TITIP IRISH.

1365 Words
Darah Rama seakan berdesir cepat. Kalimat Markus barusan, kini benar-benar membuatnya naik pitam.   “Lo sadar sekarang siapa yang kejam di antara kita, Ram?” Markus beranjak duduk seberang meja. Mengangkat satu kaki kakinya, sambil meraih satu batang rokok dari atas meja.   “Jadi, untuk itu lo mengundang gua kemari?” Rama tak mau kalah. Menyandarkan tubuhnya di punggung kursi kayu yang tampak sudah reyot dimakan karat. Suara berdecit menyalak, menyelip di antara suara air hujan yang turun. “Hanya untuk menunjukkan betapa kejamnya lo dan rekan-rekan berseragam itu?”   Jelas saja pertanyaan Rama mengundang gelak tawa Markus. Membuat asap rokok mengepul tak beraturan dari mulut dan hidungnya.   “Gue kira lo akan bakal sedikit lebih pintar Rama. Gue kira bintang kelas ini akan semakin bersinar di dunianya sekarang. Lo nggak lihat di mana lo berpijak sekarang? Ini negara hukum Ram. Ini negara dengan undang-undang dasar sebagai acuan utamanya,” ujar Markus sambil mengisap lagi rokok yang diapit kedua jarinya.   “Justru itu!” Rama tak sabar, meraih satu batang rokok dari wadah yang sama. Menutup ujung pemantik api dengan telapak tangan. Menghalangi angin meniup api yang setengah detik kemudian sudah membakar ujung rokoknya.   “Bukankah itu berarti keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia masih dipegang teguh sampai detik ini?” lanjut laki-laki itu. Berbicara dengan membiarkan kepulan asap keluar dari bibirnya. Membumbung, sedetik kemudian lenyap dibawa angin.   “Memang itu yang terjadi,” balas Markus sambil tersenyum miring. Raut wajahnya terlihat jelas saat petir menyambar untuk kesekian kalinya.   Rama mengangkat kedua bahunya. Mata Markus masih bisa dengan jelas melihat siluet jaket hitam berbahan kulit sapi yang laki-laki kenakan itu terangkat. “Lalu? Bukankah anak buah gua juga rakyat? Kenapa masih ada timah panas yang menembus kulit dan daging kaki kirinya?”   “Itu adil,” jawab Markus ringan. Menjentikkan rokoknya. Membuat abunya luruh, terbang sedikit mengenai seragam polisinya. “Lo tahu pekerjaanmu melanggar undang-undang bukan? Kami hanya menegakkan keadilan untuk orang yang lebih banyak.”   “Lebih banyak kepentingan maksud lo?” potong Rama cepat. “Ram, lo tahu ada banyak nama mafia narkoba di negeri ini bukan? Gua bahkan sudah memberimu daftar nama-nama mereka.”   “Oh itu sederhana sekali,” potong Markus cepat. “Mereka semua hanya tinggal menunggu giliran. Dan lo harusnya juga tahu apa yang bisa mempengaruhi nomer antrian bukan?” telisik Markus.   “Uang?” jawab Rama singkat.   Markus terpingkal, tak mengira Rama akan berterus terang langsung soal itu. Keras tawanya mengalahkan suara hujan yang belum juga menunjukkan tanda akan beringsut reda.   Tawa yang membuat wajah Rama sahabatnya jadi tertekuk sebal. Sudah jelas sekali, itu adalah tanda bahwa tebakannya benar.   “Lo harusnya ngerti, Arya punya dua anak yang masih kecil dan seorang istri yang hanya seorang buruh cuci dari rumah ke rumah.” Rama menghela napas panjang. Mengingat laki-laki yang sekaligus anak buahnya itu. Mengingat kembali rekaman bagaimana darah mengalir deras dari kakinya. “Lo nggak punya hati, Kus! Arya sudah mengira siang itu aman. Lebih percaya karena ada lo di pasar itu. Petugas yang ia yakini bisa ia percaya.”   “Lo kira kami mau tahu soal itu, Ram? Lo kira kami hanya akan menangkap penjahat yang hidupnya tak punya beban?” tanya Markus balik. “Lo nggak akan ngerti keadaan ini sampai lo keluar dari perdagangan barang haram ini, Ram.”   “Gua nggak akan bisa, Kus! Sebaliknya, lo juga nggak bakal ngerti bagaimana kami memandang kalian para penegak keadilan, Kus! Lo cuman ngerti tugas dan tugas. Lo nggak akan ngerti seberapa busuk kami memandang kalian,” balas Rama tak mau kalah.   “Hati-hati lo kalo ngomong!” sambar Markus cepat.   “LO YANG HATI-HATI KALO NGOMONG!” potong Rama balik dengan suara yang lebih tinggi. “Lo liat siapa manusia paling naif di negeri ini? Siapa yang menyamar jadi kucing di tengah kawanan tikus? Penegak hukum mana yang tak pernah melakukan tindakan kriminal? Siapa yang paling pintar cuci tangan di negeri ini?”   “Naif?” tanya Markus balik. “Bukankah kalian juga naif, Ram? Liat sekeliling lo! Para bandar itu setia padamu bukan karena lo layak. Mereka hanya manusia-manusia naif. Mencari pembenaran dibalik kejahatan yang mereka lakukan. Menjual sabu atas nama kebutuhan. Menanam ganja atas nama kedamaian dan kesehatan. Menjualnya atas nama ekonomi dan anak istri. Apa namanya kalau bukan naif, Ram?”   Mulut Rama terkunci. Tersumpal dengan jawab Markus barusan, membuat percakapan mereka kembali terjeda. Jeda yang cukup panjang, tak ada yang bisa membantah. Tak ada yang bisa berkelit lebih panjang lagi. Semuanya sudah jelas terbuka di sini.   Nasib mereka berdua bak laut dan langit. Tak akan pernah bisa bersatu meski tak pernah jua bisa dipisahkan.   Semua kejadian malam ini, pertemuan mereka, bermula dengan peristiwa yang jauh dari kata sederhana. Satu hal yang kemudian jadi semakin rumit karena kegegabahan Rama.   Dua hari lalu, markas polisi tempat Markus bertugas diserang kawanan orang tidak dikenal. Dengan senjata laras panjang dan dua jenis peluru, karet dan timah, mereka berhasil masuk.   Jumlahnya sekitar lima belas orang. Menggunakan penutup wajah dan berompi anti peluru mereka masuk begitu saja seperti tanpa ada rasa bersalah.   Beberapa polisi yang ada di markas berhasil dilumpuhkan, semua tanpa kecuali. Peluru karet membuat mereka menang telak. Tak berpikir dua kali menembakkan laras panjang berisi peluru karet mereka ke arah petugas.   Petugas yang masih bersembunyi berusaha menghubungi bala bantuan. Tapi telat, listrik berhasil mereka padamkan lebih dulu. Membuat lima belas orang itu membabi buta, mengobrak-abrik markas seperti kawanan Ikan Piranha yang menemukan mangsa baru terjatuh di kolam kekuasaan mereka.   Melakukan apa yang mereka mau. Mengambil semua yang mereka perlu. Hanya butuh waktu singkat, tidak lebih dari lima menit.   Bantuan datang tak lama kemudian lewat panggilan ponsel pribadi petugas yang bersembunyi. Tapi semuanya sungguh terlambat. Markas polisi berhasil ditembus. Semua barang bukti narkoba kasus Arya lenyap dari lemari. Menyisakan laki-laki yang kaki kirinya diperban itu tersenyum licik di sudut sel jeruji besinya.   “Apa lo tahu wajah lo terekam malam itu?” ucap Markus melerai senyap percakapan. “Paling tidak lo harus tau itu sekarang. Lo yang harusnya masih bisa bernapas lega karena nama lo masih jauh. Jauh sekali dari daftar antrean yang gue pegang. Gua lakuin apa pun buat bisa bikin lo tenang, Ram. Udah nggak kehitung berapa kali gua bakar surat tugas penangkapan dengan nama lo tertulis jelas di atas map, Rama Pradana. Orang yang kini justru jadi penghancur rencana gue.”   Rama tersenyum miring. Wajahnya disorot cahaya bara api dari rokok yang dihisapnya. “Masih pentingkah informasi itu buat gue? Lo ngerti kan? Tak ada pilihan tanpa risiko. Dan gua kira, genderang perang ini harus lebih kencang disuarakan.”   Markus terkekeh, menikmati isapan terakhir rokoknya. “Semahal itu harga seorang Arya buat lo? Hah? Lo tahu kan? Lo nggak akan menang lawan penegak hukum negeri ini, Ram!”   “Ini bukan soal Arya, Kus! Bukan juga soal barang bukti yang hilang itu. Ini demi harga diri kami di mata semua bandar yang akan mendengar nama kami disebut di sebuah surat kabar. Ini soal harga dan rivalitas Kus,” jawab Rama sambil menggeleng, dua tangannya berkacak pinggang.   “Dengan semua risikonya?” telisik Markus dalam gelap.   “Jelas,” jawab Rama tanpa ragu. “Dengan semua harga yang pantas dibayar.”   Jawaban yang membuat Markus kebingungan. Menggaruk kepalanya yang tak gatal menggeleng bingung. “Baiklah, gue kira semuanya sudah jelas di sini. Gua tahu maksud langkah lo. Dan lo juga tahu kenapa gue mengajak lo bertemu di sini.”   Kalimat Markus terpotong, melirik jam tangannya. “Sial! Nggak keliatan,” dengusnya dalam hati.   “Sebagai sahabat lo, ada kah sesuatu yang bisa gue bantu selain perdebatan panjang tanpa ujung ini?” tanya Markus melanjutkan kalimatnya, suaranya melembut. Tidak terdengar lagi nada tinggi yang keluar dari otot-otor di lehernya.   Rama terdiam cukup lama. Tubuh kurus dengan wajah tegas itu mengawang. Semakin lama semakin jauh, semakin jauh hingga hilang. Di kehilangan paling jauh ia menemukan satu nama. Orang yang mungkin akan jadi pembuka cerita selanjutnya.   “Gua tahu waktu gue nggak lama. Gue tahu meski bukan lo orangnya tapi cepat atau lambat gue bakal diringkus. Gue cuma pesan satu hal ke Lo. Tolong, jaga Irish! Gua titip Irish, Kus.”   Petir menyambar sekali lagi, cahayanya jatuh di wajah Rama yang kini tampak mengiba.     Bersambung ....
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD