Inilah saatnya, ini saat yang sudah Markus tunggu. Untuk ini ia marah di kantor tadi. Untuk ini Elle sampai terluka. Untuk ini ia harus mengenakan seragam pengap dan menyebalkan. Untuk ini juga ia harus merepotkan Dokter Tomi. Markus menarik napas panjang. Debar jantungnya berpacu jauh lebih cepat. Bulir-bulir keringat dingin beranak pinak di dahi dan wajahnya. Takut? Mungkin. Namun yang jelas semua perasaan buruk itu kini campur aduk jadi satu. Tangannya terangkat, ia paksakan meski bergetar hebat. Gugup memutar kunci pintu lemari besi di depannya. Dari sini saja Markus sudah bisa memastikan bahwa laki-laki itu benar-benar telah mati. Laki-laki itu pergi selamanya, meski bayangan semasa ia hidup masih terus melintas, berseliweran di dalam kepalanya. Senyumnya, sua

