Perjalanan pulang terasa sangat sunyi dibandingkan waktu mereka pergi. Raka menggenggam kemudi dengan sangat erat. Sementara itu, Nayara menatap ke luar jendela, pikirannya dipenuhi oleh foto yang diambil hari ini. Artinya ada seseorang yang benar-benar mengikuti mereka. "Ini tidak mungkin kebetulan,” kata Nayara akhirnya, suaranya terdengar kaku. Raka tidak langsung menjawab. "Ka,” Nayara mengulangi dengan nada lebih tegas. "Aku sedang mikir,” Raka menjawab dengan nada pendek. Nada Raka membuat Nayara menoleh. “Mikir apa? Mikir siapa lagi dari masa lalu kamu yang mungkin dendam?" Raka mengerem sedikit lebih keras saat lampu merah. “Kamu pikir aku sengaja punya musuh?" "Aku hanya tanya!” suara Nayara naik tanpa disadari. Kembali terdiam, tapi kali ini terasa penuh emosi. Saat mer

