CHAPTER 1

877 Words
Andai bunuh diri itu tak berdosa, mungkin sudah lama aku melakukannya. Aku merasa hidupku sudah tidak berarti lagi. Memiliki keluarga yang tak utuh, di jauhi sanak saudara, bahkan teman pun aku merasa tidak punya. Kenapa hidup bisa berubah seperti ini? Padahal dulu aku punya kehidupan yang bisa dikatakan benar benar kehidupan. Keluarga yang utuh, banyak teman, prestasi yang bagus, hidup yang berkecukupan, walaupun aku bukan terlahir dari keluarga berada. *** Namaku Sheryl Lintang, aku sulung dari tiga bersaudara yang kedua saudaraku juga perempuan. Agysta Tiffani dan Maura Delisha adalah kedua adikku. Kami bertiga tinggal di sebuah rumah kecil dengan kedua orang tua kami, papa Fahri dan mama Arini. Hidup kami bisa di bilang berkecukupan, kedua orang tua kami selalu mencoba memenuhi segala kebutuhan kami agar kami tidak berbeda dengan anak anak yang lain. Mama yang cantik yang pekerja keras, beliau seolah tak pernah mengenal waktu untuk membantu papa yang sibuk juga. Bahkan aku dan adik adikku hampir setiap hari jarang bersenda gurau dengan kedua orang tua kami karena kesibukkan mereka. Papa seorang pekerja swasta, sedangkan mama punya sebuah rumah makan yang ia kelola sendiri bersama tiga orang anak buahnya. Walau terkadang aku serta adik adikku juga ikut membantu di saat usaha keluarga kami sedang pesat. Usaha mama memang berkembang begitu cepat, bahkan dalam waktu singkat, kami bahkan bisa membeli sebuah rumah kecil walau hanya memiliki dua kamar tidur. Padahal dulu, tiap kali waktu jatuh tempo pembayaran uang sekolah, baik aku dan adik adikku sering sekali terlambat karena ongkos sekolah yang mahal ditambah orang tua kami harus menanggung biaya tiga anak sekolah sekaligus. Bila teringat saat beberapa kali aku di tegur oleh guru karena keterlambatan itu, membuatku merasa malu dan rendah diri di hadapan teman temannku yang notabene nya anak anak dari kalangan berada. Namun kestabilan keluarga kami ternyata tidak berlangsung lama. Saat aku duduk di bangku kelas tiga SMP, sementara Agysta kelas satu SMP dan sikecil Maura baru kelas empat SD, malapetaka itupun akhirnya tiba. Orangtua kami akhirnya berpisah setelah beberapa bulan terakhir pertengkaran demi pertengkaran mereka lakukan baik di belakang maupun di depan kami, anak anak nya. Umpatan demi u*****n serta makian mereka lontarkan, tak teringat sama sekali masa masa indah kebersamaan selama sembilan belas tahun lebih mereka bersama. Ya, usia pernikahan orang tuaku memang sudah lama padahal aku baru berumur empat belas tahun waktu itu. Karena kondisi kesehatan mama Arini memang yang sulit memiliki keturunan. Berbagai cara orang tuaku lakukan agar mereka memiliki momongan, dan setelah penantian panjang akhirnya lahirlah aku, kemudian kedua adikku yang lumayan berjarak usia dengan ku. Namun sekarang hilang sudah, musnah sudah, keluarga kecil kami hancur berantakan. Mereka seolah melupakan keberadaanku dan adik adikku, masih dengan keegoisan masing masing, mempertahankan argumen keduanya dan membenarkan keyakinan masing masing. Tatapan penuh cinta yang biasanya papa Fahry lemparkan ke mama Arini kini beralih menjadi tatapan penuh kebencian dan rasa muak begitupun sebaliknya. Bahkan air mataku dan kedua adikku seolah tak bernilai di mata mereka. Dan terputuslah, mama akhirnya meninggalkan kami bertiga di tangan papa, dan beliau kemabli ke rumah nenek. Jangan tanyakan nenek seperti apa yang kami miliki. Seorang nenek yang sama sekali tak pernah menganggapku dan kedua adikku sebagai cucunya, dan seorang ibu yang sama sekali tak pernah menjatuhkan hatinya pada mama ku. Entah dosa apa aku dan keluarga ku di kehidupan kami yang dafhulu, hingga aku harus berada dalam situasi yang tak dseharusnya aku terima saat ini. Di saat semua anak sedang mernikmati masa remaja mereka, bermain dengan kawan kawannya, tanpa memikirkan harus makan apa besok, bisakah masih tetap berangkat ke sekolah seperti biasa, atau kita harus tidur dimana malam ini, Dan itulah yang aku pikirkan kala itu. Setelah dua tahun perpisahan kedua orang tuaku, papa menikah lagi dengan seorang gadis yang usia nya tak terpaut jauh dari ku, seseorang yang lebih pantas di panggil 'mbak' dari pada mama. Lalu, dimanakah mama Arini sekarang? Beliau tinggal tak jauh dari lingkungan kini berada, merngontrak sebuah ruko kecil, dan tetap meneruska usahanya, tentunya tetap untuk membiayai aku dan adik adikku bersekolah. Kenapa bukan papa? Ya, dia sedang sibuk dengan keluarga barunya, dan tersingkirlah aku serta kedua adikku. Rumah yang dulu kami tinggali, sekarang di tempati papa dan istri barunya. Jangan ditanya kemana tempat usaha mama dulu. Tentunya itu sudah papa jual dan uangnya di habiskan untuk menikahi gadis itu. Aku dan adik adikku dendam? Jawabannya adalah tidak. Kami bertiga bukan tipe wanita seperti ini. Karena apa? Kasih sayang papa sama sekali tidak berkurang, beliau bahkan bersikap lebih baik dari pada dahulu saat bersama mama. Mungkin ini sebuah penebusan rasa bersalahnya karena beliau merasa sudah menghancurkan masa kanak kanak kami. Mama juga sering berpesan pada kami, kalau papa adalah apapa yang baik, beliau adalah contoh yang baik, cukup mama saja yang membenci papa, bukan kalian. Begitulah mama, mungkin nanti aku dan adik adikku akan menemukan jawabannya setelah kami dewasa nanti. Karena kami memang b elum cukup umur, waktu itu, untuk memahami bagaimana pola pikir orang dewasa sesungguhnya. *** Sebuah ruko kecil dengan sebuah kamar berukuran2x2,5m itu di tinggali mama, aku, Agysta dan Maura. Kami bertempat, para wanita, mulai berjuang lagi dari nol, memulai hidup baru. Namun ternyata memulai sesuatu setelah kehancuran dahsyat itu sesuatu hal yang sulit. Dan itulah yang aku alami. Masa remajaku begitu terasa sulit untuk kulewati. Entah bagaimana perasaan adik adikku. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD