Pintu rumah terbuka pelan. Nayara sudah berdiri di ruang tamu bahkan sebelum Raka sempat melepas sepatu. Wajahnya tegang karena ia tahu ada sesuatu yang berbeda dari cara Raka melangkah masuk. "Kamu ketemu siapa?” tanyanya langsung karena Nayara merasa ada yang tidak beres. Raka tidak menjawab. Ia hanya meletakkan map tipis di atas meja. Nayara menatap map itu, lalu kembali menatap Raka. “Apa itu?” ia bertanya dengan nada penasaran. "Aku harus cerita semuanya,” jawab Raka dengan nada suara yang berat, bukan lembut. Nada suara Raka membuat jantung Nayara berdegup lebih cepat. "Cerita apa?” suaranya mulai bergetar karena Nayara merasa ada yang tidak beres. Raka menarik napas panjang. “Tentang dia,” katanya dengan nada yang serius. Nayara terdiam. Ia tidak duduk, tidak mendekat, hanya b

