Beberapa minggu berlalu tanpa kejadian besar, tanpa kecurigaan yang membuat napas terhenti. Tidak semuanya berjalan mulus. Tapi perlahan-lahan, rumah itu mulai terasa hidup lagi. Suatu sore, Nayara pulang lebih cepat dari biasanya. Saat membuka pintu, ia langsung mencium aroma masakan dari dapur. Raka berdiri di dapur, menggulung lengan kemejanya, fokus dengan wajan di depannya. "Kamu masak?” tanya Nayara, sedikit terkejut. Raka menoleh dan tersenyum. “Coba tebak, ini buat siapa." Nayara bersandar di dinding dapur, memperhatikan Raka. Dulu, momen seperti ini terasa biasa saja. Sekarang, terasa lebih spesial. "Rajin sekali,” kata Nayara dengan nada bercanda. "Bukan rajin mendadak. Aku cuma sadar bahwa hal-hal kecil juga penting,” jawab Raka santai. Makan malam itu sederhana. Tidak

