Raka tidak bisa duduk diam lebih lama lagi. Rumah terasa seperti ruang kosong tanpa suara Nayara. Bahkan detak jam dinding terdengar lebih keras dari biasanya. Ia menatap layar ponselnya sekali lagi, tapi tidak ada balasan tambahan. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar takut. Bukan takut ketahuan atau takut disalahkan, tapi takut kehilangan. Tanpa berpikir panjang lagi, Raka mengambil kunci mobilnya dan keluar rumah. Ia mencoba mengingat tempat-tempat yang biasa Nayara datangi saat ingin sendiri. Tidak banyak, karena Nayara bukan tipe yang lari jauh. Ia lebih sering menyendiri dalam diam. Satu tempat terlintas di pikirannya: kafe kecil di sudut jalan yang dulu sering diceritakan Nayara, tempat favoritnya sebelum menikah. Raka memutar setir ke sana. Sementara itu, Nayara masih

