Yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

1115 Words

Malam itu rumah terasa sangat sunyi, tidak seperti biasanya. Bukan karena tidak ada suara, tapi karena ada sesuatu yang harus dibicarakan sekarang. Nayara sudah terlalu lama menyimpan pertanyaan di kepalanya sendiri, mencoba terlihat tenang padahal sebenarnya dia sangat bingung di dalamnya. Raka sedang duduk di ruang tengah, menatap layar televisi tanpa benar-benar menonton apa yang sedang ditayangkan. Nayara berdiri beberapa langkah darinya, tangannya terasa dingin, tapi suaranya harus tetap stabil agar dia bisa mengungkapkan apa yang dia rasakan. "Aku tahu tentang dia,” kata Nayara, akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutnya. Raka menoleh, ekspresinya berubah dengan sangat cepat, meski hanya dalam sepersekian detik. Tapi itu sudah cukup bagi Nayara untuk tahu bahwa dia tidak salah

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD