Bab 1. Dua Garis Merah
"Ansel, kita harus bicara! Ada sesuatu yang mau aku sampaikan dan tunjukkan sama kamu," bisik Ratu pada Ansel, kekasihnya.
"Apa itu?" tanya Ansel, acuh tak acuh, sambil memasang kamera pada tripod. Pekerjaannya sebagai seorang fotografer, mengharuskan dirinya untuk selalu akrab dengan kamera dan segala perlengkapannya.
Ratu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang, untuk memastikan tempat itu aman. Ia lalu mengeluarkan satu benda kecil dari dalam tasnya dan menunjukkannya pada Ansel.
"Lihatlah ini," ucap Ratu sembari berbisik. Ansel seketika menghentikan kegiatannya, lalu menatap benda di tangan Ratu.
"Apa itu?" tanya Ansel tak mengerti.
"Lihat saja, masa kamu nggak tahu?"
Ansel mencebik lalu menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar nggak tahu," jawabnya.
"Ini alat tes kehamilan," jawab Ratu pelan. "Dan kamu lihat dua garis ini? Itu tandanya aku hamil, Ansel," desis Ratu. Raut wajah Ansel seketika berubah.
"Hamil? Sama siapa?"
"Ya sama kamulah! Sama siapa lagi? Aku cuma ngelakuin itu sama kamu." Kedua mata Ratu berkaca-kaca. Terlihat jelas jika ia sangat terbebani dengan masalah ini.
"Serius hamil?" Ansel masih tidak percaya.
"Lah, ini hasil testpack! Aku sudah mengujinya dua kali, kemarin dan hari ini," jawab Ratu. "Garis merah dua ini tandanya positif hamil."
"Ssstt! Pelankan suaramu! Aku nggak mau semua tahu tentang masalah ini," sahut Ansel panik.
"Kamu pikir aku mau kalau semua tahu soal kehamilanku?" balasnya jengkel. Ia yang seorang model ternama sudah pasti tidak akan mau jika sampai ada yang mengetahui aibnya saat ini, hamil sebelum menikah, terlebih bersama Ansel, rekan sekerjanya dalam satu rumah produksi.
"Terus bagaimana?" tanya Ansel.
"Harusnya aku yang bertanya begitu, bagaimana sekarang? Apa kamu mau bertanggung jawab?"
Ansel mendelik seketika. "Nggak mungkin! Aku masih harus melakukan banyak hal. Nggak ada waktu buat nikah!"
Ratu menatap Ansel tak percaya. "Kamu tega membiarkan aku hamil seperti ini? Padahal ini anakmu!"
"Bukan salahku, Ratu. Kamu tahu sendiri semua terjadi karena kecelakaan, sabotase! Ada yang berniat jahat pada kita."
Ratu mengusap sudut matanya yang basah. Ia terlihat kecewa dan putus asa. "Kenapa kamu jadi seperti ini? Kalau dalam pekerjaan, kamu sangat bertanggung jawab. Tetapi dalam hal ini kamu malah terkesan ingin lepas tangan."
Ansel mengusap kasar wajahnya. "Aku masih meniti karir, Sayang. Kamu tahu bagaimana ambisiku yang ingin pulang dengan membawa keberhasilanku? Aku ingin membuktikan pada papa kalau aku mampu berdiri sendiri tanpa bayang-bayang nama besarnya."
"Tapi kehamilan ini nggak bisa disembunyikan terlalu lama. Kita bisa nikah diam-diam, bukan?" Ratu masih tetap berkeras.
Ansel menggelengkan kepalanya. "Maaf, aku nggak bisa. Kamu tahu, syarat karirku nggak boleh nikah dulu."
"Astaga, lalu bagaimana dengan janin ini?"
"Gugurkan saja, kalau kamu masih ingin masa depanmu terjamin di tempat ini, dan kita masih tetap selalu bersama!" jawab Ansel dengan begitu mudahnya. Hingga tanpa di duga, satu tangan Ratu bergerak cepat, menyentuh pipi kirinya dengan keras, membuatnya meringis kesakitan.
"Apa maksudmu menamparku?" Protes Ansel tidak suka.
"Enak saja kamu menyuruhku menggugurkannya, tanpa memikirkan bagaimana perasaanku!"
Ansel menatap Ratu gusar. "Aku sudah memberikan solusi untuk masalahmu, kenapa kamu malah menyalahkan aku?"
"Masalahku? Oh, aku lupa kalau yang hamil itu aku, bukan kamu," desis Ratu.
Ansel tertawa sinis. "Tentu saja kamu yang hamil. Mana mungkin aku!" balasnya sinis.
"Tapi kamu yang sudah sudah buat aku hamil!" pekik Ratu dengan suara tertahan, ia takut ada yang mendengar. Kedua matanya sudah mulai merah dan basah. Ia benar-benar kalut saat ini.
"Mau bagaimana lagi? Aku nggak bisa," tukas Ansel.
Ratu mengusap wajahnya yang basah. "Kamu harus nikahi aku, Sel!" ucapnya setengah memaksa. Ia sudah tidak mempunyai cara lain lagi saat ini. "Mau nggak mau, kita lakukan pernikahan secara rahasia."
Ansel menggelengkan kepalanya. "Aku tetap menolak, maafkan aku. Cuma ada dua pilihan buat kamu saat ini, gugurkan saja, atau karirmu hancur!"
"Gampang banget kamu bilang seperti itu, kamu nggak tahu bagaimana perasaanku. Yang aku kandung ini nyawa, bukan mainan!"
Ansel mengedikkan bahunya. "Aku tetap dengan keputusanku. Kalau kamu masih tetap berkeras, lebih baik kita putus!" desisnya.
Ratu membelalakkan matanya. "Segampang itu?" desisnya sinis. "Aku nggak nyangka kalau kamu ternyata sepicik ini, Ansel!"
Ansel mencebikkan bibirnya. "Terserah! Yang penting aku sudah sampaikan pendapatku. Kamu pakai syukur, kalau nggak ya sudah, berarti kita putus saat ini juga!" tegasnya.
Ratu menggelengkan kepalanya. Hamil sebelum menikah saja sudah sangat berdosa, apa dirinya masih mau menambah dosa dengan menggugurkannya? Tidak! Janin ini tidak berdosa, dia hanya korban!
"Jadi, bagaimana keputusanmu?" tanya Ansel.
"Aku nggak mau gugurkan janin ini," lirih Ratu.
"Ya sudah kalau begitu, kita putus saat ini juga!" Ansel seketika membuang muka, lalu kembali menekuni pekerjaannya, seolah tidak mau lagi mendengar perkataan Ratu.
Ratu tak kuasa menahan tangis. Ucapan Ansel sangat melukai hatinya. Ternyata kekasihnya itu lebih mementingkan karir daripada cintanya. Mau bagaimana lagi? Mau tidak mau ia harus menerima keputusan ini, meskipun sakit, karena ia sangat mencintai Ansel.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Ratu melangkah pergi meninggalkan Ansel dengan segala luka di hatinya. Tidak ada lagi yang bisa dipertahankan dalam hubungan mereka saat ini, karena perbedaan prinsip, yang sangat berpengaruh dalam hidupnya.
Mulai saat ini ia harus siap dengan segala resiko dari keputusan yang sudah ia ambil. "Tenanglah, Nak. Ibumu ini akan selalu menjagamu, ibu tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu, meskipun ibu harus kehilangan segalanya."
Ratu terus berlari, tanpa mempedulikan tatapan aneh dari semua orang yang berpapasan dengannya. Ia terus berlari, hingga tidak menyadari keberadaan seseorang yang saat ini sedang mengikuti langkahnya.
"Selamat tinggal semuanya!" desis Ratu saat ia melajukan mobilnya, meninggalkan rumah produksi yang sudah membesarkan namanya itu. Air matanya meleleh perlahan, merasakan kepedihan hatinya.
"Aku harus pergi sejauh mungkin," desis Ratu. "Aku akan memulai hidup baru dan meninggalkan semuanya saat ini juga."
Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan kota itu, tempat ia dilahirkan dan dibesarkan, hingga menjadi terkenal seperti saat ini. Namun setelah ia sampai pada satu daerah terpencil, tiba-tiba mobilnya berhenti begitu saja di tengah jalan. Ia pun lalu keluar dengan panik.
Ratu memukul badan mobil dengan kesal. Niat hati ingin secepatnya pergi untuk menenangkan diri, ternyata justru malah berhenti di tengah jalan.
"Nona Serina, mohon ikut kami, Tuan sedang menunggu di luar," ucap seorang pria yang tiba-tiba berdiri di sampingnya.
Ratu menoleh ke segala arah lalu menunjuk dirinya sendiri. "Maaf, maksud Anda, saya?" tanyanya bingung. Pasalnya ia tidak melihat siapapun saat ini di tempat itu.
"Benar, Nona Serina," jawab pria itu.
"Serina? Maaf, saya bukan orang yang Anda maksud," jawab Ratu. Pria itu menatapnya bingung, namun ia segera menganggukkan kepalanya sambil menekan ear piece yang menempel di telinga kirinya.
Ratu memekik ketika tiba-tiba pria itu membekapnya dari belakang dan memaksanya masuk ke dalam mobil, yang baru saja berhenti di depannya.
"Kita pulang sekarang, Sam!" titah seorang pria yang kini berpindah duduk di samping Ratu yang sedang dalam kondisi tidak sadarkan diri. "Suruh orangmu untuk mengamankan mobilnya!"
"Siap!"
Mobil itu melaju pelan, meninggalkan jalanan yang cukup sepi. Tempat yang sangat mendukung aksi mereka dijalankan terhadap Ratu. Mereka kini menuju ke pusat kota lain, jauh dari lokasi saat ini, dan memakan waktu dua jam lamanya.
Sang pria menatap Ratu dalam-dalam, lalu mengerutkan dahinya. "Sam, dia bukan Serina!" serunya.
"Benarkah? Tapi wajahnya sangat mirip dengan Nona Serina," jawab Sam.
"Bukan! Serina ada tahi lalat di ujung hidungnya, dia tidak."
Sam melihat ke belakang dari kaca spion, memastika ucapan Tuannya. "Nona itu tadi juga bilang kalau dia bukan Nona Serina."
"Kenapa kamu tetap membawanya padaku?"
"Saya hanya mematuhi perintah Anda, Tuan Ethan. Tadi Anda meminta saya untuk memaksanya masuk ke dalam mobil."
Ethan mendecak kesal, tetapi sedetik kemudian ia menyeringai saat mendapatkan ide baru dalam benaknya. "Tidak masalah, yang penting aku sudah membawa calonku sendiri," ucapnya.
Sam menatap Ethan penuh tanya. Seolah mengerti isi hati Sam, Ethan membisikkan sesuatu di telinganya lalu terkekeh. "Bagaimana menurutmu?"
Sam mencebik. "Ide Anda bagus juga, Tuan. Tetapi, setelah itu bagaimana? Apa kita kembalikan dia ke tempat sebelumnya?"
"Lihat nanti saja bagaimana perkembangannya," jawab Ethan. "Yang penting saat ini aku sudah mendapatkan calon."
Sam tertawa kecil. "Semoga semuanya berjalan sesuai rencana."
"Lanjutkan rencana kita, panggil semua awak media yang sudah kau hubungi!" titah Ethan.
"Siap, Tuan!" jawab Sam cepat. "Tetap di hotel milik Anda?"
"Tentu saja."
"Baik, perintah di jalankan," jawab Sam, yang lalu menekan mode perintah pada ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Sudah beres, Tuan. Sekitar dua jam lagi setelah kita sampai, mereka ke lokasi."
Ethan menyeringai senang. "Bagus! Setelah sampai di hotel, panggil seorang karyawati untuk melepas semua pakaiannya!"
"Siap!"