Aku berlari mencari dimana motorku yang kurasa hilang di curi di tempat parkir, bagaimana itu bisa terjadi?
Aku jelas jelas ingat bahwa motor itu ku parkir di depan sebuah toko buku, namun sekarang lenyap, bahkan tak seorangpun melihat siapa yang membawanya.
Aku berlari tanpa arah seperti orang gila, terlintas wajah mama yang lelah mencari uang tentunya selain untuk biaya sehari hari dan sekolah, kreditan motor yang aku bawa inipun masuk dalam daftar panjang tagihan bulanan mama.
Tiba tiba aku memasuki sebuah pemukiman padat penduduk namun sepi.
Rumah berhimpitan namun tak seorangpun yang kau temui.
Aku berlari ketakutan, takut ada orang jahat yang kau temui dan tak ada seorangpun yang akan menolongku.
Nafasku tersengal namun kakiku tak merasa lelah sedikitpun.
Akhirnya aku melihat seseorang, manusia kah?
Aku mendekat, ia berdiri beberapa meter dariku.
Dari belakang bisa ku ketahui bahwa itu seorang pria, wajahnya tak terlihat karena nia sedang menundukan kepalanya.
Sebuah cahaya dan suara yang teramat kencang yang berasal dari kiriku membuatku menoleh.
Oh tidak!!!
Kereta api!!!
Apa pria ini tidak tahu dia sedang dalam bahaya?
Atau memang ia sengaja ingin bunuh diri?
Aku berlari sekuat tenaga, meraih tangan pria di depanku lalu menariknya dengan kencang hingga kami bersama sama jatuh ke tanah.
"Ahhhhh..." teriaku.
Namun buru buru aku bangkit untuk melihat pria yang tadi aku tarik tangannya untuk melihat keadaanya.
Bukannya berterimakasih, pria itu malah menatap ku dengan tatapan penuh amarah.
Ada sedikit rasa takut saat melihat kedua matanya, namun segera kutepis rasa itu karena bagaimanapun aku sudah menyelamatkan nyawanya.
"Kamu gila ya? Kamu bisa mati tadi."
Pria itu bangkit, dan tanpa berbicara sepatah katapun ia berlalu meninggalkanku yang masih bingung.
"Hei hei!!!" teriakanku tetap tak di hiraukannya.
Aku kembali teringat tujuanku hingga sampai ke tempat ini.
Aku sedang mencari keberadaan motorku.
Akupun bangkit dari tempatku tadi terjatuh dan saat aku melihat kembali kedepan, pria tadi sudah menghilang.
Ah...masabodo dengan orang lain yang terpenting sekarang urusanku sendiri.
Namun baru melangkah beberapa langkah, tanganku terasa dingin ada yang menyentuh, aku terjaga.
Mama tengah duduk dihadapanku, membangunkan aku serta adik adikku.
"Bangun ...kalian harus sekolah. Ayo sudah siang..." dengan setengah berteriak mama menyentuh tangan kami satu persatu.
Memang sudah menjadi tabiat mama dari dulu, ia tak bisa bersikap lembut sedari dulu.
Masih setengah sadar, aku menghela nafas lega, ternyata tadi hanya mimpi, untunglah.
Jantungku serasa hampir copot bila teringat motor yang kuparkir hilang.
Tapi...tangan yang kutarik tadi serasa nyata, bahkan tatapan mata pria yang tadi ku tolong masih terngiang di ingatanku.
Sudahlah, mimpi adalah bunga tidur, dan aku harus kembali ke realita, menghadapi hidup yang sebenarnya membuatku hampir tak ingin hidup.
***
Aktifitas Sheryl dan kedua adiknya serta mama Arini seperti biasa setiap paginya.
Mandi dan sarapan serta menata diri untuk berangkat sekolah sementara mama Arini mulai membuka rukonya yang ia jalankan kembali.
Ruko kecil dengan sebuah kamar di belakang tempat mereka berteduh dan mencari nafkah.
Setelah sarapan, Sheryl dan kedua adiknya menunggu jemputan untuk mengantar mereka ke sekolah.
Bukan angkutan umum namun papa Fahri yang akan datang menjemput mereka setelah terlebih dahulu menimang nimang istri barunya yang manja.
Walaupun sudah berpisah dengan mama Arini namun papa Fahri tetap menjalankan perannya sebagai seorang ayah, hanya saja ia tidak bisa tinggal dengan ketiga putrinya karena mereka lebih memilih tinggal mama nya dari pada dengan papa dan istri barunya.
Jam dinding di pintu gerbang sekolah Sheryl sudah menunjukkan pukul 07.05 menit.
Sudah seperti hari hari berikutnya memang ia sering kali dtang ke sekolah terlambat.
Selain harus menunggu kedatangan papanya yang memang jarak rumahnya agak jauh dari tempat ia tinggal, namun juga karena papanya harus mengantar adik adiknya terlebih dahulu di SD dan SMP yang jaraknya lebih dekat dari tempat ia bersekolah.
"Seperti biasa. Langganan terlambat" begitulah sapaan selamat pagi yang biasa Sheryl terima dari guru BP yang biasa menertibkan murid murid seperti Sheryl.
Namun baginya sudah lah menjadi hal yang biasa.
Ia lelah membenarkan dirinya sendiri karena memang begitulah keadaannya, ia memang selalu terlambat.
Tak menunggu pengarahan apapun, ia hanya mencatat nama dan kelasnya, karena hukuman kaan menantinya bila poin keterlambatannya sudah menumpuk, ia berlalu menuju kelasnya, mengikuti pelajaran yang membosankan menurutnya, dan menunggu jam istirahat lalu pulang.
Tak ada hal yangmenarik di mata Sheryl di sekolah itu, walaupun sebenarnya tempat ia belajar adalah sekolah terbaik di kotanya.
Hatinya tak berada disini sejak dulu.
Ini bukanlah sekolah pilihannya.
Andai saja waktu itu mama nya tak memaksanya untuk bersekolah di sekolah favorit itu, tentunya ia tak perlu merasakan perasaan asing dan dingin sampai hari ini.
Ya, ada seseorang di hatinya namun tak disini.
Pria itu, pria yang melambaikan tangannya di pintu gerbang, tnpa berkata sepatah katapun, hanya mengisyaratkan selamat tinggal karena tidak di terima di sekolah tempat Sheryl menuntut ilmu sekarang.
Berkali kali penyesalan berkecambuk dihatinya.
Baru kali ini ia menyesal terlahir sebagai gadis cerdas, ia harus berpisah dengan pujaan hatinya yang nilainya melesat jauh di bawahnya.
Tapi itu Sheryl yang dulu, yang cerdas ceria dan mudah bergaul.
Dan kini ia lebih menjadi gadis yang pendiam, bahkan otaknya sulit untuk mencerna kata kata orang yang berhadapan dengannya,
Entah apa yang ada di pikirannya.
Hanya diam dan diam yang bisa ia lakukan.
***