Mr. Aro
Alvaro, pria berkaki panjang dan berkulit putih serta matanya yang indah membuat Wanita manapun bersedia memberikan hatinya, hidupnya benar-benar sempurna, menjadi Ceo di sebuah perusahaan ternama serta pewaris tunggal di perusahaan tersebut, di kelilingi Wanita cantik tiap harinya untuk menghabiskan waktu luangnya. Entah sudah berapa Wanita yang ia kencani, namun ia tetap saja tidak bisa menemukan gadis yang bisa membuatnya jatuh cinta. Tiap weekendnya ia memiliki jadwal kencan dengan beberapa gadis, dan tentu saja asisstennya lah yang menyiapkan semua kebutuhan kencannya mulai dari reservasi tempat, konsep dinner, serta hadiah yang akan ia berikan ke gadis-gadis itu. Alvaro memang tidak main- main saat memberi hadiah pada mereka bahkan mobil keluaran terbaru saja ia rela berikan asal bisa melalukan one stand night. Kala itu ia benar- benar bosan berkencan dengan Wanita nakal ibu kota, ia ingin berkencan dengan Wanita yang masih polos dan belum pernah berpacaran, dan ia pun menyuruh assistennya untuk mencari Wanita tersebut.
Di tengah keputusasaan Raya mencari pekerjaan, temannya Mia menawarkan ia untuk bekerja di tempatnya, namun Mia tidak begitu menjelaskan pekerjaan apa yang akan Ria lakukan. Mia langsung saja mengajak Raya ke sebuah Hotel dan mengantar Raya ke suatu kamar dan menigggalkannya begitu saja, Raya pun merasa dijebak oleh temannya sendiri, ia pun menelpon Mia dan menanyakan pekerjaan apa sebenernya, Mia pun tidak menjelaskan namun justru membujuknya dan mengatakan bahwa ia sangat beruntung Karena ia akan bertemu dengan lelaki kaya dan tampan yang akan mengubah hidupnya, Raya pun memaki-maki Mia yang telah menjual dirinya, namun ia justru mengelak dan menganggap ingin membantu Raya. Raya pun meminta Mia untuk segera menggantikannya, namun Mia berkata bahwa bukan Wanita sepertinya yang diinginkan, Melainkan gadis polos yang belum pernah pacaran seperti Raya.
Selang beberapa menit Alvaro datang ke kamar dan merasa shock bahwa yang ia temui adalah gadis yang ia selamatkan Ketika ia hendak bunuh diri, Rayapun tak menyangka bahwa ia akan menemui lelaki yang kala itu bermesraan dengan pacarnya dan hendak ia rekam. Mereka tak menyangka akan dipertemukan Kembali dengan cara yang konyol. Alvaro pun dengan senyumnya yang picik mencoba membuka percakapan, “hai girl, are u sure still virgin? Raya pun mengerti akan niat buruk alvaro, tanpa piker Panjang dia segera mencari benda tumpul di sekitarnya untuk menghentikan alvaro, tepat di sampingnya tempat tidur ia menemukan vas bunga dan dengan segera memukulkannya ke kepala Alvaro. Saat kepalanya berdarah Raya segera melarikan dari hotel tersebut. Alvaro benar-benar kesal terhadap kesialan yang ia dapatkan saat bertemu gadis itu.
Alvaro mulai penasaran dengan gadis tersebut dan mulai mencari identitasnya, ia ingin membalas dendam atas semua yang ia dapatkan. Ia pun meminta assistennya menemukan identitas tentang Raya, dan ditemukanlah bahwa Raya pernah melamar kerja di salah satu perusahaan Alvaro, setelah membaca resume tentang Raya ia mempunyai rencana untuk mengerjai Raya. Keesokan harinya Raya begitu Bahagia melihat panggilan interview kerja di salah satu perusahaan ternama di Jakarta, ia pun berharap bahwa ini akan menjadi Langkah baru dalam hidupnya. Dengan sangat excited ia mempersiapkan wawancara tersebut secara matang. Sesampainya disana Raya begitu kagum dengan tinnginya Gedung perusahaan tersebut, ia berkhayal pasti orang tuanya bangga jika tahu anaknya kerja di tempat seperti ini.
Setelah masuk ke dalam Gedung, Raya pun di persilahkan untuk masuk ke salah satu ruangan sambal menunggu Hrd untuk mewawancarainya. Namun ada hal yang mengganjal di hati Raya, bagaimana mungkin wawancara kerja perusahaan ternama tidak dihadiri peserta lain, “apakah hanya aku saja yang masuk kualifikasi di perusahaan ini”, batin Raya, namun itu tidak mungkin, lamaran ia di perusahaan yang tak sebesar ini saja biasanya ia gagal, apalagi perusahaan ternama ini. “Ah sudah lah mungkin ini memang sudah kehendak takdir”, batin Raya
Tak lama kemudian terdengar hentakan kaki masuk ke ruangan tersebut, melangkah ke kursi di depan Raya, seraya mengibarkan senyum yang picik, ya, dialah Alvaro, wajah Raya memerah seketika saat bertatapan dengan dia, Nadinya terasa berhenti seolah menandakan akhir hidupnya. “Bisa kita mulai interviewnya” ucap Alvaro membuka percakapan, Raya pun mencoba besikap tenang dan professional seolah-olah tak pernah bertemu. Meskipun hatinya tak tenang karena takut jika Alvaro ingin balas dendam padanya. Alvaro tidak memberi pertanyaan pada Raya tentang perusahaan, namun ia justru membacakan resume Raya ditangannya dengan mengejek dan memperolok-olok resume tersebut. “ Kamu kuliah di salah satu perguruan Swasta mana, saya tidak pernah mendengar nama universitas tersebut ? ucapnya, Raya mencoba tenang menjawab pertanyaan tersebut, namun sebelum ia menjawab Alvaro justru melanjutkan membaca resume Raya “ but wait, kamu belajar di universitas swasta namun IPK kamu biasa saja, kamu juga tidak memiliki pengalaman bekerja yang bagus, saya yakin kamu tidak mempunyai skill apapun tentang suatu pekerjaan, dan sebenarnya saya benci orang- orang seperti kamu yang tidak bisa menjadi apa-apa setelah kuliah, dan hanya menjadi beban keluarga dan negara” tandasnya. Kuping Raya terasa panas mendengar ocehan Alvaro meski yang ia katakan tidak sepenuhnya salah, namun tetap saja kata-kata itu begitu menyakitkan. Raya tidak di beri ruang Alvaro untuk berbicara, ia justru lebih ingin memerkan posisi dirinya sendiri karena sejatinya interview ini dibuat Alvaro untuk menunjukan siapa dirinya pada Raya. “oh maaf saya belum memperkenalkan diri, Nama Saya Alvaro Pradipta Putra, umur 24 tahun, Lulusan S2 Business dari Singapura, Jabatan saya Ceo dari perusahaan ini, dan asal kamu tahu perusahan ini sudah mempunyai banyak cabang serta bekerja sama dengan skala internasional, jadi tentunya kami benar-benar membutuhkan karyawan yang kompeten dan tidak asal-asal an, namun setelah melihat resume mu agak sangat miris saudara Raya yang terhormat, but I know you have passion in spread your legs in front of man, isn’t it ? Maybe u have to show it dear and I’m sure u will be get this position, hmmmm I mean missionary position or doggy, come on dear show it” Raya pun tidak tinggal diam saat ia berkata seolah merendahkan Raya apalagi saat menyebutnya Jalang, ia pun bangkit dari tempat duduknya sambal menggebrak meja. “ cukup ya pak, saya tidak tahu tujuan wawancarai ini mungkin tepatnya hanya untuk mengolok-olok saya, tapi anda juga tidak lebih baik dari saya, dan satu lagi saya bukan Wanita yang seperti anda fikirkan yang Mulia Alvaro pradipta, dengan segala kelebihan yang kamu punya, kamu tetap saja seorang lelaki hidung belang yang suka meniduri perempuan dan suka mencari gadis-gadis polos untuk kesenanganmu, saya tidak lebih hina daripada anda” jawab raya dengan kesal. “Saya suka keberanianmu, tak banyak orang yang mampu berbicara lantang di depan saya,namun saya ingin tahu sejauh apa keberanianmu”, ujar Alvaro. “ Apa yang harus kutakutkan dari dirimu”? jawab raya.. “ aku hanya memperingatkan Sebagian orang menghormatiku karena takut hidupnya hancur” ujar Alvaro. Raya pun hanya bisa tertawa dan berkata ” kau tidak bisa menghancurkan sesuatu yang sudah berantakan pak, aku mungkin tak terlahir seberuntung kamu yang terlahir dari keluarga kaya raya tidak pernah khawatir akan masa depan dan bisa mendapatkan apa yang kamu butuhkan, namun kamu tidak pernah tahu kan caranya bangkit jika semua itu telah hilang, karena dalam kamu tidak pernah belajar banyak hal, bahkan rasa simpati dan Nurani mu pun tak ada, bisa saja kau hancurkan hidupku tapi itu tidak berarti apa-apa karena saya sudah terbiasa dengan kepahitan hidup, justru bagaimana jika seorang yang terbiasa menikmati hidupnya kemudian kehilangan semuanya, apa mungkin dia masih bisa bertahan, saya rasa tidak pak” ujarnya sambal tersenyum“ lalu bagaimana pak jika semua orang wajah sebenarnya bapak, siapkah bapak kehilangan citra baik perusahaan yang telah di bangun bertahun-tahun? Saya masih punya rekaman bapak saat melakukan s****l harassment di apartment bapak, dan saya juga punya bukti tentang pelecehan bapak terhadap saya”.
Alvaro tertawa saat mendengar ancaman Raya, “ hey girl, point pertama saya tidak pernah melakukan s****l harassment karena saya melakukan dengan pacar saya, dan yang kedua saya tidak pernah menyentuhmu sekalipun, kau tidak bisa melaporkanku tanpa bukti, justru saya yang akan menututmu atas UU ITE jika video tersebut tersebar, dan saya akan meminta visum atas dirimu, jika terbukti kamu baik-baik saja, maka saya akan tuntut balik atas pencemaran nama baik, dan menurut saya bukanlah saya yang akan hancur, namun diri kamu sendiri. Kamu tidak ingat awal pertama pertemuan kita saat kau ingin mengakhiri hidup karena tidak mendapat pekerjaan? Mungkin setelah beritanya akan masuk Tv, dan ingat saya tidak akan menyelamatkanmu untuk kedua kalinya. Raya semakin menggila saat posisinya tersudutkan oleh Alvaro. Dan kali ini dia benar-benar kehilangan akal sehatnya, ia mencoba melompat dari jendela Gedung. “ Baiklah pak jika memang takdir saya untuk bunuh diri maka kuputuskan mengakhiri hidupku disini agar kau juga bisa menjadi tersangka atas kasusku ini, aku juga sudah muak dengan kehidupanku ini”
“Silahkan saja cctv di ruangan ini masih berfungsi”.Raya pun semakin bingung dengan dirinya sendiri karena ia tidak ingin mengakhiri hidupnya untuk kedua kalinya, ia masih ingin hidup dan berharap Alvaro masih ingin menyelamatkannya lagi namun kali ini tampaknya berbeda karena ia benar-benar acuh terhadapku. Saat mulai memejamkan mata dan mengatur nafas agar segera melompat, tiba-tiba saja dating segerombolan security yang menarik ku dan mengusirku layaknya seperti orang gangguan jiwa. Raya pun memberontak dan meminta bahwa ia bisa keluar sendiri dari ruangan tersebut. Interview yang seharusnya menjadi harapannya justru dijadikan sebuah mainan oleh Alvaro, Raya begitu dendam padanya yang telah mempermainkan dan menghinanya.
Ia bersumpah akan membalasnya kelak jika diberi kesempatan oleh Tuhan. Sesampai di rumah ia benar-benar merasa kacau akan yang dialaminya bukan hanya tentang perlakuan alvaro namun juga kenyataan pahit yang membuatnya masih belum bisa membahagiakan kedua orang tuanya bebannya begitu berat setiap mendengar keluh kesah orang tuanya karena ekonomi, ia menjadi merasa gagal menjadi seorang anak. Sesak rasanya saat pertanyaan-pertanyaan kecil mereka seperti “ sudah kerja dimana nak” entah harus bagaimana lagi caraku menjawabnya agar tidak mngecewakan mereka? Ditambah saat mereka mengucapkan doa untukku agar segera bisa mendapatkan pekerjaan, hal ini membuatku benar-benar tak bisa membendung air mataku lagi, andai saja mereka tahu bahwa patah hati terbesar adalah saat melihat mereka belum Bahagia.