Lapas Kali Duren
Mentari berpijar merah. Sinar senja sudah menggerogoti angkasa. Saat itu, mobil polisi mulai menepi di Lapas Kali Duren. Tangan Yogas yang berborgol kembali diseret kedua polisi. Dia dan kedua polisi mulai melangkah, menapaki lidah jalan yang bermuara di mulut pintu penjara. Dia tiba ketika jarum jam telah mencumbu angka empat sore.
Lapas Kali Duren, ya, penjara dimana Kuncoro akan tinggal satu atap dengan Yogas. Area para tikus menggali gorong-gorong dan mendirikan kerajaannya. Kali Duren merupakan penjara terbaru dan terbesar di Indonesia. Baru setahun dibangun, dan luasnya empat kali dibanding penjara terbesar di negeri ini. Dia terpancang kokoh di atas lahan kosong berhektar-hektar. Tidak seperti penjara standar yang memisahkan latar belakang kasus para penjahatnya, penjara ini memuat semua kalangan. Pencuri, penipu, pembunuh, p*******a, pecandu, bahkan hingga penyuap dan koruptor ditampung disini. Mereka semua berada di kawasan yang sama, namun tetap terpisah di gedung berlainan. Setidaknya penjara ini sanggup menampung 50.000 tahanan dan narapidana. Lapas ini juga merupakan penjara percontohan, menunjukkan bahwa semua terpidana berada di bawah payung hak yang sama.
Tatapan Yogas terpusat ke depan, menjangkau julangan bangunan penjara yang bak seperti benteng. Bangunan besar yang tinggi, berbentuk kotak, dan di setiap sudutnya berdiri tegak menara-menara pengawas. Setiap dua jam sekali, para sipir bergantian jaga di semua menara. Di ata menara, dipasang kamera pengintai yang mengawasi seluruh bangunan dari ketinggian. Bila ada gerak-gerik mencurigakan, apalagi jika ada narapidana yang mencoba kabur, mata kamera itu akan terus mengintainya, mengikuti kemanapun dia melesat pergi. Alarm pun akan berdering di setiap menara pencakar langit, memberitahu para sipir untuk lekas mengambil tindak penangkapan.
Yogas kembali melangkah, hasratnya terlucuti tatap pada pilar-pilar besar penopang wajah penjara. Pesona dinding bata merekat kuat, menerjang semua bangunan kaku setiap sudut pandang. Sekujur lekuk bangunan didesain secara ketat. Semua perbatasan area luar dikelilingi tonggak-tonggak besi menjulang tinggi menunjuk langit. Bahkan tepian atas tembok perbatasan dijalari kawat-kawat berduri. Sangat mustahil untuk keluar dari penjara ini hidup-hidup. Hanya napi-napi bodoh saja yang berani mengundang maut demi melarikan diri dari sini.
Seusai melintasi pintu depan, seorang sipir mengedipkan matanya kepada Yogas, seperti sedang memberikan kode. Tapi, apa maksudnya? Sorot mata Yogas menerjang ke muka pria berseragam sipir tersebut. Pria itu sudah dewasa, tetapi semesta wajahnya masih dipenuhi jerawat batu, seperti dihiasi bintang-bintang. Tubuhnya agak gempal, alis tebalnya runcing menyatu. Yogas meringis, melihat salah satu jerawat di sebelah hidung lelaki itu mengelupas. Seperti kawah, lendir merah meleleh mengitari secuil titik di pipi cokelat sang sipir. Karena jijik, buru-buru Yogas alihkan penglihatannya ke bawah, ke baju si lelaki berjerawat. Badri Husain, nama itulah yang tergurat di nametag sipir tersebut. Lantas Yogas berujar dalam batin, "Rupanya dia intel.. dia temanku.."
Pada detik selanjutnya, muncul seraut paras tua berkisar lima puluh tahun dengan rambut pendeknya mulai diselangi uban. Dia menghampiri Yogas dan kedua polisi yang hendak menuju ruang registrasi. Suaranya yang berat tiba-tiba menghentikan langkah mereka, "Dia, biar aku yang urus..." timpal lelaki tua itu mengambil alih tugas para polisi.
"Baiklah, urus dia baik-baik.." tukas polisi di sebelah kanan Yogas menyerahkan wewenang mereka. Kedua polisi itu merunduk hormat kepada wakil ketua lapas. Paras mereka mencair gembira, sebab tidak perlu repot-repot untuk menggiring tahanan ke sel kurungan.
Yogas kembali menelisik pandang ke nametag orang di depannya. Orang di samping Badri itu bernama Falih. Sesuai yang dikatakan Permana, pria tinggi kurus berkacamata ini terlibat dalam operasi 'Party in the Jail'. Sudah pasti mereka adalah teman seperjuangan Yogas.
Bila setiap tahanan yang masuk harus melalui tahap registrasi dan pemeriksaan, berbeda halnya dengan Yogas. Dia tidak perlu menandatangani surat-surat dan membubuhkan sidik jarinya. Namun mereka bertiga harus tetap siaga, karena banyak pasang mata yang terus mengintai. Terlebih yang dicemaskan adalah para pegawai lapas yang berpihak pada Kuncoro. Mereka akan menjadi kerikil, satu lonjakan kecil yang akan menjegal misi 'Party in the Jail'.
Badri dan Falih, diam-diam menggiring Yogas ke tempat rahasia tanpa sepasang mata pun yang mengintai. Sepanjang perjalanan, Yogas terbawa arus langkah kedua rekannya. Matanya terus menatap ke atas, mengamati lorong-lorong panjang bangunan yang menarik takjubnya sejenak. Penglihatannya menggapai hamparan gedung penjara di sisi kirinya. Ia terpukau, terhadap lekak-lekuk penjara yang begitu besar. Sekiranya terdapat 8 gedung terpisah yang membentuk penjara ini. Setiap gedung dibagi ke dalam blok yang berbeda. Ada tiga gedung terbesar. Gedung B merupakan bloknya para koruptor. Gedung C adalah bloknya narapidana kelas teri. Dan gedung D itu blok kurungannya para tahanan. Napi dan tahanan dipisah menurut jenis kelaminnya. Lantai 1 sampai 4 dihuni para lelaki, sedangkan lantai 5 hingga 8 untuk para perempuan. Mata Yogas berkedip sejenak, telinganya menangkap suara ketukan palu dan paku yang saling beradu.
Badri menoleh ke kiri. Ia mengerti mengapa Yogas mengerutkan dahinya, "Lapas ini masih belum selesai pengerjaannya. Banyak ruangan yang masih kosong, beberapa ruangan di sisi barat penjara bahkan masih dalam tahap renovasi."
Situasi ini menjadi keuntungan tersendiri bagi mereka. Ruangan-ruangan yang kosong itu bisa menjadi tempat untuk pertemuan, perencanaan, sekaligus membangun kelangsungan hidup misi rahasia mereka. Kejap berikutnya, perjalanan mereka usai di sebuah ruangan tak berpenghuni. Senyap dan lembab, jaraknya amat jauh dari jangkauan para sipir dan narapidana. Ruangan ini sudah berpintu dan bertembok, membuat mereka bisa bersembunyi di baliknya. Yogas bernafas lega sebentar. Borgol yang mendekap kedua tangannya sejenak dibuka. Mereka bertiga duduk di permukaan lantai ruangan ini seraya berbincang.
Setelah pembicaraan yang mengeraskan urat suara, Falih sodorkan sebuah kalung ke hadapan wajah Yogas, "Pakai ini. Ini adalah alat perekam, GPS, dan komunikasi mikro. Suara di sekelilingmu akan langsung terpancar ke kantor Pak Permana.."
Yogas merebut kalung berkepala bulat itu dari Falih, lalu ia kalungkan di lehernya. Semua aktifitas di sekitar Yogas akan mudah diusut. Bila sewaktu-waktu Yogas diterpa angin bencana, diserang pihak Kuncoro, rekaman itu dapat menjadi kompas kebenaran bagi para intel lainnya.
Beberapa selang kemudian, setelah percakapan usai, mereka keluar dari ruang persembunyian. Saat berpijak di lidah pintu ruangan itu, seorang pria bertubuh besar menyergap mereka. Lembar kening mengerutnya menyimpan pertanyaan besar, memasang kecurigaan kepada Badri dan Falih.
"Apa yang kalian lakukan disini? Terlebih dengan seorang tahanan..." sentak pria berkacamata bulat tebal seperti memergoki suatu kejahatan. Sudah pasti dia senior. Tapi siapa? Buktinya ia berani menegur Falih yang menjadi tetua di rutan ini.
"Kami hanya menginvestigasi dia saja, ndan..!" balas Falih bergetar gugup.
Pria itu menyerang Falih dengan tatapan, "Lainkali bila ketahuan seperti ini maka kalian kena akibatnya..!" hentaknya bernada mengancam. "Ingat, dia harus diregistrasi, itu prosedur yang harus kita jalankan.." ujarnya selayaknya ketua yang mengikuti aturan ketat hukum lapas.
Pria renta berkacamata tebal itu kemudian pergi. Namun mimiknya masih memendam kejanggalan meski dia sudah merenggangkan jarak cukup jauh.
"Dia Pak Prasetyo... Ketua lapas ini.." bisik Badri memberitahu Yogas.
Mendapat teguran keras dari atasannya, Falih dan Badri lekas beralih pijakan ke ruang registrasi. Ruang registrasi berpijak di Gedung A, sebaris dengan ruang staff kepegawaian dan ruang besuk. Tidak seperti yang direncanakan sebelumnya, Yogas kini malah harus mengikuti peraturan seperti semua tahanan ketika masuk sel. Yogas dibawa ke ruang registrasi, disana ia mengisi beberapa dokumen. Selanjutnya, ia beralih ke ruang KLKP. Tepat di depan tembok, mencuat bentangan papan dengan tempelan kertas merah dan biru. Merah untuk tahanan, sedangkan biru untuk narapidana.
Di ruangan yang sama, ransel milik Yogas digeledah petugas KLKP. Headset, dompet, dan gantungan kunci, disita aparat. Setelah itu dia diminta melucuti semua busana dan aksesoris yang melekat di tubuhnya. Pertama-tama, ia membuka baju dan celananya. Jam dipergelangan tangan juga tidak luput dari pemeriksaan. Bahkan kalung di lehernya pun ikut dilepas. Padahal kalung itu adalah media utama, jembatan komunikasi antara ia dan teman-teman satu misi.
Yogas kembali berjalan, bergulir pelan menuju Gedung D, bloknya para tahanan. Gelisah, takut, dan malu, menikam batinnya sekejap. Berkawalkan sipir jaga, Yogas melangkah menyusuri lorong-lorong panjang. Langit sudah dibercaki malam, lantas semua lampu dipendarkan. Namun, tidak seperti di Gedung A dan lorong-lorong bangunan yang diterangi lampu cerah, setiap blok napi hanya disinari lampu redup. Jiwa Yogas terperanjat, ternyata sel tahanan tampak lusuh, sama seperti ruang sel di penjara lainnya. Ia sempat berpikir, sel di penjara ini akan menawan, terlihat bersih dan rapi, mengikuti konstruksi dan wajah bangunan penjara. Yogas tertipu.
Cklakk!!
Gembok sel berderit. Begitu pula jerit engsel pintu besi yang dibuka, suaranya membangkitkan para tahanan dari kantuknya. Yogas, dengan dikawal dua sipir, mulai menapaki lidah jalan memasuki Blok D, bloknya para tahanan. Beberapa penghuni sangkar bui berdiri, menatap Yogas penuh tanda tanya. Sebagian dari mereka mencengkeram jeruji besi, mengamati pria yang baru saja melintasi sel mereka. "Wah, ada anak baru tuh.. Dia kena kasus apa ya?" pikir mereka.
Sipir di sebelah Yogas membuka sel nomor 11, tempat Yogas akan meringkuk di jeruji besi. "Tolong beri dia tempat. Jangan buat masalah dengannya!" hentak sipir kepada sebelas tahanan di sel tersebut.
Yogas masuk ke sel tahanan. Semua pasang mata yang masih terjaga, di sel bernomor 11, memandang Yogas penuh kecurigaan. Sementara beberapa tahanan lainnya terpejam karena sudah dibelai kantuk. Wajah Yogas tidak melukiskan kejahatan apapun, tetapi jejaknya malah berakhir di jeruji besi.
Kepala Yogas menoleh ke segala arah, mengamati sel berukuran empat kali empat meter itu. Dia mendengus pelan. Banyak ruangan kosong di wajah penjara, tetapi mengapa sel ini begitu sesak? Mengapa para tahanan tidak dipindahkan ke ruangan yang kosong? Sel ini hanya mampu menampung 10 orang, tetapi dihimpit dan dipaksakan menjadi 15 orang. Karena lahan tidak cukup, tahanan harus bergantian bila ingin tidur. Lirikan Yogas mendongak ke atas, menengadah ke atap buram seperti tidak bercahaya. Sel di blok ini hanya diterangi bohlam redup yang bergelayutan di atas langit-langit. Sungguh remang.
Pria berwajah tegas itu, Yogas, merunduk sejenak ke hamparan lantai. Kilap ingatannya kembali ke masa silam, saat ia tinggal di rumah bersama keluarganya. Hari-hari itu sungguh menyenangkan. Diwarnai canda tawa. Namun, lembar hari bahagia itu sudah pudar. Kini dia tidak bisa lagi tidur nyaman di kamarnya, merebahkan badan sambil berpapasan wajah dan berbincang dengan Salima. Ia amat mendambakan waktu gembira itu akan kembali.
Yogas berbaur. Namun ia tidak duduk seperti tahanan lainnya di tikar plastik kusam, melainkan berdiri bersandar tembok karena tidak kebagian tempat. Satu orang di antaranya, yang sama-sama berdiri tidak dapatkan lahan, mencermati Yogas dengan saksama. "Hei, namaku Anto." sapa pria muda berkulit sawo matang itu, "Kalau yang itu Nanang dan Supri." tunjuknya pada kedua orang yang duduk di tikar, jaraknya tidak jauh dari mereka.
Yogas mulai berkenalan, merajut ikatan relasi dengan tahanan yang satu sel dengannya. Disini, dia mengaku sebagai pegawai yang ketahuan mencuri. Mungkin makian-makian akan menyapa telinganya, jika ia ketahuan berlatar belakang seorang polisi.
Anto tertawa pelan, mendengar kisah singkat dari Yogas. Terlebih mereka sama-sama pencuri, Anto tidak segan lagi untuk berbincang dengannya. Nada tawa kembali mencuat dari bibir Anto. Baginya, tindakan pencurian yang diceritakan Yogas masih terlalu amatir, tidak sepertinya yang baru tertangkap setelah 15 tahun menjadi ketua pencuri. Tahun ini saja ia dan anak buahnya telah merampas kurang lebih 800 dompet dari pemiliknya. Dia terjaring massa karena pola pencurian sudah dibaca oleh masyarakat.
Yogas beralih tatap ke Nanang dan Supri. Kakak beradik itu, adalah sepasang penipu. Biasanya mulut mereka berkoar, menjerat korban-korbannya dengan perkataan penuh muslihat. Namun di balik jeruji besi, mereka berdua hanya diam, tidak menerbangkan kalimat-kalimat rayuan yang beracun.
Meski buai angin terus menyelimuti, namun malam pertama ini Yogas tidak bisa memejam mata. Bukan karena tidak mengantuk, tapi karena tidak ada tempat untuk merebahkan badan. Lagipula tikar plastik juga sudah dipenuhi para tahanan senior. Yogas tidak bisa menuntut banyak. Dia hanya berdiri, terpaku. Hanyut dalam bisik percakapan dengan teman barunya, Anto. Puncak malam sudah tiba, jadi mereka tidak boleh menimbulkan kegaduah di penjuru bui.
Glosarium/Footnote:
Lapas: tempat untuk melakukan pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia.
KLKP (Kesatuan Pengamatan Lembaga Pemasyarakatan): bertugas untuk menjaga keamanan dan ketertiban Lapas.