Malam itu, Nayara tidak ingin lagi berputar-putar. Ia sudah terlalu lama menahan pertanyaan di ujung lidahnya. Terlalu lama berpura-pura tidak tahu. Raka sedang duduk di ruang tengah, menatap layar televisi tanpa benar-benar menonton. Ponselnya berada di sampingnya, layar menghadap ke bawah. Nayara berdiri beberapa langkah darinya. “Aku mau tanya sesuatu,” ucapnya pelan. Raka menoleh. “Apa?” Nayara duduk di kursi seberang, menjaga jarak yang cukup untuk tetap tenang. “Foto kamu yang dulu... sama perempuan itu.” Raka terlihat sedikit terkejut, tapi cepat menutupi ekspresinya. “Kenapa?” “Dia mantan kamu, kan?” Beberapa detik hening. Raka menghela napas kecil. “Iya. Itu sudah lama banget, Nay.” Nada suaranya terdengar ringan. Seolah itu bukan hal penting. “Masih sering komunikasi?” tanya Na

