Irish

1799 Words
Tiga hari setelah hari menyebalkan itu ....   Mobil Toyota Crown Royal Saloon meraung menyelinap di antara deretan mobil di jalan artileri ibukota. Mesin 3000 cc dengan penggerak roda belakangnya tampak jauh lebih premium dari kendaraan di kiri kanannya. Semua mata seolah tertuju pada betapa berkelasnya mobil ini.   Apalagi saat di lampu merah. Satu gebetan knalpot cukup menarik perhatian banyak orang. Body hitam yang mengkilap, lengkap dengan jari roda HRE monoblok yang menambah kesam mahal pada mobil ini.   Sekitar satu jam yang lalu mobil ini keluar dari rumah. Dari sarang keluarga besar petinggi penegak hukum dengan rumah mewah bak sinema-sinema luar negeri.   Di dalam mobil seseorang tengah duduk dengan tenang. Menyimak lagu-lagu lama yang diputar dari ponselnya. Terhubung dengan bluetooth memutar lagu-lagu linkin park yang masih saja ia gandrungi sampai hari ini.   Keempat roda mobil kesayangannya memasuki kawasan pada lalu lintas. Hari sibuk di dua pasar yang ada di kiri dan kanan jalan sekaligus. Markus menatap jam di pergelangan tangannya. Melihat dua jarum jam di sana. Mendengus napas kesal, melepaskan setirnya.   Kemacetan mengular panjang di lampu merah. Sialnya, mobil Markus kini terjebak di dalamnya.   “Mana udah jam segini. Sialan emang,” umpat laki-laki itu. Matanya tak bisa lepas berkali-kali dari jam di pergelangan tangannya.   Tubuh proporsional yang berbalut jaket kulit hitam itu meraih ponselnya. Membuka kunci layar, mencari nomor Elle. Sedetik kemudian nada tunggu meraung. Sebelum   Sambil menunggu, Markus menginjak pedal gasnya, mengangkat sedikit pedal kopling, membuat mobilnya bergerak sedikit maju mengikuti kendaraan di depannya. Kalau tidak inisiatif begitu, bisa saja tempat kosong di depannya akan diisi motor-motor sialan yang tidak tahu diri.   “Hallo, Ndan. Dengan Elle, ada yang bisa dibantu?” “Hallo, El. Bisa kamu hubungkan saya dengan Pak Herlambang? Ada beberapa hal yang mau saya omongin,” balas Markus.   “Em ... maaf tapi Pak Herlambang belum hadir komandan. Tadi susah saya hubungi juga tapi beberapa kontaknya tidak aktif. Waktu saya telepon kantor, Bu Dewi bilang Pak Herlambang sedang menuju kemari, ke kantor kita.” Elle menjelaskan dengan bahasa yang sopan terhadap komandannya.   Mau bagaimanapun liburan telah usai. Dan tugas kesatuan harus mengedepankan profesionalitas. Elle tetaplah bawahan Markus meski mereka saling mencintai. Mereka tetap harus sadar posisi meski pernah seranjang berdua.   “Oh ya sudah, bagus kalau begitu.” Kalimat Marku terpotong, memajukan mobilnya sekali lagi. Sedikit lagi hingga benar-benar bisa keluar dari kemacetan sialan ini.   “Bilang sama beliau, saya sedang terjebak di jalan Cendana depan Pasar Kramasih. Em ... kemungkinannya sih aku bakal terjebak cukup lama. Macetnya gila banget hari ini. Jadi bilang saja pada laki-laki itu buat taroh semua laporannya di kantor saja,” lanjut Markus.   Elle tampak berdeham. Berbisik, mencatat poin yang di sampaikan Markus. “Siap, ndan. Ada lagi?”   “Tolong segera kamu cek juga semua laporan yang dibawa Pak Herlambang. Saya mau pas nanti sore kita meeting kesatuan semua bahan sudah siap. Mulai dari presentasi dan materi sampai anggota rapat pembagian tugas. Oh iya ada satu lagi.” Kalimat Markus terpotong lagi. Membuat gadis yang ada di seberang teleponnya penasaran.   “Apa itu komandan?”   Markus menghela napas panjang, menginjak gasnya sekali lagi, berhenti di antrean depannya. Menelan ludah ragu, berat rasanya meloloskan pertanyaan yang tercekat di lehernya.   “Sepertinya Pak Herlambang tahu banyak soal Rama, soal penangkapan itu. Aku ingin kau mengulik sedikit tentang itu,” ujar Markus.   Elle terdiam, tak menjawab sepatah kata pun. Hanya dengus napas dan keraguan yang terdengar dari telepon Markus.   “Tapi kalau kau takut atau ragu, kau selalu punya pilihan untuk tidak melakukannya. Aku juga tahu persis bagaimana perawakan laki-laki itu. Lakukan apa yang mungkin dilakukan, lupakan yang tidak mungkin kau dapatkan. Hanya itu,” tandas Markus.   Sementara di ujung telepon Elle memijat kening. Masih dengan pena yang menggantung diapit di sana. Masih dengan ponsel yang menempel di daun telinganya. Berdeham, berkecamuk dengan dirinya sendiri.   “Ad ... ada lagi, Komandan?” ucapnya dengan suara bergetar.   “Satu lagi, El. Satu dan yang paling penting,” jawab Markus. Mobil hitam mengkilap yang ia tunggangi akhirnya keluar dari kemacetan. Lolos dari lampu merah, melenggang bebas, mengarah ke sisi luar pasar.   “I miss you till we meet again,” lanjutnya sebelum memutus panggilan. Menyisakan Elle yang seketika tersipu sekaligus sebal. Belum sempat ia membalasnya laki-laki itu sudah memutuskan panggilannya, menyebalkan sekali.   Tapi hanya sebentar bertahan sebelum sebuah mobil tugas memasuki parkiran kantor kesatuan Elle. Mobil jeep hitam dengan sablon logo harimau tercetak dengan jelas di kedua sisinya. Menggambarkan kesatuan dari mana mobil itu berasal. Seseorang turun dari sana sedetik setelah pintu terbuka.   Elle berdiri, membenahi jas juga kemeja dan rok setinggi lututnya yang ia kenakan, tersenyum ke arah laki-laki itu. “Selamat datang, Pak Herlambang.”   Sementara itu mobil mewah milik Markus sudah terparkir rapi. Setelah beberapa menit yang lalu berkutat dengan kendaraan lain yang keluar masuk pasar. Seorang tukang parkir mengarahkannya, meniup peluit, melambaikan berdera merah kuning di tangannya.   Kini laki-laki yang berpenampilan rapi itu sudah berjalan meninggalkan parkiran. Dua kaki bersepatu kulit sapi itu mengantarkannya pada sebuah kios pasar. Sepetak ruangan yang tampak paling nyentrik dari kejauhan.   “Mbak saya mau dong, sebuket bunga yang terbaik dan paling mahal,” ucap Markus. Sengaja menggoda seseorang yang sedang sibuk dengan buku dan pena di hadapannya.   Terang saja, wanita itu seketika mengangkat wajahnya. Menyibak rambut panjangnya yang sebelumnya tergerai turun. Matanya, pipi cubby yang dihiasi dua lesung pipi, dan wajahnya yang menggemaskan itu kaget. Menyorot Markus dari ujung kaki hingga atas kepala.   “Ya ampun, Mas Markus. Ini benaran?” Gelagapan, berdiri menyingkirkan beberapa sisa bungkus makanan dari atas mejanya. “Silakan, Mas duduk. Duh jadi panik sendiri saya. Aduuuhhh ... maaf-maaf lagi berantakan banget nih kios saya.”   Menarik satu kursi, meletakkannya di depan meja kerjanya. “Duh mari duduk, Mas.”   Markus tersenyum, beranjak dari tempat berdirinya. Berjalan dengan pelan menuju kursi yang sudah disiapkan gadis itu. “Jangan bertingkah ssperti baru saja melihat hantu, Rish! Aku kan manusia biasa.”   “Ya Tuhan, siapa yang tidak panik coba, Mas. Kenapa nggak ngabarin Irish dulu kalau mau mampir. Sebentar, saya ambilkan minum ya,” jawab gadis itu lagi sebelum tubuhnya menghilang ditelan pintu belakang.   Menyisakan Markus yang duduk sendirian di dalam kios bunganya.   Dua rak yang tersusun rapi di tengah. Berisi bunga-bunga dengan warna cerah. Lily, beragam mawar, melati, sebaris bunga Daisy, anyelir merah dan putih tulang, Bunga Kacapiring yang aromanya paling juara, beragam warna bunga Ranunculus, Bunga Peoni yang tampak berantakan tapi cantik, Bunga Hydrangea, Bunga Bakung, Bunga Tulip dan masih banyak lainnya yang Markus tak tahu namanya.   Sementara di tembok kiri dan kanan masih ada lagi beberapa bunga yang cocok dijadikan hiasan dinding. Seperti Kaktus dengan kelopak yang beragam, Sukulan, Bunga Petunia, Bunga Lavender, Bunga Bougenvile, Bunga Anggrek hingga teratai mini yang dibuatkan pot khusus.   Belum puas mengamati semua bunga yang ada di sini, tubuh Irish muncul dengan dua botol air mineral di tangannya. Tersenyum ke arah Markus yang terpikat dengan bunga-bunga koleksinya.   “Diminum, Mas. Pasti haus banget kan,” ujar Elle sembari meletakkan dua botol air mineral di atas meja.   Markus menarik kursinya lagi, kembali duduk, bersandar menghadap Irish berbatasan dengan meja. “Makin lengkap aja koleksi bunganya nih aku liat-liat.”   Tangan Markus bergerak, mengambil botol di depannya. Menguntir tutup botol, sesaat sebelum tenggorokannya bergerak naik turun seiring air segar itu mengalir melewatinya.   Irish terkekeh pelan, tersipu dengan pujian sederhana itu. Pipi cubby-nya memerah, lesung pipinya tercetak jelas seiring dua ujung bibirnya yang tertarik.   “Bisa aja, iya nambah koleksi aja Mas dikit-dikit. Lagian persaingan penjual bunga sekarang juga bukan main. Aku kalau tidak mengikuti mereka bisa buru-buru gulung tikar. Ini aja masih kurang banyak menurutku.”   “Hah? Segini? Masih kurang banyak?” Markus melongo, matanya berputar menatap sekeliling ruangan yang bahkan sudah hampir tidak muat diisi pot baru. Beberapa dari bunga-bunga itu bahkan sudah ada yang disusun di rak depan dekat pintu masuk.   “Iya Mas, serius masih kurang banyak ini. Sekarang para pemilik vendor pernikahan dan tata panggung sudah mulai merambat ke persewaan bunga juga. Jadi ya ... mau nggak mau,” balas Irish lemas.   “Oh I see ... maksud kamu, kalau kamu tidak bisa menyewakan vendor pernikahan. Paling tidak kamu bisa nyewain ke mereka kalau mereka butuh. Gitu kan?”   “Seratus buat, Mas!” Irish bertepuk tangan kecil. Bersorak-sorai heboh sendiri.   “Oh iya, aku lihat-lihat lagi repot banget kamu tadi pas aku baru dateng. Ngerjain apaan?” tanya Markus. Kepalanya mendongak, mengintip lembaran kertas yang tertutup kepala Irish.   “Oh tugas kuliah, Mas. Irish sekarang kuliah loh,” jawab gadis itu sembari tersenyum, memamerkan barisan gigi putih rapi miliknya.   ‘UHHHUKKKK ... !!!’   Demi mendengar jawaban Irish barusan Markus sampai tersedak. Hampir memuntahkan air di mulutnya meski berhasil ia tahan. Isih yang panik segera berdiri menghampiri, tapi Markus melambai. Menahan gadis itu agar tetap duduk di kursinya.   “Sorry-sorry, aku kaget aja baru tahu kalau ternyata sekarang kamu kuliah. Kuliah di mana Rish? Ambil jurusan apa?” tanya Markus sembari membenahi posisi duduknya lagi.   “Deket situ kok, Mas. Ambil manajemen keuangan, ya kan secara aku udah nggak punya bapak atau ibuk. Jadi mengatur keuangan itu kayaknya perlu aku cari tahu sendiri deh,” jawab Irish. Menyandarkan tubuhnya ke kursi, menopang dagu dengan tangannya.    “Benar juga,” sahut Markus. “Tapi pekerjaanmu ini? Apa tidak terganggu dengan kuliahmu? Secara kan kamu harus jaga toko. Harus bolak balik kampus. Bunga di depan juga ada banyak, nggak mungkin kan masukin lagi, keluarin lagi, capek bolak-balik.”   “Em ... sementara ini belum sih, Mas. Karena kan masih MABA ditambah lagi kuliah belum terlalu aktif. Tapi udah ada rencana juga kok mau cari teman jaga. Biar bebas mau ditinggal pergi-pergi,” terang Irish.   Markus menyimak semua kalimatnya sambil mangut-mangut. “Iya bener sih. Kamu harus mulai mikir itu dari sekarang. Tapi selama Mas nggak pernah ke sini, nggak ada preman-preman pasar yang gangguin lagi kan? Atau justru semakin banyak?”   “Emmm ....” Irish berdeham panjang, mengawang langit-langit kiosnya, seing ia lakukan saat bingung atau berusaha mengingat sesuatu. “Seinget Irish sih udah nggak ada ya, Mas. Terakhir kayaknya mampir ke sini bertiga. Anak buahnya nyelonong duluan, baru mau minta uang eh si bosnya narik pergi sambil bisik-bisik. Inget kalau mereka pernah dapet bogem mentah dari Mas Markus kali ya, hahaha ....”   Keduanya tertawa terpingkal-pingkal. Siapa yang mengira Irish masih ingat momen itu. Hari di mana Markus menghajar dua orang preman pasar yang hendak menyatroni kios bunga milik Irish. Dua preman yang berakhir terkapar di atas trotoar berlumut.   Tawa mereka surut, Irish terlihat mendongakkan kepala lebih tinggi. Seperti mencari sesuatu di balik tubuh Markus.   “Nyari apa?”   Ehh ... engg–enggak kok, Mas.” Irish kikuk, salah tingkah sendiri. “Mas Markus tadi datang sendiri? Mana Mas Rama, Mas? Udah hampir seminggu dia nggak ada kabar sama sekali. Mas Rama apa kabar Mas?     Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD