“Cukup, El. Semuanya sudah selesai. Semua selesai,” ujar Markus. Berbisik di telinga Elle yang menangis di dalam pelukannya. “Aku takut, Kus. A ... aku takut!” Suara Elle serak, pita suaranya bergetar. “A ... aku minta maaf ka–karena membuat semua ini rumit, Kus.” “Bukan, El. Ini semua bukan salahmu. Bukan salahmu sayang.” Markus mengusap punggung Elle. Mengeratkan pelukannya, meski terhalang seragam mirip astronot menyebalkan ini. “Ini bukan salahmu. Ini bukan salahku. Bukan salah semua orang. Rama sudah tenang di tempat pantas. Tak perlu lagi sembunyi, tak perlu lagi lari-larian.” Markus tersenyum di balik maskernya. Menatap Dokter Tomi yang duduk di sudut meja. Mata mereka berdua bertemu dalam sebuah hangat tatapan. Mendengar kalimat Markus barusan laki-laki itu tersenyum.

