Beberapa hari setelah itu, Ramadhan terus berjalan dengan tenang. Rutinitas sahur, berbuka, dan tarawih menjadi bagian dari hari-hari Raka dan Nayara. Namun di balik suasana yang hangat itu, Nayara mulai menyadari sesuatu yang membuatnya berpikir lebih jauh. Pagi itu, setelah sahur dan shalat Subuh, Nayara duduk sendirian di ruang tengah. Raka sudah kembali ke kamar untuk beristirahat sebentar sebelum memulai pekerjaannya. Sementara Nayara hanya duduk diam di sofa, memegang ponselnya. Beberapa detik, ia hanya menatap layar tanpa membuka apa pun. Pikirannya sedang menghitung sesuatu, perlahan-lahan. Ia mengingat kembali tanggal terakhirnya datang bulan. Nayara mengerutkan kening sedikit, “Harusnya... minggu lalu,” gumamnya pelan. Ia mencoba menghitung lagi di dalam kepalanya, satu minggu,

