhkan malam ini.   Semua yang ia tahu, semua yang ia pahami sekarang. Ia hanya punya pilihan untuk memacu langkah kakinya jauh lebih cepat, lagi dan lagi.   Tubuhnya masih terlatih untuk melakukan ini. Tubuhnya sudah  digembleng sejak lama di pelatihan kepolisian. Tubuhnya jauh lebih cepat dan kuat sejak masuk di asrama pelatihan itu. Neraka bagi para polisi-polisi muda.   Namun malam ini jelas beda. Malam ini malam berpuluh kali lipat beratnya dari latihan itu. Dipaksa berlari tanpa ancang-ancang. Dipaksa berlari di tengah derasnya guyuran hujan dengan sepatu pantofel kulit sapi tinggi. Dipaksa berlari di tengah gelap gulitanya malam.   Melompat melewati kubangan, mendarat di tanah yang licin. Menyibak rumput yang tingginya sepinggang orang dewasa. Meringis, menahan nyeri saat ranting-ranting kering melukai tubuh. Menyobek kulit di tangan dan wajahnya.   Markus hanya tahu lari dan lari, tak peduli sudah sejauh apa kini dirinya dengan gubuk itu. Hingga;   ‘DDDOOOOORRR ..... !!!’   Sebuah tembakan membuatnya tersungkur tiarap. Menyatu, bergulung di rumput yang bercampur duri-duri.   Suara tembakan yang terdengar sangat jauh di antara suara hujan. Refleks Markus meraba semua tubuhnya begitu tersadar apa yang terjadi. Terlalu sulit mencari ke mana peluru itu menyasar.   Sampai sebuah teriakan kesakitan menyusul terdengar dari tempat yang tak kalah jauh dari tempatnya tiarap.   ‘AAAAARRRGGGGHHHH .....!!!’   “Rama? Nggak, ini nggak mungkin!” sesalnya dalam batin. “Nggak mungkin, ini pasti mimpi. Ini pasti mimpi!”   Petir menyambar sekali lagi. Terasa jadi guntur paling besar. Ledakannya bahkan terasa hingga nyeri hati Markus. Laki-laki yang masih tak bergeming di kubangan tanah liat tempatnya tiarap. Hingga tak terasa air matanya mengalir. Menyusul hujan yang jatuh   Menyadari bahwa malam itu, jadi malam terakhir bagi mereka.     Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD