Seperti Angin Yang Lewat

1388 Words
Pagi itu terasa biasa saja, tidak ada yang istimewa. Langit cerah, udara tidak terlalu panas, dan aroma teh hangat masih memenuhi rumah setelah Nayara menyeduhnya. Nayara berdiri di dapur, menuang teh ke dalam dua cangkir, seperti yang ia lakukan setiap hari. Tangannya bergerak dengan tenang, seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi. Namun, semalam sebelum tidur, ia masih membaca pesan itu lagi, pesan yang membuatnya penasaran. Pesan itu dari nomor yang tidak dikenal, singkat, dan tidak jelas maksudnya. Bahkan, tidak ada nama yang tercantum. Nayara memutuskan untuk tidak membalas pesan itu, juga tidak menghapusnya. Ia hanya menutup layar ponsel dan meletakkannya kembali di meja, berusaha untuk menganggapnya sebagai iklan atau pesan salah kirim. Nayara ingin mengabaikannya, seperti angin yang lewat tanpa bekas. Beberapa menit kemudian, Raka keluar dari kamar, masih mengenakan kemeja yang belum dikancingkan dengan rapi. “Pagi,” katanya. “Pagi,” jawab Nayara sambil tersenyum kecil. Senyum itu tampak sangat wajar, tidak dipaksakan dan tidak terlalu cerah. Mereka sarapan seperti biasa, dengan percakapan ringan tentang pekerjaan dan rencana hari itu. Semuanya terlihat normal, tidak ada yang berbeda. Tidak ada yang mencurigakan, dan Nayara tidak mengatakan apa-apa tentang pesan itu. Ia memilih diam, bukan karena takut, tapi karena ia sendiri tidak tahu harus mengatakan apa. Pesan tanpa nama, tanpa konteks, tanpa bukti apa pun, rasanya terlalu remeh untuk dijadikan sesuatu yang besar. Setidaknya, itulah yang ia yakinkan pada dirinya sendiri. Di kantor, Nayara mencoba fokus pada pekerjaannya, mengetik laporan, memeriksa data, mencatat beberapa hal penting. Namun sesekali, pikirannya melayang, dan ia tidak bisa membantu tetapi memikirkan hal-hal lain. Bukan ke pesan itu yang membuatnya penasaran. Melainkan perasaannya sendiri yang masih terasa tidak tenang. Nayara masih ingat semalam, ketika ia memikirkan hal itu cukup lama. Ia bertanya-tanya, kenapa hal kecil seperti itu bisa terasa mengganggu pikirannya? Nayara menghela napas pelan, lalu menggelengkan kepala, mencoba untuk melupakan pikiran itu. Jangan dibesar-besarkan, katanya pada diri sendiri. Ia mencoba untuk kembali fokus pada pekerjaannya. Tapi kemudian, siang hari itu, ponselnya kembali bergetar. Nayara melirik sekilas dan melihat nomor yang sama. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, tapi wajahnya tetap tenang. Ia menunggu beberapa detik sebelum akhirnya membuka pesan itu. Isinya sangat singkat, hanya satu kalimat pendek. Tidak ada penjelasan apa pun, tidak ada ancaman, tidak ada kejelasan. Hanya kata-kata yang terasa menggantung di udara. Nayara menatap layar itu beberapa saat, lalu menekan tombol kunci, mencoba untuk tidak terlalu memikirkan hal itu lagi. Ia tidak membalas. Ia tidak menghapusnya. Ia hanya meletakkan ponselnya kembali di meja, lalu menarik napas pelan. Anggap saja salah kirim, pikirnya. Atau seseorang yang iseng. Ia tidak ingin pikirannya dipenuhi sesuatu yang belum tentu berarti apa-apa. Sore menjelang ketika Nayara pulang lebih dulu dari Raka. Rumah terasa sepi, seperti biasa. Ia membuka jendela ruang tamu, membiarkan angin sore masuk perlahan. Tirai bergerak pelan, menggesek lantai dengan suara lembut. Nayara duduk di sofa, memandangi halaman depan tanpa benar-benar melihat apa pun. Ada perasaan yang tidak bisa dijelaskan. Bukan takut. Bukan sedih. Hanya tidak tenang sepenuhnyaIa tidak membalas. Ia tidak menghapusnya. Ia hanya meletakkan ponselnya kembali di meja, lalu menarik napas pelan. Seperti ada yang tidak beres, tapi tidak bisa diungkapin. Ia menutup mata sebentar, lalu menghela napas panjang. “Tidak semua hal harus dipikirkan,” katanya dalam hati. Tidak semua pertanyaan harus terjawab saat ini juga. Malam itu, Raka pulang seperti biasanya. Wajahnya terlihat lelah, tapi dia masih sempat bertanya tentang makan malam dan pekerjaan Nayara hari itu. Mereka ngobrol santai, sederhana, dan hangat. Nayara sering melihat wajah suaminya. Tidak ada yang janggal. Tidak ada yang mencurigakan. Dan entah kenapa, hal itu malah membuat Nayara merasa sedikit bersalah karena sempat memikirkan hal-hal yang tidak jelas. Mungkin memang tidak ada apa-apa, pikirnya. Mungkin semua ini hanya kebetulan. Setelah makan malam, mereka duduk di ruang tamu. Televisi menyala, tapi suara pelan. Raka membaca sesuatu di ponselnya, sementara Nayara memegang buku yang sudah beberapa menit tidak ia baca. Ponselnya bergetar lagi. Nayara merasakannya di pangkuannya. Ia tidak langsung melihatnya. Ia menunggu sebentar, kira-kira itu hanya pesan biasa. Lalu ia melihat sekilas. Nomor yang sama muncul lagi. Jantungnya berdebar lebih cepat, tapi wajahnya tetap biasa saja. Beberapa kata lagi muncul. Masih sama, tidak jelas apa maksudnya. Nayara menatap layar sebentar, lalu mematikan ponselnya. Ia meletakkan ponsel di atas meja tanpa berkata apa-apa. Raka tidak menyadari apa yang terjadi. Atau mungkin ia tidak peduli. Nayara memilih untuk tidak mengatakan apa-apa. Malam semakin larut. Di dalam kamar, lampu sudah dimatikan. Suara kipas angin berputar pelan, mengisi keheningan di dalam ruangan. Nayara berbaring menghadap langit-langit, matanya belum terpejam, masih terjaga oleh pikiran yang terus mengganggu. Ia memikirkan pesan itu lagi, pesan yang membuatnya merasa tidak nyaman. Hanya sebentar, ia berusaha untuk mengalihkan perhatian. Lalu ia memaksa dirinya berhenti memikirkan hal itu, karena ia tidak ingin menjadi orang yang gelisah karena sesuatu yang belum tentu nyata. Tidak ingin menciptakan bayangan yang mungkin sebenarnya tidak ada, hanya karena pikirannya yang terlalu aktif. Setiap orang punya masa lalu, pikirnya, dan setiap orang punya cerita yang tidak selalu perlu diketahui oleh orang lain. Dan mungkin beberapa hal memang lebih baik dibiarkan seperti angin yang lewat. Nayara memejamkan mata perlahan. Di sampingnya, Raka sudah tertidur lebih dulu. Malam terasa tenang. Namun jauh di dalam hati Nayara, ada satu perasaan kecil yang belum benar-benar pergi - perasaan bahwa sesuatu perlahan sedang mendekat. Perasaan itu tidak ia beri nama, ia hanya membiarkannya menggantung, seperti bayangan tipis di sudut ruangan yang tidak cukup jelas untuk disebut apa-apa. Beberapa menit kemudian, napasnya mulai teratur, kantuk akhirnya datang, meski tidak sepenuhnya lelap. Di sisi lain ranjang, Raka bergerak sedikit dalam tidurnya, lalu kembali diam, dan malam lewat tanpa kejadian apa pun. Pagi berikutnya, Nayara bangun dengan pikiran yang lebih ringan, ia mengambil ponselnya sekilas sebelum turun dari tempat tidur, tidak ada pesan baru, layar terasa sunyi. Dan entah kenapa, kesunyian itu justru membuat dadanya sedikit lega. Ia bangkit, merapikan selimut, lalu berjalan ke kamar mandi. Saat bercermin, ia menatap wajahnya sendiri beberapa detik. “Berlebihan,” gumamnya pelan. Mungkin memang hanya kebetulan. Mungkin memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Ia memutuskan satu hal pagi itu - ia tidak akan membiarkan pesan tak jelas mengganggu caranya memandang Raka. Hari di kantor berjalan cepat. Nayara mulai larut dalam pekerjaan. Tumpukan berkas dan laporan membuat pikirannya sibuk. Ia bahkan hampir lupa memeriksa ponsel sepanjang siang. Saat akhirnya ia melihat layar, tidak ada apa-apa. Kosong. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, merasa sedikit konyol karena sempat menunggu sesuatu yang tidak pasti. Mungkin orang yang mengirimnya hanya bercanda saja. Atau mungkin mereka salah kirim dan sudah tidak sabar menunggu jawaban, jadi mereka memutuskan untuk tidak mengirimkan lagi. Begitu saja, tidak ada yang tahu pasti. Sore itu, Raka menjemputnya lebih awal dari biasanya. “Kita makan di luar?” tanyanya singkat. Nayara sedikit terkejut, lalu mengangguk dan berkata “Boleh". Di dalam mobil, suasana lebih santai dan nyaman. Raka bercerita tentang proyek baru di kantornya dengan sangat antusias. Nadanya penuh semangat, matanya fokus saat menjelaskan setiap detail. Nayara memperhatikannya dengan saksama, menikmati cara Raka menjelaskan proyek tersebut. Jika ada yang disembunyikan, tidak mudah dilihat dari luar. Raka terlihat biasa saja. Dia tampak tenang. Seperti biasa, tidak ada yang aneh. Saat itu, Nayara mulai berpikir bahwa mungkin dia terlalu cepat membuat asumsi. Malam itu, setelah makan, mereka duduk berdampingan di sofa. Suasana tidak terlalu ramai, tapi juga tidak ada ketegangan. Tiba-tiba, Raka memegang tangan Nayara. Gerakannya sederhana dan spontan. Nayara menoleh, sedikit terkejut, tapi tidak menarik tangannya. “Kenapa?” tanyanya pelan. “Enggak. Cuma pengin,” jawab Raka singkat. Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat Nayara terdiam. Mungkin memang tidak ada apa-apa. Mungkin yang aneh hanya pikirannya sendiri. Ia menghela napas pelan, lalu membiarkan dirinya menikmati momen itu tanpa prasangka. Malam kembali turun dengan tenang. Nayara mematikan lampu dan berbaring di samping Raka. Kali ini ia tidak memikirkan pesan itu lagi. Ia memilih percaya pada apa yang ada di depannya. Pada sikap Raka yang tetap sama. Pada rutinitas yang tidak berubah. Pada rumah yang masih terasa utuh. Namun jauh di dalam hatinya, di sudut yang paling sunyi, ada satu kesadaran kecil yang belum benar-benar hilang - kadang, sesuatu yang terlihat tenang bukan berarti benar-benar tidak menyimpan apa-apa. Dan Nayara, meski memilih untuk tidak mencari tahu, tetap bisa merasakan bahwa ketenangan ini terasa terlalu rapih. Seolah sedang menunggu sesuatu untuk retak. Ia memilih untuk percaya. Dan justru di situlah semuanya mulai berubah. TO BE CONTINUED
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD