“Eh ... em ... Mas Rama, anu ....” Markus seketika dibuat kikuk dengan pertanyaan Irish. Jelas saja, ia sendiri tidak tahi di mana Rama sekarang. “Ada kok dia di apartemen. Tapi kan emang aku dari kantor tadi. Jadi nggak sempet ngajak Rama. Hhehe ....”
“Oh em ... jadi Mas Rama nggak ikut ya,” wajah cerah yang tadinya riang itu seketika surut. Jadi mendung dengan mimik muka dan mata yang gerimis. “Irish Cuma khawatir, udah seminggu lebih Mas Rama nggak ngasih Irish kabar. Apa dia nggak kangen sama Irish ya Mas?”
Markus pura-pura melonjak kaget. Keningnya mengerut, menatap heran ke arah gadis yang menundukkan wajah di depannya. “Loh apa iya? Perasaan hubungan kalian baik-baik saja.”
Irish menggeleng, rambut panjang hitam polos sebahunya melambai. “Nggak, Mas. Iy ... iya Irish nggak tahu ini firasat Irish saja atau bagaimana tapi yang jelas ada yang aneh dengan sikap Mas Rama. Seperti ada yang coba ia tutup-tutupi.”
Percakapan siang ini entah sejak kapan mulainya tiba-tiba berubah jadi dingin. Orang-orang yang lewat di depan kios seolah belum bisa mengurai kesunyian di antara Markus dan Irish. Mereka berdua terjebak di dalam suasana yang memuakkan.
Irish tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan Markus yang berusaha lari dari fakta bahwa ia tahu semuanya. Ia ada di malam itu. Ia mendengar erangan kesakitan di antara suara hujan malam itu.
Tapi sungguh, Markus tak akan mengatakan itu pada Irish. Ia akan terus merahasiakan semua kejadian malam itu, termasuk tentang siapa sebenarnya Rama.
Rama adalah laki-laki yang cerdik. Markus mengakuinya, termasuk dalam hal bersembunyi. Tiga tahun menjalan hubungan istimewa dengan Irish. Tiga tahun mereka berpacaran. Tiga tahun pula Rama menyimpan rapat-rapat tentang identitas aslinya sebagai mafia narkoba.
Waktu yang selama itu mereka berdua tempuh, adalah salah satu alasan Markus mengunci mulutnya. Tak bisa pria itu bayangkan akan sehancur apa Irish saat mendengar semua fakta itu.
Dan tugas Markus sekarang, adalah menjaga baik-baik Irish. Pacar titipan sahabatnya sejak sekolah menengah pertama itu.
“Mas ...!” Irish membuyarkan lamunan Markus.
“I–iya, Rish. Sorry ... sorry, kamu tadi ngomong apa?” jawab Markus gelagapan. Melonjak kaget, membenahi posisi duduknya.
Irish menatap Markus dengan tatap mata anehnya. Metanya menyorot mata Markus tajam. “Ada yang aneh. Mas Markus sakit? Atau kecapekan? Nggak biasanya seorang petugas sampai melamun. Makanya kalau lagi capek tuh istirahat, Mas. Jangan maksain, ntar celaka loh.”
Tangan gadis itu tidak tinggal diam. Mengambil beberapa lembar tisu yang ada di sebelahnya. Bergerak cekatan, mengelap keringat yang entah sejak kapan berbuih di dahi Markus. Mengelapnya, mengusapnya dengan lembut.
Angin segar bertiup, mata mereka bertemu. Adegan singkat itu berubah jadi romantis.
Waktu seakan bergerak lebih pelan dari sebelumnya. Jemari lentik Irish untuk pertama kalinya menyentuh wajah Markus. Wajah dengan rahang besar dan tegas ditumbuhi bulu halus itu.
Markus tersipu, untuk pertama kalinya mendapatkan perlakuan selain dari Elle. Dan sialnya, Irish menyadarinya. Membiarkan tangannya berlama-lama di sana. Mata Markus yang dalam seperti menghipnotisnya.
Laki-laki itu tampak berkali-kali lipat lebih tampan. Lebih maskulin, lebih berkarisma dari sebelumnya.
Hingga tak terasa tangan Markus sudah menangkap tangannya. Kulit mereka bertemu, telapak tangan pria itu mengusap lembut punggung tangannya yang tertahan di pipinya.
Wajah mereka berdua tak terasa semakin dekat. Seperti terisap, seperti saling tarik menarik. Meja yang membatasi mereka berdua semakin terpangkas.
Irish menelan ludah. Tidak, ia tak boleh tergoda dengan Markus. Akalnya masih berjalan, tapi mau bagaimanapun keadaan ini sangat dirindukan hatinya. Kehangatan yang ia harap bisa datang dari Rama.
Namun nyatanya Markus juga menawan. Tampan dan menggoda, wajah laki-laki itu semakin dekat sekarang. Ia tak hanya bisa pasrah. Membiarkan kepalanya semakin maju. Tak bisa melakukan lebih banyak selain mengikutinya, menarik tangannya yang tertahan di pipi Markus saja rasanya tak sanggup.
Jarak wajah mereka sekarang semakin dekat dan Irish semakin hilang akal. Debar di dadanya mengambil alih tubuhnya. Makin lama makin dekat, hingga tak terasa kini dirinya mulai memejamkan matanya. Memiringkan kepalanya, bergerak semakin dekat.
Jarak mereka kurang dari sejengkal, mereka berdua sama-sama tahu apa yang mereka mau sekarang.
“Kriiing ..... !!!”
Dering panggilan dari ponsel di saku celamasuk tiba-tiba menyalak. Mengagetkan Markus dan Irish sekaligus. Membuat mereka kikuk bersamaan. Irish menarik tangannya, menundukkan kepala, menyembunyikan wajahnya yang tersipu malu.
Sementara Markus buru-buru meraih ponsel sialannya. Yang tadi itu baru saja, sedikit lagi. Sedikit lagi bibirnya sampai di bibir Irish. Semua seperti sulapan yang terjadi dalam waktu yang singkat.
“Hallo ...!!”
“Hallo, Ndan. Ada beberapa hal yang perlu segefa kau tahu. Bisakah kau datang lebih cepat?”
Markus menelisik jam di pergelangan tangan kanannya. Pukul sebelas lebih dua puluh menit, tak terasa sudah lama sekali ia menghabiskan waktu di tempat ini. Matanya berpindah, menatap Irish yang masih salah tingkah. Pura-pura melanjutkan tugas kuliahnya yang sempat tertunda.
“Iya, El. Saya meluncur ke markas sekarang. Baru saja keluar dari kemacetan yang menyebalkan itu. Semoga paling lima belas menit lagi. Tak apa kan?”
Perempuan di seberang telepon itu berdeham. Terdengar ragu, mengingat sesuatu yang mengganjal di hatinya. “Semoga bisa lebih cepat dari itu. Aku menunggumu segera.”
‘Tut ... tut ... tut ....’ Panggilan terputus, menyisakan Markus yang menghela napas panjang.
Mengernyit, tersenyum miring menatap Irish yang diam-diam mengamatinya di balik kaca mata bundar berbingkai hitam miliknya.
“Mbak Elle?” Irish tidak sabar, melayangkan pertanyaan itu pada Markus yang tengah memasukkan ponsel ke dalam sakunya kembali.
“Iya,” pria itu mengangguk. Meraih botol air mineral, meneguknya beberapa kali. “Ada pekerjaan yang menungguku di kantor.”
Irish mangut-mangut, bermain dengan pena di sela-sela jarinya. Berputar, menyelip di antara telunjuk dan jari tengahnya. “Apa kabar dia, Mas?”
“Siapa yang kau maksud? Elle?”
Irish mengangguk. “Lama sekali rasanya tidak bertemu dengan perempuan itu. Terakhir sebelum kalian jadian kan?”
“Oya?” Markus mengerutkan kening. Membuat kedua ujung alisnya bertemu. “Hampir setengah tahun yang lalu dong. Kami jadian hampir enam bulan soalnya.”
Gadis itu mengangkat kedua bahunya sedikit terkekeh kecil. “Iya mungkin segitu. Aku juga tidak tahu pastinya, Mas. Tapi yang jelas, Mbak Elle cantik sih. Cocok banget sama Mas Markus, apalagi kantornya sama. Bisa tiap hari ketemu.”
Markus menelan ludah. Ia tahu ke mana arah percakapan ini. Apalagi menatap wajah Irish yang tadinya terkekeh tapi dengan wajah sendu. Seperti tengah menertawakan nasibnya sendiri.
“Andaikan aku bisa bertemu dengan Mas Rama setiap hari,” gumam gadis itu lagi. Kali ini dengan nada sedih. Suaranya tipis seperti menutupi kesepiannya.
Markus meraih punggung tangan Irish. Jemari kekarnya mengusap lembut tangan yang tampak lebih mungil dari tangannya itu. Irish yang kaget dengan perlakuan Markus mengangkat wajahnya.
“Kamu masih punya Mas Markus kalau kesepian. Kamu udah aku anggap sebagai adekku sendiri,” ucap Markus sembari tersenyum hangat. Berusaha menghangatkan hati Irish yang kedinginan menunggu Rama datang.
“Jangan Mas,” balas irish. Kembali tertunduk lesu, menarik tangannya dari usapan hangat jemari Markus. “Irish dan Mas udah punya masing-masing. Kita nggak boleh begini, Mas.”
Sejujurnya, jauh di dalam hati Irish tiba-tiba saja perasaan itu muncul. Entah dari mana tapi yang jelas, Markus di matanya sekarang jadi berbeda.
Dari yang sebelumnya tak berarti apa-apa, jadi segalanya. Dari yang tidak menarik, sampai jadi yang paling ia cari. Dari yang tidak perlu, hingga jadi yang paling ia butuh.
Namun itulah yang kini jadi paling ia takuti. Tidak, tidak mungkin ia bisa jatuh cinta secepat ini. Dan tidak mungkin Markus orangnya.
Laki-laki itu adalah sahabat pacarnya. Laki-laki itu punya derajat yang jauh lebih tinggi dari dirinya. Laki-laki itu punya perempuan yang lebih cantik dari dirinya. Mustahil bagi Irish untuk mendapatkan Markus. Mustahil bagi Isih untuk meraihnya dari arah mana pun.
Bukan-bukan, bukan mustahil, dari awal memang harusnya ia tidak jatuh cinta dengan Markus. Perasaan ini harus ia bunuh segera.
“Aku lanjutin perjalanan ke kantor dulu ya, Rish.” Markus berdiri, merapikan jaket hitamnya, mengancingkan kembali kancing teratasnya. “Jaga diri baik-baik di kios. Sama good luck buat kuliahnya.”
Irish menyusul berdiri. Tapi terdiam tak menjawab kalimat Markus. Sejujurnya ia masih merasa kikuk dengan apa yang terjadi tadi. Yang benar saja, tadi itu sedikit lagi. Hampir saja bibirnya bertemu bibir laki-laki yang berdiri di depan pintu kiosnya ini.
Hampir saja ia mengkhianati Mas Rama, berciuman dengan sahabat Mas Rama sendiri. Perasaan apa ini? Kenapa justru sekarang hatinya terasa berbunga-bunga? Kenapa rasanya sama persis dengan kali pertama Mas Rama tiba di kios bunganya?
Tapi kalau benar ini cinta, mana mungkin ia bisa mencintai dua laki-laki di waktu bersamaan? Mengakui bahwa ia mulai tertarik dengan Mas Markus saja bahkan rasanya sudah berlebihan.
Menyadari perempuan itu tengah melamun Markus meninggalkannya. Kalimat pamitnya bahkan masih menggantung tanpa jawaban. Tak apa, ia bisa datang lagi lain waktu.
Kedua kakinya, berjalan pelan. Pasar yang mulai sepi dan daun-daun kering pohon yang berjatuhan di trotoar mengiring langkah kakinya. Menghela napas panjang, menyadari kejadian tadi.
“MAS MARKUS!!!” Irish berteriak.
Meski sudah cukup jauh Markus melangkah, tapi ia masih bisa mendengarnya. Membuat langkah kakinya terhenti. Memutar tubuhnya menatap Irish yang berdiri mematung di depan kiosnya.
“HATI-HATI YA! MAMPIR LAGI LAIN WAKTU!” teriak gadis itu lagi.
Markus tersenyum mengacungkan jempol, melampai ke arah Irish. Sebelum kemudian memutar tubuhnya lagi, meneruskan perjalanannya yang sempat tertunda.
Di dalam hati, sebenarnya Markus tengah mengutuki dirinya sendiri. Sepanjang jalan menuju parkiran, sepanjang trotoar dengan berbagai macam kios di sisi tubuhnya.
Ternyata benar kata Elle, bagaimana bisa ia tertarik dengan Irish?
Gadis itu seratus delapan puluh derajat dengan Elle, berbeda jauh, sangat jauh. Elle gadis yang berani, Irish gadis yang pemalu. Elle gadis yang tegas, Irish gadis yang bimbang. Elle gadis yang bertubuh ramping, Irish punya tubuh yang jauh lebih berisi.
‘AARRRGGGHHH ....!!!’
Tidak, ini tidak bisa dibiarkan. Ia tak mau melanggar omongannya pada Elle. Ia tak mau jatuh cinta dengan Irish. Ia tak mau tergoda dengan gadis itu.
Tapi kejadian tadi benar-benar di luar kemauannya. Mata teduh gadis itu, empatinya seakan bicara untuk menolong kesepiannya. Setidaknya sedikit menghibur wanita itu sejak kepergian Rama karena kesalahannya.
Markus menghela napas panjang sekali lagi, meredam pikirannya yang berkecamuk. Setelah memberikan beberapa lembar uang pada tukang parkir kemudian masuk ke dalam mobil, menggebrak kemudinya.
“Kenapa ini semua jadi begitu rumit, Ram? Kenapa aku jadi kasihan dengan Irish? Kenapa aku jadi jatuh hati padanya? Kenapa, Ram? Kenapa? Kenapa kau harus pergi malam itu? Kenapa kau harus menerima undanganku?”
Dan tanpa Markus tahu, mulai detik ini, perasaannya pada Irish semakin tak bisa ia kendalikan lagi.
Bersambung ...