Ketika Madilyn melewati salah satu lorong rumah sakit menuju tempat mobilnya diparkir, dia melihat Dafhina sedang berjalan ke arahnya. Wanita itu jelas-jelas menatapnya, tapi tidak ada sedikitpun senyum yang ditampilkan di wajahnya. Dan ketika mereka hampir berpapasan Dafhina berhenti melangkah sambil menahan tangan Madilyn. “Aku mau bicara sama kamu,” ujar Dafhina. “Sekarang?” “Ya, di depan rumah sakit ada cafe nggak terlalu ramai. Kita bisa ngobrol dengan tenang di sana.” Madilyn mengangguk lalu berbalik badan mengikuti langkah Dafhina ke arah sebaliknya yang bukan menjadi tujuan utama dia sebelumnya. Akhirnya setelah berjalan tidak sampai sepuluh menit mereka berdua tiba di kafe yang dimaksud oleh Dafhina. “Well, apa yang mau kamu bicarakan?” tanya Madilyn tanpa basa basi. “

