Setengah jam kemudian, Luna keluar kamar setelah berganti pakaian menjadi lebih pantas dengan suasana hati yang tak menentu.
“Hari ini menjadi hari pertamaku jadi istri tapi sudah ditinggal sama suami,” gumamnya lirih.
Dalam rencananya malam tadi, ia membayangkan bagaimana ia bisa membayangkan situasi mereka saat di meja makan. Tapi itu semua harus buyar setelah mendapati secarik kertas berisi pesan dari suaminya.
Detik berikutnya, Luna menggelengkan kepalanya keras. Berusaha menepis pikiran yang menari liar di dalam benaknya.
“Mungkin saja memang ada urusan mendesak.”
Lagipula tadi malam keduanya sudah mengobrol banyak dan meyakini bahwa semua ini hanya perlu sedikit waktu untuk saling mengenal.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah yang tampak luas untuk ukuran tinggal sendiri dan beberapa asisten rumah tangga yang turut membantu merawat rumah beserta tuannya.
Rumah ini memiliki gaya interior yang dingin dan kaku dengan perpaduan warna hitam dan abu-abu. Kombinasi yang pas untuk rumah tinggal seorang pria lajang dan entah kenapa Luna sedikit merasakan kemisteriusan.
Cukup lama Luna tertegun di tempatnya sebelum seseorang menginterupsi lamunannya.
“Sudah bangun, Nyonya Luna?”
Luna sontak menoleh dan mendapati seorang wanita paruh baya dengan rambut yang sudah memutih hampir seluruhnya itu tersenyum hangat.
“Saya Mbok Marni. Asisten Rumah Tangga disini. Kalau Ibu ada apa-apa, bisa panggil saya ya.”
“Panggil saya Ibu saja, Mbok.” Luna membalas sapaan Mbok Marni dengan sedikit kikuk karena tak terbiasa mendapatkan panggilan itu.
Mbok Marni memberikan anggukan mengerti.
“Saya sudah siapkan sarapan di meja makan. Mari saya antar.”
Luna tak punya pilihan selain mengikuti Mbok Marni menuju meja makan yang bersebelahan dengan dapur bersih dengan mini bar itu.
“Mbok? Yang mau sarapan ini siapa saja?” Luna mengerjap beberapa kali saat melihat beberapa jenis hidangan di meja makan.
“Karena saya belum tahu selera makan Ibu Luna seperti apa, jadi saya buatkan beberapa pilihan. Kalau misalkan Ibu menginginkan yang lain, saya bisa buatkan.”
“Nggak usah, Mbok. Saya sebenarnya makan apa saja tak masalah.”
“Baik, Bu. Kalau begitu saya ke belakang dulu. Kalau ada apa-apa bisa panggil saya ya.”
Saat Mbok Marni sudah berbalik dan hendak pergi. Luna kembali memanggilnya dan membuat wanita itu kembali menoleh.
“Kalau Bapak … suka sarapan apa?” tanya Luna dengan hati-hati.
“Bapak tidak pernah sarapan, Bu.”
“Oh … begitu.” Luna termenung sesaat. “Pagi tadi Mbok tau kalau Bapak berangkat ke kantor?”
Mbok Marni mengangguk.
“Biasanya pulang jam berapa, Mbok?”
“Tidak tentu, Bu. Seringkali sih malam.”
Luna tersenyum tipis sebelum akhirnya Mbok Marni pun pamit dari pandangannya. Membiarkan Luna sendiri sambil menikmati sarapannya dan juga hati bergejolak apakah ia sebaiknya bertanya pada suaminya sendiri?
***
Tak banyak yang bisa Luna lakukan selama hampir seharian. Karena ia masih mendapatkan day off dan seluruh deadline sudah ia selesaikan jauh sebelum hari pernikahan.
Di ruang tengah rumah Yudha, Luna hanya duduk di sofa sambil memandang televisi yang tak benar-benar ia tonton. Sesekali matanya melirik ponsel yang teronggok di sampingnya. Setengah berharap ada pesan masuk dari suaminya.
“Apa aku yang menghubungi duluan ya?” tanya Luna pada dirinya sendiri yang sudah diulang cukup berkali-kali.
Tapi ada sesuatu yang lain menahannya. Dan membiarkan waktu terus bergulir yang terasa cukup lama.
Ketika sore hari menjelang, Luna menyadari bahwa Mbok Marni tampak sedang memasak dibantu dengan satu orang lain yang tampak lebih muda. Seketika itu pula wajahnya berubah menjadi sedikit lebih cerah dan langsung mempersiapkan diri untuk menyambut kepulangan suaminya.
Luna tak bisa masak. Itu adalah fakta yang Yudha ketahui dari awal dan untungnya ia tidak mempermasalahkan.
Ketika jam sudah menunjukkan waktu lewat dari jam makan malam. Wajahnya sudah berubah menjadi murung.
“Bu ….” Mbok Marni memanggil.
Sontak Luna mendongak dan mendapati wanita paruh baya itu sudah berada di dekatnya tanpa ia sadari.
“Ya, Mbok?”
“Bapak tadi berpesan kalau Ibu diminta untuk makan duluan. Katanya juga jangan menunggu, karena kemungkinan besar akan pulang malam.”
Luna hanya bisa mengerjap setelah mendengar penuturan dari Mbok Marni yang terdengar sangat berhati-hati itu. Terlihat wajahnya diliputi oleh rasa cemas yang terpatri jelas.
‘Kenapa? Kenapa dia tidak langsung menghubungiku saja? Kenapa harus lewat Mbok Marni?’ Luna bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Ia ingat betul bahwa mereka sudah pernah bertukar nomor telepon. Adalah hal yang mustahil jika pria itu tak punya nomornya. Jika Yudha tak mengirimkan pesan langsung padanya, hanya ada satu alasan yang terpatri dalam benaknya.
Bahwa Yudha memang tidak ingin melakukannya.
Luna menyunggingkan senyum getir.
“Bu?” panggilan Mbok Marni menginterupsi lamunannya dan membuatnya mendongakkan kepala. “Mau saya panaskan dulu Sop Iga-nya?”
“Nggak usah, Mbok.” Luna bersuara lirih.
“Ibu nggak mau makan?”
“Sudah kenyang.”
Yang lebih tepatnya adalah tidak berselera makan.
Mbok Marni sukses mengerutkan kening keheranan. “Saya tidak melihat Ibu menyentuh makanan sejak tadi.”
Luna tidak menjawab, lalu ia bangkit dari duduknya dan menatap Mbok Marni sekali lagi.
“Saya masuk ke kamar ya, Mbok. Kalau Bapak pulang, tolong siapkan makan malamnya yah.”
Tanpa menunggu jawaban dari Mbok Marni, Luna sudah melangkahkan kakinya menuju kamarnya dengan gontai.
“Aku tahu kita menikah karena dijodohkan, tapi bukankah ini sudah keterlaluan, Mas? Kamu anggap aku apa?” suaranya terdengar lirih dan bergetar.
***
Pada menjelang tengah malam, sebuah mobil sedan berhenti sepenuhnya di halaman luas rumah. Diikuti dengan seorang pria yang turun dari mobil dan melangkah gontai menuju pintu depan.
Suasana malam itu sudah remang-remang karena pencahayaan yang memang sudah diturunkan.
Yudha berhenti sejenak di tengah rumah dengan mata terpaku pada satu pintu yang sudah tertutup rapat.
Seorang pelayan menghampirinya dengan tergopoh-gopoh.
“Mbok Marni,” sapa Yudha tanpa menoleh.
“Mau saya siapkan kembali makan malam, Pak?”
“Nggak usah, Mbok. Saya sudah makan di luar. Ibu sudah makan kan?”
Mbok Marni tertegun. Tidak langsung menjawab.
“Mbok?” Yudha menelengkan kepalanya. Menunggu wanita paruh baya yang sudah ia kenal sebagai asisten yang royal kepada keluarganya itu tampak kesulitan untuk menjawab.
“Ibu Luna tadi tidak makan malam, katanya sudah kenyang. Tapi sebenarnya saya tidak melihatnya makan apapun sejak tadi siang,” jelas Mbok Marni kemudian.
Yudha menghela napas panjang. “Ya sudah, nanti biar saya yang ngomong. Mbok tidur saja ya, sudah malam ini.”
Wanita itu memberikan anggukan mengerti dan akhirnya membalikkan badan.
Detik berikutnya, Yudha kembali melangkah menuju pintu kamarnya. Membukanya dengan perlahan.
Pandangannya langsung tertuju pada Luna yang tampak sudah tertidur pulas dengan satu lampu nakas yang dibiarkan menyala. Kakinya kembali melangkah mendekati Luna.
Begitu wajahnya terlihat cukup jelas, langkah kakinya berhenti. Sorot pandangannya berubah menjadi sendu. Di hadapannya kini terlihat seorang wanita yang tak asing baginya.
‘Aku belum terbiasa melihatmu. Melihatmu yang akhirnya berada disisiku. Padahal dulunya adalah sesuatu yang mustahil,’ ujar Yudha dalam hatinya.
***