Kali ini, walaupun dengan hidung yang berdarah-darah. Meski dengan wajahnya yang mulai terasa mati rasa. Markus jauh lebih siap dari sebelumnya. Serangan yang datang pertama kali tadi. Serangan yang membuatnya tersungkur, terpelanting. Satu detik, tidak. Kurang dadi satu detik Markus harus bisa menghindar. Tidak sempat berpikir dalam kondisi seperti ini ia hanya bisa menajamkan instingnya sebagai petarung. ‘TAAAPPPP ... !!!’ Markus melompat mundur satu kali. Memberinya jarak yang cukup. Satu tangannya turun, menopang seluruh berat badannya. Persis sebelum kedua kakinya melayang di bawah. Orang pertama, orang dengan mata terluka itu berhasil menghindari sledingan kakinya. Tapi tidak dengan orang kedua. “BAKKK ... !!!’ Suara benturan terdengar begitu keras saat punggung kaki Markus

