Waktu di ruang bersalin terasa sangat lama. Setiap detik rasanya seperti berjalan sangat lambat. Lampu yang terang di atas kepala Nayara membuatnya merasa tidak nyaman, suara alat medis terdengar samar, dan napasnya mulai tidak teratur. Keringat membasahi pelipisnya. Tangannya masih menggenggam tangan Raka dengan erat, seolah itu satu-satunya hal yang membuatnya tetap kuat. "Rak…” suaranya pelan, hampir bergetar. "Iya, aku di sini,” jawab Raka. Jawaban itu masih sama, tidak berubah. Kontraksi datang lagi, lebih kuat dari sebelumnya. Nayara langsung menutup mata rapat, napasnya tertahan sejenak sebelum akhirnya keluar dengan berat. "Sakit…” bisiknya. Raka menunduk sedikit, mendekat ke wajahnya. "Tarik napas pelan, aku di sini,” katanya. Tenaga medis di sekitar mereka mulai bers

