Rumah itu masih sama, tidak berubah sedikit pun. Sofa yang sama, meja makan yang sama, bahkan aroma ruangan yang sama. Tapi saat Nayara melangkah masuk, rasanya berbeda. Bukan karena tempatnya berubah, tapi karena perasaannya di dalamnya belum kembali utuh. Raka menutup pintu perlahan di belakang mereka. Ia tidak langsung mendekat atau mencoba menyentuh Nayara. Ia seperti sedang belajar ulang bagaimana bersikap. "Aku bikin teh ya?” tawarnya hati-hati. Nayara mengangguk kecil. Hal sederhana seperti ini dulu tidak pernah membuat mereka secanggung ini hanya untuk berada di ruangan yang sama. Di dapur, Raka berdiri lebih lama dari seharusnya hanya untuk menenangkan pikirannya. Ia sadar bahwa memperbaiki hubungan bukan tentang satu percakapan besar, tapi tentang hal-hal kecil yang konsis

