Pagi itu Nayara bangun dengan keputusan yang lebih tegas daripada hari-hari sebelumnya.
Ia duduk di tepi ranjang, menatap ponselnya yang tergeletak di meja kecil samping tempat tidur. Tidak ada notifikasi baru, tidak ada getaran, tidak ada angka merah kecil yang mengusik.
Nayara meraih ponsel itu dan membuka pesan dari nomor tak dikenal yang masih tersimpan di sana. Ia menahannya beberapa detik, tapi bukan karena takut atau ragu. Ia sadar bahwa semakin ia membaca ulang, semakin ia memberi ruang pada sesuatu yang belum tentu nyata.
Dengan satu gerakan tenang, Nayara menghapus seluruh percakapan itu. Layar kembali bersih dan kosong, seperti seharusnya. Ia menghela napas pelan, lalu berdiri dan memutuskan untuk tidak membiarkan bayangan masa lalu mengganggu hari ini.
Hari ini, Nayara ingin fokus pada satu hal saja, yaitu Raka. Di dapur, ia memasak sedikit lebih lama dari biasanya karena mencoba resep baru yang disimpan beberapa hari lalu. Aroma bumbu yang hangat memenuhi ruangan, membuat suasana terasa lebih hidup.
Raka keluar dari kamar dengan wajah sedikit terkejut.
"Kok kamu begitu rajin di pagi hari?” tanyanya sambil tersenyum.
Nayara tersenyum kembali. “Aku hanya ingin melakukan sesuatu,” jawabnya.
Raka mendekat dan memandang isi wajan yang sedang dimasak Nayara. Ia kemudian tersenyum kecil, dan senyum itu terlihat sangat tulus.
Melihat senyum Raka, Nayara merasa hangat di d**a.
Ia menyadari sesuatu yang membuatnya merasa bahagia.
Beberapa hari terakhir, Nayara terlalu sibuk memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi.
Ia hampir lupa menikmati hal-hal sederhana, seperti sarapan bersama, percakapan kecil, dan tatapan singkat yang terasa cukup.
Di kantor, Nayara beberapa kali bertemu Raka untuk membahas pekerjaan.
Biasanya ia menjaga jarak profesional, tapi hari itu ada sesuatu yang berbeda.
Ia lebih memperhatikan cara Raka berbicara dan bersikap pada bawahannya.
Ia juga memperhatikan cara Raka tetap tenang saat rapat sedikit memanas.
Raka bukan tipe laki-laki yang banyak bicara, tapi setiap ucapannya selalu tepat sasaran.
Ia tegas, tapi tidak kasar. Nayara tersenyum kecil tanpa sadar.
Mungkin ia memang belum mengenal seluruh masa lalu Raka, tapi yang lebih penting adalah siapa Raka sekarang. Siang hari, ponselnya kembali bergetar. Sekilas, jantungnya bereaksi. Namun kali ini ia tidak langsung meraihnya.
Ia membiarkan ponsel itu tergeletak beberapa detik di atas meja.
Ketika akhirnya ia melihat layar, hanya notifikasi aplikasi belanja.
Bukan nomor yang ia tunggu.
Dan untuk pertama kalinya, Nayara menyadari sesuatu— rasa takut bisa membuat kita menunggu sesuatu yang belum tentu datang.
Nayara menggeleng pelan, lalu kembali bekerja.
Ia tidak ingin hidup dalam bayangan pesan anonim yang bahkan tidak punya keberanian untuk memperkenalkan diri.
Malamnya, Raka pulang lebih awal. “Aku selesai lebih cepat,” katanya singkat.
Nayara yang sedang menyiram tanaman di depan rumah menoleh. “Bagus dong.”
Angin sore berhembus lembut, menggerakkan ujung rambut Nayara. Raka berdiri beberapa langkah jauhnya, menatapnya dengan ekspresi yang tak tertebak.
“Kamu akhir-akhir ini terlihat… lain,” kata Raka tiba-tiba.
Nayara berhenti menyiram tanaman. “Lain gimana?”
“Lebih tenang,” jawab Raka.
Nayara terdiam sejenak. Lebih tenang? Mungkin karena dia sudah memutuskan untuk tidak membiarkan hal-hal yang tidak pasti mengganggu dirinya lagi.
“Enggak juga,” jawab Nayara pelan. “Aku hanya sedang belajar saja.”
“Belajar apa?” tanya Raka.
“Belajar untuk tidak memikirkan hal-hal yang belum tentu terjadi,” kata Nayara.
Raka memandangnya beberapa detik lebih lama, seolah mencoba memahami maksud di balik kalimat itu. Tapi dia tidak bertanya lebih jauh.
Dan Nayara merasa bersyukur.
Malam itu, mereka makan bersama di meja makan tanpa televisi menyala. Percakapan mereka mengalir lebih santai.
Mereka membicarakan rencana akhir pekan.
Dan kemungkinan liburan singkat.
Tentang hal-hal kecil yang terasa nyata dan bisa disentuh.
Nayara memperhatikan bagaimana Raka sesekali tersenyum lebih lama. Ia merasa ada yang spesial dari senyum itu.
Misalnya saat Raka mengambil gelas, tangannya tanpa sadar menyentuh punggung tangan Nayara. Gerakan kecil seperti itu terasa berarti.
Tapi itu cukup untuk membuatnya merasa diperhatikan. Nayara sadar mungkin selama ini ia terlalu fokus mencari sesuatu yang belum tentu ada.
Ia hampir melewatkan hal-hal kecil yang jelas ada di depannya. Seperti Raka, seorang suami yang selalu hadir.
Raka pulang setiap malam dan duduk bersamanya. Di kamar, sebelum tidur, Raka menarik Nayara sedikit lebih dekat.
Tidak ada kata-kata yang berlebihan, hanya kehangatan sederhana. Nayara memejamkan mata dan membiarkan dirinya menikmati rasa itu.
Ia tidak ingin menjadi orang yang selalu curiga tanpa alasan. Ia tidak ingin membiarkan pikiran negatif merusak apa yang sedang ia bangun dengan Raka.
Ia memilih untuk menikmati saat-saat indah bersama Raka. Jika ada sesuatu yang perlu ia tahu suatu hari nanti, biarlah itu datang dengan sendirinya.
Untuk sekarang…
Ia memilih untuk percaya.
Malam itu, untuk pertama kalinya sejak pesan misterius itu muncul, Nayara benar-benar tidur dengan nyenyak tanpa dihantui oleh bayangan apa pun.
Tanpa sadar bahwa terkadang ketenangan yang dipilih dengan sengaja justru membuat kita tidak melihat tanda-tanda yang sedang tumbuh pelan-pelan di belakang kita.
Raka terbangun lebih dulu keesokan paginya.
Cahaya matahari baru saja menyentuh tirai jendela, membuat kamar masih dipenuhi dengan warna pucat yang lembut. Ia duduk perlahan-lahan agar tidak membangunkan Nayara. Perempuan itu masih tertidur, wajahnya terlihat sangat tenang, dan napasnya teratur.
Raka memandangnya beberapa detik.
Ada rasa hangat yang familiar di dadanya, perasaan yang selalu muncul setiap kali melihat Nayara seperti ini.
Nayara memiliki kebiasaan untuk tetap tenang, tidak banyak bicara, dan selalu mencoba mengerti tanpa banyak bertanya.
Ia mengusap rambut Nayara dengan lembut, lalu berdiri dan berjalan keluar kamar.
Di dapur, beberapa menit kemudian, Nayara terbangun. Ia merapikan selimut, lalu menyadari bahwa Raka sudah tidak ada di sampingnya.
Ia keluar kamar dan mendapati Raka sedang menuang air panas ke dalam dua cangkir.
Nayara tersenyum kecil, dan itu membuatnya merasa bahagia.
“Tumben bangun duluan,” kata Nayara sambil menoleh, dan Raka hanya menjawab, “Kebangun aja.”
Mereka duduk bersama di meja makan, menikmati teh hangat yang baru diseduh. Tidak banyak yang mereka bicarakan, tapi suasana hati mereka terasa sangat nyaman.
Kadang, kita tidak perlu banyak kata-kata untuk merasakan kebersamaan.
Hari itu berjalan seperti biasa bagi Nayara. Ia pergi bekerja, menyelesaikan tugas-tugasnya, berbicara dengan rekan kerja, dan pulang menjelang sore. Tidak ada pesan misterius yang masuk, tidak ada nomor asing yang menghubungi, dan ponselnya terasa sangat biasa saja.
Nayara merasa lega dengan semua itu. Mungkin semuanya sudah selesai, atau mungkin memang dari awal tidak ada apa-apa.
Sore hari, saat Nayara tiba di rumah, langit sedang mendung tipis. Angin membawa aroma tanah yang lembap, pertanda hujan mungkin akan turun malam nanti.
Ia membuka jendela, membiarkan udara masuk, lalu mulai menyiapkan makan malam. Kegiatan sederhana itu membuat pikirannya terasa ringan. Ia memotong sayur, menumis bumbu, sesekali mendengarkan musik pelan dari ponselnya.
Semua terasa normal, dan semua terasa tenang. Nayara menikmati itu.
Raka pulang sedikit lebih larut dari biasanya malam itu. Saat pintu terbuka, Nayara sedang duduk di ruang tamu, membaca buku.
“Kamu belum tidur?” tanya Raka sambil melepas sepatu.
“Belum,” jawab Nayara. “Nunggu kamu.”
Raka tersenyum kecil, lalu duduk di sebelahnya.
“Capek?”
“Lumayan,” katanya dengan singkat.
Nayara memandang wajah Raka. Ia tampak lelah, tapi tidak lebih dari biasanya.
Ia diam saja. Kadang, perhatian cukup diberikan tanpa perlu bertanya. Cukup dengan hadir saja sudah cukup.
Malam semakin larut. Setelah makan malam, mereka masuk ke kamar.
Raka mandi lebih dulu. Sementara itu, Nayara merapikan bantal dan selimut. Saat Raka keluar dari kamar mandi, rambutnya masih basah. Ia terlihat sedikit lebih segar.
Raka duduk di tepi ranjang dan mengeringkan rambutnya dengan handuk.
Nayara duduk di sebelahnya.
“Mas,” katanya pelan.
“Iya?” Raka menoleh.
“Kamu capek ya akhir-akhir ini?” tanya Nayara.
Raka diam sebentar sebelum menjawab.
“Kerjaan lagi banyak aja,” katanya.
Nayara mengangguk.
Ia tidak bertanya lebih jauh. Ia memilih percaya saja.
Lampu kamar dimatikan. Hanya cahaya samar dari luar jendela yang masuk. Ruangan tidak sepenuhnya gelap.
Raka berbaring lebih dulu. Nayara masih terjaga beberapa menit, memandangi langit-langit.
Hari ini terasa lebih tenang dari hari-hari sebelumnya. Raka merasa bahwa tidak ada yang mengganggu hari ini. Tidak ada pesan yang membuatnya khawatir, tidak ada firasat buruk, dan tidak ada perasaan aneh yang mengganggu pikirannya. Ia merasa seperti kembali ke masa sebelum semua masalah muncul. Dan ia sangat menyukai perasaan itu.
Akhirnya, Nayara memejamkan mata dan tidur nyenyak. Di tengah malam, Raka terbangun. Ia tidak langsung bergerak, tetapi hanya membuka mata dan menatap langit-langit yang gelap. Napas Nayara terdengar pelan di sampingnya, membuat Raka merasa tenang.
Raka menoleh ke samping dan menatap Nayara. Perempuan itu tidur dengan posisi miring, wajahnya terlihat sangat damai. Raka menatapnya cukup lama, menikmati keheningan malam dan kehangatan kehadiran Nayara di sampingnya.
Ada sesuatu yang melintas di pikirannya, tapi itu tidak pernah menjadi kata-kata yang jelas.
Ia menghela napas perlahan, lalu memejamkan mata lagi.
Namun, tidur tidak datang dengan cepat.
Keesokan harinya, semuanya kembali seperti biasa.
Ia melakukan rutinitas harian, bekerja, dan berbicara dengan orang-orang di sekitarnya.
Ia juga melakukan kegiatan bersama keluarga dan teman-teman, seperti biasa.
Hari demi hari berlalu tanpa kejadian yang luar biasa. Dan perlahan, pesan misterius itu benar-benar menghilang dari pikiran Nayara.
Ia lupa seperti kita lupa akan mimpi setelah bangun tidur. Ia lupa seperti jejak di pasir yang terhapus oleh ombak.
Nayara merasa tenang. Nayara merasa semuanya baik-baik saja.
Tanpa menyadari bahwa kadang, hal-hal yang tampak tenang di permukaan bisa menyimpan riak kecil yang belum terlihat.
Nayara merasa tenang.
Tanpa sadar, sesuatu sudah bergerak lebih dulu darinya.
TO BE CONTINUED