Bab 2. Terbangun Dengan Pria Asing

1434 Words
Ratu membuka matanya perlahan lalu meraba permukaan ranjang, tempatnya berbaring saat ini. Dahinya berkerut, mencoba mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya, hingga akhirnya gerakan seseorang di sampingnya, membuatnya menoleh dan memekik pelan. "Anda siapa? Kenapa tidur di sini sama saya?" tanya Ratu panik. Ia lalu beranjak dari tempat tidur dengan cepat, hingga lupa jika kini ia sedang hamil. Namun gerakannya seketika terhenti, ketika tersadar ia hanya memakai pakaian dalam saja. "Apa yang terjadi?" pekiknya panik, yang lalu menyambar selimut dan melilitkan ke tubuhnya. "Tenanglah! Aku tidak melakukan apapun terhadapmu," ucap Ethan, pria yang membawa Ratu ke hotel. Ratu berdiri diam ditempatnya. Ia menatap nanar pria itu yang bertelanjang d**a dan hanya memakai boxer. "Apa yang Anda lakukan pada saya? Kenapa keadaan kita begini? Mana pakaian saya?" Ratu mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar itu dan menemukan pakaiannya di atas sofa. Cepat ia pun mengambilnya. Ia begitu malu saat ini. "Tidak ada yang terjadi, tenanglah." "Bohong! Lalu kenapa Anda membawa saya ke sini? Ini kamar hotel!" Pria itu tersenyum tipis lalu mulai duduk sembari terus menatap wajah panik Ratu. "Semula aku mengira kau adalah kekasihku yang telah pergi dua bulan lalu," ucapnya menjelaskan. "Tetapi setelah sampai di tempat ini, ternyata kau bukan dirinya." "Tapi kenapa Anda melepas baju saya?" "Tenanglah, itu hanya untuk ak–" Suara ketukan pintu memotong ucapan pria itu. Ia lalu beranjak dari tempat tidur, menyambar handuk kimono dan melangkah cepat untuk membuka pintu. "Bisakah aku meminta tolong padamu? Ini situasi genting, tolong cepatlah berpakaian," pintanya pada Ratu. Ratu baru saja menutup pintu kamar mandi ketika pintu kamar terbuka, menampakkan wajah serius Sam, asisten dan orang kepercayaan Ethan. "Tuan Ethan, wartawan sudah datang, sesuai perintah Anda," ucap pria itu melapor. "Kau sudah memposting foto itu di media sosialku?" tanya Ethan. "Setelah mengambil foto tadi langsung saya posting, dan inilah hasilnya, mereka langsung menyerbu ke sini, lebih cepat dari waktu yang dijanjikan." Ethan menyeringai. "Bagus! Rencana kita berhasil." "Ralat, rencana saya, Tuan. Bukan kita," protes pria itu yang seketika membuat Ethan tersenyum masam. "Oke, rencanamu berjalan lancar. Kau puas?" Pria itu tersenyum lebar. "Tentu saja!" "Sam, pancing mereka untuk datang ke sini, biar bisa melihat kami secara langsung!" titah Ethan. "Mereka sebentar lagi datang, Tuan," jawab Sam. "Astaga, cepat sekali!" desis Ethan. "Apa kau sudah mendapatkan identitasnya?" "Sudah, Tuan. Wanita itu ternyata seorang model dan juga brand ambassador produk kecantikan," jawab Sam. Sontak kedua mata Ethan berbinar cerah. "Satu kebetulan yang sempurna. Aku sudah pegang kartunya," ucap Ethan puas. Ethan melangkah masuk dan mengetuk pintu kamar mandi. "Nona, keluarlah cepat! Kita harus menemui seseorang," teriak Ethan. Ratu keluar dari kamar mandi dengan wajah pucat. Ethan menatapnya sekilas lalu menunjuk sofa. "Duduklah di sana, dan ikuti permainan kami," titahnya. Dengan penuh tanya Ratu duduk di sofa, di ikuti oleh Ethan yang kini merengkuh bahunya. "Tenanglah, ini hanya sandiwara," bisiknya. "Sebentar lagi wartawan datang, kau hanya perlu diam dan tersenyum, oke?" "Baik," jawab Ratu, meskipun hatinya masih bertanya-tanya dan ketakutan. Tetapi demi keamanan dirinya, mau tidak mau ia harus patuh pada pria itu. "Mereka datang, Tuan," ucap Sam dari pintu kamar. Ia lalu menutup pintu dan berbuat seolah-olah sedang bertamu dan mengetuk pintunya. "Bersiaplah," titah Ethan yang kini makin mempererat pelukannya. "Maaf, harus seperti ini sandiwaranya?" tanya Ratu sembari bergerak menjauh. "Nanti aku ceritakan alasannya," jawab Ethan. "Sekarang aku mohon kau ikuti saja permintaanku, dan bersikap seolah-olah kita pasangan kekasih." "Tapi saya ...." "Aku benar-benar meminta tolong padamu, hanya untuk kali ini saja," pintanya dengan wajah memelas. "Ini soal hidup dan mati. Kalau kau tidak mau, aku akan umumkan saja jika saat ini kita baru melakukan sesuatu berdua di kamar ini." "Apa pengaruhnya buat saya?" tanya Ratu tak gentar dengan gertakan Ethan. "Aku tahu kau seorang model dan artis. Bisa dibayangkan bagaimana reaksi netizen saat tahu kau berduaan dengan seorang lelaki asing di kamar hotel," jawab Ethan. "Sama-sama berakibat fatal pada nama besar mu, kau lebih pilih yang mana, menolak atau mengikuti permintaanku? Aku akan membayar mahal untuk ini." Ratu mendecak kesal. Ia lupa jika mungkin ada banyak yang mengenalinya, tidak terkecuali pria yang saat ini ada bersamanya. "Oke, baiklah!" putus Ratu pada akhirnya. Ia berpikir jika uang yang ia dapatkan itu, nantinya akan ia pakai untuk pergi mengasingkan diri. "Beraktinglah, kau ahlinya dalam hal ini." Ratu hanya mendesis pelan lalu mulai menyandarkan kepalanya di bahu Ethan, tepat ketika Sam membuka pintu, untuk memanggil Ethan. Terlihat dua wartawan mendorongnya dan mencuri kesempatan untuk mengambil foto Ethan dan Ratu yang terlihat intim. "Tidak sopan!" tegur Ethan pura-pura kesal. Ia lalu melepas pelukannya dan melangkah mendekati Sam, membantunya menghadapi para wartawan. "Ada apa ini?" gertak Ethan sembari mengikat tali handuk kimononya yang terbuka. Penampakan itu semakin memperkuat dugaan para wartawan. "Apakah Anda mempunyai wanita simpanan, Tuan Ethan?" tanya seorang wartawan dengan lancangnya. Sam menggeram pelan. "Yang sopan kalau bertanya!" tegurnya. "Bukan wanita simpanan, tetapi dia memang kekasihku!" tegas Ethan yang mendapat banyak reaksi dari para wartawan itu. "Bukankah Anda akan menikah? Dari postingan Anda, sepertinya bukan wanita itu calon istri Anda," sahut yang lain. Ethan tersenyum misterius. Pengusaha yang cukup terkenal dengan kedekatannya besama banyak artis itu pun menatap seluruh wartawan dengan tenang. "Apapun yang terjadi itu adalah masalah intern keluarga saya," jawabnya. "Kalian hanya boleh tahu jika wanita yang sedang bersama saya saat ini adalah kekasih saya!" tegasnya. "Menurut kabar yang beredar, Anda dijodohkan. Itu berarti Anda menolak perjodohan itu?" "Bisa dikatakan seperti itu," jawab Ethan. Sam ikut menganggukkan kepalanya. Ethan pun mulai mengatakan banyak hal pada para wartawan, lalu segera mengakhiri setelah dirasa cukup ia bicara. Sam segera meminta para wartawan untuk segera pergi dan tidak mengganggu ketenangan Ethan lagi. Sepeninggal para wartawan, Ethan menjauh dari Ratu lalu duduk di sisi sofa yang lain. "Terima kasih," ucapnya. "Keberadaan mu telah menyelamatkan aku dari perjodohan oleh kakakku." Ratu tersenyum lega. "Baiklah, kalau begitu saya pulang. Semuanya sudah selesai, kan? Anda harus siapkan upahnya." "Masih belum," tegas Ethan yang lalu menatap Sam. "Apa kau sudah meminta mereka untuk menutup lagi akses bebas untuk para wartawan?" "Sudah, Tuan," jawab Sam. Ethan mengangguk puas. "Masih belum selesai? Apa lagi yang harus saya lakukan?" tanya Ratu gusar. Ia merasa telah dipermainkan saat ini. "Temani aku menghadapi kakakku," jawab Ethan. "Seperti yang kau dengar dari para wartawan, di usia setua ini aku masih dijodohkan oleh kakakku." Ratu mengerutkan dahinya. "Lalu, apa Anda memintaku untuk berpura-pura menjadi calon istri Anda?" Ethan mengangguk ragu. "Sepertinya begitu," jawabnya. "Sejujurnya aku tidak setuju dengan perjodohan ini. Dan kakakku bilang akan membatalkannya jika aku mempunyai calon sendiri." "Jadi, saya calonnya?" "Begitulah!" Ratu menghela napas panjang. Niat untuk mencari kedamaian di tempat lain, ternyata justru meloloskannya masuk ke dalam masalah besar selanjutnya, menjadi istri pura-pura untuk pria yang usianya sudah hampir setengah abad. Mimpi apa ia semalam? "Sampai kapan kita berpura-pura?" "Sampai mereka percaya jika kita saling mencintai," tegas Ethan. Ratu mendecak pelan. Ia lalu mengusap kasar wajahnya. Tugas ini terlalu berat baginya, tetapi jika ia menolak, maka nama baiknya hancur dan Ansel akan menganggapnya w************n, jika mengetahuinya. Ia tidak mau itu terjadi. Suara dering ponsel Ethan memecah kesunyian. Cepat ia menjawab panggilan yang ternyata dari kakaknya. "Yes, Kak. Ada apa?" Ethan mendekat pada Ratu sambil meletakkan jari pada bibirnya. "Kau sedang bersama siapa, kekasihmu?" "Tentu saja," jawab Ethan. "Mana mau aku berduaan dengan wanita sembarangan?" "Aku tidak percaya. Kau pasti sedang berusaha untuk menggagalkan perjodohan itu." "Terserah mau percaya atau tidak! Yang jelas aku tetap menolak perjodohan itu, titik! Usiaku sudah tidak muda lagi, aku tidak mau diatur, termasuk soal pasangan hidup!" Terdengar suara helaan napas di ujung sana. "Ajak dia ke rumah, aku mau melihatnya!" "Nanti saat makan malam kami datang." Ethan melempar ponselnya setelah pembicaraan mereka selesai. "Bersiaplah, nanti malam kita ke rumah kakakku," titah Ethan sembari menatap dingin pada Ratu. "Tapi ...." "Kau tidak mempunyai pilihan lain, Nona," potong Ethan sembari menyeringai. Ratu menghela napas berat lalu mengangguk menyanggupi. "Sam, siapkan semuanya untuk dia!" "Baik!" *** Tepat pada saat makan malam, Ratu dan Ethan duduk bersama Rama dan Erika, kakak kandung dan ipar Ethan. Ratu sedikit gugup saat mendapati tatapan tajam dari Erika, kakak ipar Ethan. Sengaja Ethan mengenalkan Ratu dengan nama Anjani, agar tidak dikenali. Riasan wajah Ratu juga sudah dibuat berbeda. "Kalian sudah lama berhubungan?" tanya Rama menyelidik, sambil menatap Ratu tanpa berkedip. Ratu menggelengkan kepala sedangkan Ethan justru mengangguk tegas, membuat Erika tersenyum sinis, yakin dengan dugaannya jika keduanya sedang berpura-pura. Menyadari hal itu, Ethan menatap Ratu. "Honey, kenapa kamu menggelengkan kepala? Sudah setahun kita berpacaran, bukan?" Ratu terkesiap menyadari kesalahannya. "Ah, Sayang, maaf aku bingung, maksud pertanyaan Kak Rama apa, tentang kata berhubungan? Apa yang intim, atau hanya sekedar berpacaran?" "Berhubungan seperti suami istri," jawab Rama, memancing. "Apa?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD