𝖸𝖺𝗇𝗀 𝖳𝗂𝖽𝖺𝗄 𝖣𝗂𝗄𝖺𝗍𝖺𝗄𝖺𝗇

1186 Words
β€œNay, kamu lihat hp-ku?” Raka berdiri di depan lemari, suaranya biasa saja, tapi matanya bergerak cepat mencari sesuatu. Nayara, yang sedang melipat baju, menoleh ke arahnya. β€œAku rasa ketinggalan di kamar kemarin. Aku taruh di meja belajar.” Raka mengangguk cepat, lalu berlari ke kamar. Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya. Nayara memperhatikan punggungnya sampai menghilang di balik pintu. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang munculβ€”perasaan kecil yang sulit dijelaskan. Beberapa menit kemudian, Raka keluar lagi. Wajahnya sudah kembali seperti biasa. β€œMakasih ya,” katanya singkat. β€œIya.” Hanya itu. Percakapan selesai. Tapi sesuatu terasa berbeda. Siang itu rumah terasa sepi seperti biasanya. Nayara duduk di ruang tamu dengan buku terbuka di pangkuannya, tapi matanya tidak benar-benar membaca. Pikirannya terus kembali ke pagi tadi. Khususnya cara Raka mengambil ponselnya. Dia langsung membuka layar dan menunduk beberapa detik lebih lama dari biasanya. Nayara rasa itu hal kecil. Tapi cukup untuk meninggalkan jejak. Nayara menghela napas panjang. Dia mencoba mengusir pikiran itu. "Jangan curiga tanpa alasan,” batinnya. Sore hari, hujan turun lagi. Kali ini tidak deras, hanya rintik-rintik yang membuat udara terasa dingin. Nayara berdiri di dapur. Dia mengaduk sup perlahan. Uap hangat naik dan mengaburkan pandangannya sesaat. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan masuk dari Raka. "Pulang agak malam ya. Ada kerjaan." Nayara membaca pesan itu beberapa detik. Biasanya ia akan langsung membalas dengan emoji atau kata singkat. Hari ini, ia hanya mengetik: "Iya, hati-hati." Jawaban terasa lebih jauh dari biasanya malam ini. Malam sudah datang. Jam di dinding menunjukkan pukul sepuluh, lalu berganti menjadi sebelas. Raka masih belum pulang. Nayara duduk sendirian di ruang tamu dengan hanya satu lampu yang menyala. Televisi di ruang tamu menyala tanpa suara. Pikirannya terasa kosong, tapi hatinya merasa sangat gelisah. Ia tidak tahu kenapa rasanya menunggu Raka pulang terasa lebih berat dari biasanya malam ini. Ketika pintu akhirnya terbuka, Nayara langsung menoleh ke arah suara itu. Raka masuk ke dalam rumah, melepas sepatunya, kemudian meletakkan tasnya di tempat yang biasa dia letakkan. "Kamu belum tidur?” tanyanya dengan nada penasaran. "Belum” jawabnya singkat. "Kok belum tidur?” tanyanya lagi, ingin tahu alasan di balik itu. "Menunggu” jawabnya, tanpa banyak penjelasan. Raka terdiam sebentar, memikirkan jawaban itu, lalu tersenyum kecil. β€œNggak perlu nungguin aku,” katanya dengan santai. Tapi, ada semacam jarak yang tidak terlihat di antara mereka. Mereka makan malam dalam diam. Suasana tidak canggung, tapi juga tidak hangat. Raka sering melihat ke ponselnya. Cuma sebentar, tapi cukup sering sampai Nayara sadar. Nayara pura-pura tidak melihat, tapi hatinya tetap mencatat. Malam semakin larut ketika mereka akhirnya masuk kamar. Raka langsung berbaring, memejamkan mata. Nafasnya terdengar teratur, seolah ia benar-benar lelah. Nayara duduk di tepi ranjang, mematikan lampu, lalu ikut berbaring. Gelap memenuhi ruangan. Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba layar ponsel di meja samping ranjang menyala sebentar, hanya satu detik, tapi sudah cukup untuk membuat Nayara membuka mata. Ia tidak bergerak, tidak mengambil ponsel itu, hanya menatap samar cahaya yang perlahan padam. Nayara merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, yaitu keraguan, dan ini bukan karena ada bukti atau kata-kata, tapi karena diam yang terasa berbeda. Di sampingnya, Raka masih memejamkan mata, tenang dan diam, seolah tidak ada apa-apa yang berubah. Padahal, tanpa mereka sadari, jarak kecil sudah mulai tumbuh di antara dua orang yang tidur di ranjang yang sama, Nayara dan Raka. Layar ponsel itu menyala lagi beberapa saat kemudian. Kali ini lebih lama. Nayara masih memejamkan mata, tapi ia belum benar-benar tidur. Cahaya samar yang menembus kelopak membuatnya sadar, tapi ia menahan diri untuk tidak bergerak. Di sampingnya, Raka perlahan membuka mata. Gerakannya sangat pelan, hampir tak terdengar. Ia meraih ponsel itu, menutup sebagian layar dengan telapak tangan agar cahayanya tidak terlalu terang. Nayara bisa merasakan kasur bergerak sedikit. Sunyi kembali turun. Beberapa detik. Lalu suara sangat pelanβ€”seperti orang mengetik. Nayara menahan napas. Ia tidak tahu kenapa hatinya tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya ia takutkan. Mungkin tidak ada apa-apa. Mungkin hanya pesan kerja. Tapi kenapa harus disembunyikan? Pertanyaan itu muncul begitu saja, membuat dadanya terasa sesak. Tak lama kemudian, kasur bergerak lagi. Raka meletakkan ponselnya kembali, lalu berbaring seperti semula. Napasnya kembali teratur. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tapi Nayara tahu… sesuatu baru saja terjadi. Ia membuka mata perlahan, menatap langit-langit yang gelap. Malam terasa panjang. Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan. Nayara bangun dengan kepala sedikit berat. Ia duduk di tepi ranjang, merapikan rambutnya, lalu menoleh ke samping. Raka sudah tidak ada di tempat tidur. Suara air dari kamar mandi terdengar. Ia berdiri, melipat selimut pelan, mencoba mengusir perasaan aneh yang masih tersisa sejak semalam. Mungkin ia hanya terlalu banyak berpikir. Mungkin. Di dapur, aroma kopi memenuhi udara. Raka sudah duduk di meja makan ketika Nayara keluar dari kamar. Ia terlihat seperti biasaβ€”rapi, tenang, bahkan sempat tersenyum kecil ketika melihatnya. β€œPagi,” katanya. β€œPagi,” jawab Nayara pelan. Ia duduk di seberang Raka, menuang teh ke cangkirnya. Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya masih terasa jauh. Mereka makan tanpa banyak bicara. Sesekali Raka melihat jam di pergelangan tangannya, seperti sedang terburu-buru. β€œKamu ada meeting pagi?” tanya Nayara akhirnya. β€œIya.” Singkat. Tidak ada penjelasan tambahan. Setelah sarapan, Raka bersiap berangkat. Seperti biasa, Nayara berdiri di dekat pintu, mengantarnya. Kebiasaan kecil yang dulu terasa hangat, kini terasa seperti rutinitas yang dilakukan tanpa sadar. β€œHati-hati di jalan,” katanya. β€œIya.” Raka sempat mengusap kepala Nayara pelan sebelum pergi, gerakan yang dulu selalu membuatnya tersenyum. Hari ini, Nayara hanya diam. Pintu tertutup. Dan rumah kembali sunyi. Siang itu, Nayara mencoba menyibukkan diri. Ia mencuci, merapikan lemari, bahkan membersihkan dapur lebih lama dari biasanya. Tapi setiap kali berhenti sejenak, pikirannya kembali ke satu halβ€”Semalam. Cara Raka bangun pelan. Cara ia mengetik dalam gelap. Hal kecil yang mungkin tidak berarti apa-apa… tapi cukup untuk membuat hati tidak tenang. Nayara menghela napas panjang, lalu duduk di sofa. Ia menatap jam di dinding. Waktu berjalan seperti biasa. Tapi perasaannya tidak. Sore menjelang ketika ponsel Nayara bergetar. Pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Ia membuka pesan itu perlahan. β€œKamu Nayara, ya?” Nayara mengernyit. β€œIya. Ini siapa?” Beberapa detik berlalu sebelum balasan muncul. "Maaf kalau mengganggu. Aku cuma mau bilang… jaga suamimu baik-baik.” Darah Nayara terasa dingin. Jari-jarinya berhenti di atas layar. Ia membaca pesan itu berulang kali, mencoba memastikan bahwa ia tidak salah membaca. Jaga suamimu baik-baik. Kalimat sederhana… tapi terasa seperti ancaman yang samar. Nayara mengetik balasan, lalu menghapusnya. Mengetik lagi, lalu menghapus lagi. Akhirnya ia hanya menulis: β€œMaksudnya?” Pesan itu terkirim. Tidak ada balasan. Satu menit. Lima menit. Sepuluh menit. Nomor itu tidak menjawab lagi. Nayara menatap layar ponselnya lama sekali, sampai akhirnya layar itu padam dengan sendirinya. Di dalam dadanya, perasaan yang sejak semalam hanya berupa firasat… kini mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih nyata. Bukan kepastian. Belum. Tapi cukup untuk membuatnya sadarβ€”Mungkin, ada sesuatu yang selama ini tidak ia lihat. Pesan itu tidak pernah dibalas lagi. Tapi sejak saat itu, Nayara tahuβ€”ia tidak lagi sendirian dalam rumah tangganya. TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD