Gerimis membasahi coat hitam yang dia kenakan. Terdapat sebuah nisan bertuliskan nama sosok yang amat dia sayangi tertancap tepat di depannya. Carlos de Baulle yang tidak pernah menundukkan kepala seumur hidupnya, hari ini tertunduk dalam. Memandang nisan berbentuk salib itu dengan nanar. Rerumputan pendek yang terlihat jelas diurus membentuk persegi panjang. Carlos berdiri di sisinya dan terdiam membiarkan gerimis perlahan menjadi hujan. “Maaf nak, tubuhmu terlalu hancur sampai Daddy nggak bisa bawa kamu pulang dan memakamkanmu di makam keluarga.” Ia berucap lirih. Berbaris di belakangnya puluhan pria yang ikut berduka di bawah derasnya hujan. Carlos tidak pernah bosan menghitung hari sejak kepergian putra satu-satunya. Terhitung empat bulan lima hari sejak kejadian naas itu. Pun Carlo

