[13] Black Suit

1307 Words
Midgard tampak dipenuhi oleh orang-orang dengan pakaian serba hitam. Mereka mengenakan masker berwarna hijau dan sarung tangan karet di kedua tangannya. Mayat yang ditemukan di toilet, segera di masukkan ke dalam mobil untuk dipindahkan ke Markant dalam keperluan autopsi. Kakak dari korban, Ipang, menangis dengan histeris saat melihat tubuh adiknya yang sudah tidak bernyawa dibawa oleh Okep dan Shnz. Tubuhnya sudah ditutupi dengan kain berwarna putih. Bagian telapak kakinya yang tak tertutup oleh kain, berwarna biru pucat. "Nazla! Nazla! Tolong lepaskan kain itu! Ia masih hidup!" teriak Ipang. Xogawl menahan badan Ipang agar tidak menghampiri Nazla. Dirinya terus memberontak dan mengatakan bahwa Nazla masih hidup, namun kenyataannya tidak demikian. Nazla ditemukan sudah tidak bernyawa di toilet Midgard, dengan luka tembak di d**a bagian kiri dan pada pergelangan tangannya terdapat pola berbentuk tak beraturan yang diukir menggunakan pisau.   Jjmxn sibuk mendokumentasikan sekitar lokasi kejadian. Ia berusaha mengumpulkan barang bukti dari kasus pembunuhan ini. Namun, hasilnya nihil. Tidak ada jejak apapun dari pembunuh itu, selain pola tak beraturan yang berada di pergelangan tangan kanannya. Tubuh Nazla sudah dimasukan ke dalam mobil dan segera dibawa menuju Markant untuk di autopsi. "Apa ada petunjuk lain?" tanya Bangcox. "Tidak ada, Cox, hanya tanda di pergelangan tangan dan luka tembaknya saja. Namun, darah dari lukanya tidak terlalu banyak. Kemungkinan, mayatnya diletakkan setelah tertembak, atau Nazla sudah lebih dulu ditembak di luar toilet," jelas Jjmxn. Bangcox dan Jjmxn keluar dari toilet. Di luar sudah banyak orang yang ingin melihat apa yang terjadi di dalam sana. Namun mereka tidak bisa terlalu dekat, karena dua meter dari toilet, terdapat para penjaga dengan badan cukup besar dan mengenakan seragam hitam seperti yang dikenakan oleh anggota MIF lainnya. Bangcox melihat ke arah Ipang yang terus meronta-ronta dari pelukan Xogawl. Ia terus menerus berteriak dengan histeris karena belum percaya sepenuhnya jika adik perempuannya tewas dalam kondisi mengenaskan. "Tolong introgasi orang disekitarnya, yang dicurigai sebagai pembunuh," pinta Bangcox. "Aku sudah mengumpulkan, setidaknya ada dua orang yang akan kita jadikan saksi," jelas Jjmxn. "Bagus." Jjmxn dan Bangcox masuk ke dalam mobil berwarna hitam. Mobil itu segera melaju dan pergi meninggalkan Midgard. Ipang berjalan dengan tergesa-gesa di koridor asrama. Tangannya mengepal dengan keras karena menahan emosi yang sudah memuncak hingga ke ubun-ubun. Matanya merah padam karena emosinya. Brak! Ipang menendang pintu kamar Jekurl dan masuk ke dalamnya. Pintu itu terlepas begitu saja ke lantai saat ditendang oleh Ipang. Ipang segera masuk ke dalam dan menarik rambut Jekurl. "Aku tau, pasti kamu yang membunuh Nazla! Kau dendam dengannya, bukan?" tanya Ipang. Jekurl tidak menjawab pertanyaan dari Ipang, tangannya terus menarik-narik rambutnya dan berusaha melepaskannya dari genggaman Ipang. "Jawab aku, bodoh!" "Aku tidak membunuhnya! Walaupun aku benci dengannya, tapi aku tidak akan membunuhnya! Itu adalah cara paling rendahan untuk mengungkapkan kebencianku pada Nazla!" jawab Jekurl dengan nada tinggi yang sama tingginya dengan suara Ipang. "Aku tau kau berbohong! Lebih baik kau mengaku sekarang dan serahkan dirimu pada MIF!" Jekurl berhasil melepaskan rambutnya dari genggaman tangan Ipang. Ia merapikan rambutnya kasar dan menatap Ipang dengan tatapan cukup tajam. "Kau tidak pantas menatapku seperti itu!" Ipang mencekik leher Jekurl dengan satu tangan, wajah Jekurl berubah menjadi merah padam karena kehabisan oksigen. Murid lain yang sedari tadi mendengar suara teriakan dari kamar Jekurl, hanya bisa menyaksikan dari ambang pintu tanpa ada niatan untuk melerai keduanya. "Jekurl! Ipang! Hentikan!" teriak Xogawl dari ambang pintu. Ipang melepaskan cekikannya dari leher Jekurl. Suara nafas Jekurl terdengar memburu. Ia berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya karena rasa sesak yang ia rasakan tadi membuat paru-parunya seperti berhenti bekerja. "Apa yang kalian lakukan? Tolong jangan ribut seperti ini. Seharusnya kalian berduka, karena saudara perempuan kalian tiada, bukannya bertengkar seperti kucing yang berebut makanan!" ujar Xogawl. Jekurl dan Ipang menundukan kepalanya mendengar penuturan dari Xogawl. Memang benar, walaupun Jekurl terlihat membenci Nazla, namun sebenarnya, ia tidak membenci Nazla seperti kelihatannya. Ia hanya membenci King'sx yang bersikap seperti seorang b******n karena menghamili wanita lain di saat Ibunya sedang mengandung dirinya. Jekurl juga merasa sedih saat Nazla ditemukan sudah tidak bernyawa. Bahkan, Jekurl langsung kembali ke kamarnya dan menghabiskan tiga kotak tisu untuk mengusap air matanya. "Baca ini dan segera pergi menuju Markant." Xogawl memberikan sebuah amplop berwarna putih pada Jekurl dan Ipang. "Itu adalah surat panggilan kalian sebagai saksi atas Nazla. Tolong jawab sejujur-jujurnya dan aku minta, tolong jangan ada yang ditutupi," ujar Xogawl. Xogawl pergi meninggalkan Jekurl dan Ipang yang masih menatap amplop berwarna putih itu. Mereka sama sekali tidak memberikan reaksi apapun bahkan tidak bergeming dari pandangannya. Jekurl dan Ipang kini berdiri di sebuah gedung yang cukup besar, dengan tulisan Markant di atasnya. Mereka memenuhi panggilan introgasi sebagai saksi dari pembunuhan Nazla. "Sebaiknya kau mengakui jika kau membunuhnya, dengan begitu, aku akan memaafkanmu," ujar Ipang. "Aku tidak membunuhnya, jadi aku tidak akan mengakui itu," jawab Jekurl. Jjmxn mempersilahkan Ipang masuk terlebih dahulu dan mengintrogasinya. Ia ditugaskan oleh Bangcox untuk mengintrogasi Jekurl dan Ipang, dengan pertanyaannya yang sama dan menyuntikkan serum veracity agar tidak ada kebohongan dari pernyataan Jekurl dan Ipang. Ipang keluar dari ruang introgasi setelah dicecari pertanyaan selama dua jam. Bukan karena pertanyaan yang cukup banyak, namun karena ia harus menenangkan diri dari tangisannya agar bisa menjawab pertanyaan dari Jjmxn. "Duduklah disini dan tenangkan dirimu," titah Jjmxn. "Terima kasih," jawab Ipang. Ipang duduk di samping Jekurl dan terus mengusap air matanya yang mengalir tanpa henti menggunakan tisu yang diberikan oleh Jjmxn. "Jekurl," panggil Jjmxn. Jekurl tertidur di kursi yang terdapat di sebrang ruang introgasi. Matanya terpejam dan kepalanya menunduk. "Jekurl," panggil Jjmxn sekali lagi. Tidak ada jawaban sama sekali darinya. Jjmxn menghampiri Jekurl dan menepuk bahunya pelan. "Ya?" Jekurl sedikit terkejut dan mengangkat kepalanya menatap Jjmxn. "Sekarang giliranmu," ujar Jjmxn. Jekurl bangkit dari kursinya dan mengikuti langkah Jjmxn memasuki ruang introgasi. "Baiklah, aku akan memberimu serum ini, jika kamu menjawab pertanyaan dengan berbohong, serum ini akan beraksi langsung untuk menyetrum seluruh tubuhmu. Apa kau mengerti?" tanya Jjmxn. Jekurl menganggukan kepalanya. Lalu, Jjmxn mengambil jarum suntik dan menyuntikannya pada Jekurl. Jjmxn keluar bersama Jekurl. Matanya terlihat sembab dan hidungnya memerah akibat menangis cukup lama di dalam. Jekurl menangis sama seperti Ipang dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menenangkan Jekurl. Di luar, Ipang masih setia terduduk di kursi tunggu. Tangisannya sudah berhenti, sekarang hanya tersisa mata yang sama sembabnya dengan mata Jekurl dan hidung yang berwarna merah seperti tomat. "Hati-hati selama perjalanan ke Midgard. Jangan lupa kabari aku melalui Xogawl, jika kalian sudah tiba di sana, oke?" ujar Jjmxn. "Baiklah. Kami pulang dulu, Paman," ujar Ipang. Jekurl berjalan mengikuti Ipang di belakangnya. Ia masih merasa canggung dengan Ipang jika harus berjalan bersebelahan dengannya. Tok! Tok! Tok! "Permisi," ujar Jjmxn. Jjmxn masuk ke ruangan Bangcox dan memberikan hasil introgasi dari Jekurl dan Ipang. "Sudah kau introgasi semuanya, Je?" tanya Bangcox. "Sudah, namun tidak ada tanda-tanda jika salah satu dari mereka yang membunuhnya," jawab Jjmxn. Bangcox melihat kertas-kertas yang berisikan jawaban atas pertanyaan yang tadi diajukan oleh Jjmxn. "Apa kau yakin jika ini adalah ulah Moord?" tanya Jjmxn. "Ya, perasaanku berkata demikian." "Sampai kapan kau akan mengulur waktu untuk menangkap Moord, Cox?" "Sampai aku menemukan bukti yang kuat untuk menariknya ke hadapan Horus." Bangcox meregangkan ikatan dasi pada lehernya dan meletekan kertas itu pada laci meja nya. "Jangan mengulur waktu terlalu lama, aku takut semakin banyak korban atas ulahnya." "Ya, aku mengerti, Je." Jjmxn pergi meninggalkan ruangan Bangcox. Ia pergi menuju ruangan, dimana jasad Nazla diletakkan di sana. Tubuh Nazla ditutupi dengan kain putih. Pihak dari MIF masih menunggu keterangan lebih lanjut dari Raeki dan Arxen mengenai tahap autopsi untuk Nazla. "Je," panggil Okep. Jjmxn memutar badannya menghadap Okep. "Raeki menolak dilakukan autopsi. Jadi, kita harus segera memesan makamnya," ujar Okep. Jjmxn cukup kecewa mendengar jawaban dari Okep. Orang tua dari Nazla menolak untuk melakukan autopsi. Karena yang sebelumnya, Paler dan Sagey yang dilakukan autopsi, sama sekali tidak menunjukan petunjuk lain atas pembunuhannya. Dan sekarang, pembunuhan itu masih menjadi misteri, yang Jjmxn takutkan adalah penambahan korban dari pembunuhan berantai Moord. Jjmxn mengacak rambutnya frustasi. Tatapannya penuh emosi menahan tubuh Nazla. "Je?" panggil Okep. "Pesankan lokasi untuk pemakamannya," titah Jjmxn. Kasus pembunuhan Nazla terpaksa ditutup karena kurangnya bukti dan orang tua Nazla yang tidak ingin dilakukan autopsi. Bangcox meminta pada Deswag agar menjalankan sistem pembelajaran Midgard seperti biasanya dan seolah tidak ada yang terganggu. Ia juga tidak lupa untuk mengadakan upacara penghormatan terakhir bagi Nazla dan menghapus namanya dari daftar absen siswa.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD