[12] Dood Marathon

1550 Words
Hari ini adalah hari yang paling dinantikan bagi seluruh murid di Midgard. Perlombaan ini dimaksudkan dalam menyambut murid baru dan dalam rangka perkenalan antar asrama. Dari asrama Levongard, mereka menunjuk Delwish, Alice dan Jekurl sebagai perwakilan. Rothegard menunjuk Ventrice, Bybae dam Yuri. Pyrogard menunjuk Abeth, Richard dan Raxo. Dynogard mengirim Skwangur, Baek dan Galvin sebagai perwakilan asrama mereka. Masing-masing dari perwakilan diberi nomor urut dan diarahkan mengenai jalur yang mereka tempuh. Jalur Dood Marathon tidak akan keluar dari Midgard, mereka hanya perlu mengelilingi Midgard dan yang pertama tiba di garis finish adalah pemenangnya. Delwish dan yang lainnya sudah bersiap di garis start dan memasang posisi siapnya sebelum berlari sejauh empat kilometer. Delwish berdiri di antara Richard dan Abeth. "Kalau kamu gak sanggup berlari, berhenti saja, Del. Masih ada dua orang lagi perwakilan dari Levongard," ujar Abeth. "Tenang saja, Beth, aku akan baik-baik saja," jawab Delwish. Winter menekan tombol berwarna merah dan sebuah suara dari speaker terdengar sangat nyaring, menandakan bahwa perlombaan sudah dimulai dan para peserta bisa berlari sampai garis finish yang terletak di dekat gedung seni. Delwish berlari di posisi ketiga, sedangkan di posisi pertama ada Richard dan di belakangnya ada Abeth. Mereka tidak melakukan lari cepat, mereka hanya berlari santai agar tidak terlalu lelah sampai garis finish. Bruk! Abeth menolehkan pandangannya, dan melihat Delwish jatuh tersungkur ke tanah dengan pergelangan kaki kanannya yang terlihat berdarah. Delwish seperti terkena sayatan, hingga pergelangan kakinya dihiasi darah yang keluar dengan cukup banyak. Dengan cepat Abeth memutar arahnya dan berlari menghampiri Delwish. Mereka sudah berlari cukup jauh, jadi sangat tidak mungkin jika meminta bantuan dari Winter atau dari murid lainnya yang sedang menonton. "Del? Kakimu kenapa berdarah?" tanya Abeth panik. Abeth merobek sedikit bajunya dan mengikatkannya pada pergelangan kaki Delwish yang berdarah. "Aw!" pekik Delwish. "Tahan sedikit." Alice yang sedang berlari di belakang Delwish perlahan mendekat dan menghampiri Delwish yang terduduk di tanah dengan memegangi kaki kanannya. "Delwish?" Alice menyadari jika perempuan yang sedang terduduk di tengah jalan adalah teman lamanya. "Sudah, kamu lanjutkan saja perlombaan ini. Aku akan mengantarkan Delwish ke Infirmary Midgard," ujar Alice. Abeth mengusap kepala Delwish sebentar lalu kembali berlari menyusul beberapa peserta yang sudah melewatinya. Alice memapah tubuh Delwish dan menyampirkan tangan kanannya pada bahunya lalu berjalan menuju Infirmary Midgard yang tidak jauh dari sana. Ia langsung mendudukan Delwish pada sebuah tempat tidur, dan mengambil beberapa obat untuk mengobati lukanya. Delwish memperhatikan wajah Aliceberkali-kali dan menatapnya lekat. "Apa?" tanya Alice sinis. "Tidak, tidak apa-apa." Delwish memalingkan wajahnya saat ia ketahuan oleh Alice bahwa ia sedang menatap wajah Alice lekat. "Selesai." Alice berdiri dan kembali meletakkan obat pada tempatnya semula. Infirmary Midgard terlihat sangat sepi, beberapa perawatnya bahkan tidak terlihat batang hidungnya. Sehingga, Alice terpaksa mengobati Delwish langsung karena jika mereka menunggu seorang perawat, Alice khawatir jika Delwish akan terkena infeksi. "Terima kasih," ujar Delwish. Delwish meluruskan kakinya di kasur dan merebahkan badannya di atas tempat tidur itu. Alice duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari tempat Delwish terbaring. "Kenapa kakimu bisa berdarah seperti itu, Del?" tanya Alice. "Entahlah, aku hanya berlari lalu tiba-tiba kakiku seperti terkena sesuatu yang membuatnya terasa perih, tidak lama, darah mengalir dengan sangat banyak," jelas Delwish. "Kau harus lebih berhati-hati, bodoh!" "Maaf." Delwish menundukan kepalanya. Setelah Delwish merasa kakinya sudah lebih baik, Alice langsung mengantarkan Delwish menuju kamarnya dan membiarkannya beristirahat. Alice kembali ke jalur Dood Marathon untuk memeriksa apa yang terjadi di sana dan bagaimana kaki Delwish bisa terluka seperti itu. "Apa ini?" gumam Alice dalam hati. Alice mendapati sebuah benang tipis dengan warna tembus pandang, sehingga terlihat samar dan siapapun yang lengah melewati jalan itu bisa saja terluka. Alice menarik arah benang itu berasal dan tepat di sudut jalan dekat pohon besar, Alice melihat kayu tertancap sebagai penahan benang itu agar tidak pergi dari tempatnya. "Sepertinya seseorang ada yang berusaha mencelakai Delwish atau orang lain dalam perlombaan ini." gumamnya. Alice kembali ke Levongard untuk membersihkan diri dan berkumpul di aula Midgard untuk mendengarkan pengumuman hasil perlombaan Dood Marathon. Midgard Aula 07.20 PM "Baiklah, kita sambut juara pertama kita yang berasal dari asrama Pyrogard, Richard!" Winter berteriak menyerukan pemenang dari Dood Marathon. Richard berhasil menyentuh garis finish pertama, artinya seluruh penghuni asramanya mendapatkan fasilitas berupa porsi makan lebih banyak dan inrichter selama tiga bulan. Winter mempersilahkan Richard untuk menyampaikan beberapa kata sambutan dan ucapan terima kasihnya karena telah memenangkan kompetisi ini dengan sangat baik. "Terima kasih untuk orang-orang yang sudah mendukungku, terutama untuk Six Packs yang sudah menjadi pendukung sekaligus penggemar setiaku. Kalian harus banyak berterima kasih kepadaku, karena kalian akan mendapatkan fasilitas inrichter dan makan dengan sangat banyak. Terima kasih." Richard langsung turun dari atas panggung setelah menyampaikan beberapa ucapan terima kasihnya. Six Packs, adalah nama yang diberikan oleh Richard dan sebutan darinya untuk teman-temannya. Bisa dibilang, Six Packs berisikan laki-laki populer Midgard yang kebetulan berada di gedung asrama yang sama dan di lantai yang sama. Richard, Jimy, Abeth, Zero, Raxo dan Axon bertemu secara kebetulan dengan cara yang cukup konyol. Mereka pertama kali bertemu pada hari pertama masuk Midgard, tepatnya di sebuah lift. Raxo tiba-tiba saja membuang gas dengan cukup nyaring, padahal saat itu mereka sedang berada di ruang tertutup. Raxo hanya terdiam dan memasang wajah malu dan sok dingin saat ia ketahuan bahwa ia sedang membuang gas. Sontak, yang lain hanya tertawa melihat tingkahnya dan sejak saat itu mereka akrab dan memulai pertemanannya. Six Packs memang terdiri dari laki-laki populer dan tampan, misalnya Abeth yang merupakan anak dari pemimpin Maple, Grey dan Kimshin. Abeth tidak pernah menunjukan bahwa ia adalah anak dari Grey, karena menurutnya, keberhasilan orang tuanya bukanlah sesuatu yang harus ditunjukan pada seluruh orang. "Malam ini, adalah malam terakhir kalian menjadi anak-anak. Malam ini adalah malam kalian menjadi dewasa sekaligus merayakan keberhasilan Richard dan menjadi pesta pembuka di Midgard. Welcome to Midgard!" ujar Winter. Para murid bersorak ramai dan berhambur diri untuk mengambil beberapa makanan ringan yang sudah disediakan di atas sebuah meja berwarna merah muda. Suara musik terdengar semakin mengeras. Six Packs diminta untuk menjadi pengisi acara malam ini. Tanpa berpikir lama, Abeth langsung menerima tawaran itu dan menganggap sebagai sebuah tantangan bagi Six Packs dalam menyanyi dan menari. "Baiklah, langsung saja kita sambut, Six Packs!" sahut Winter. Six Packs naik ke atas panggung. Mereka mengenakan pakaian formal dan sangat rapi. Mereka terlihat mengambil formasi untuk memulai penampilannya pada malam ini. "Aku rasa Delwish akan menyesal karena tidak melihat mereka," gumam Faxel. Six Packs Perfomance [Abeth] You're not a daydreamer Jigeum ne nunapeun Neoui sigongganneul meomchul saeroun Fantasy [Zero] Nega nal bulleo Ganjeolhi wonhal ttae Ne mom gotgose beonjyeo gamgageul kkae-ulge [Axon] Nan dalkomhan Poison Nal geobuhageona pihaneun geon No choices Ne hoheubi ne che-oni bulgati [Abeth] Daraoreun geol ani [Richard] Your Fantasy [All] Sangsang soge cha-oreun Ne kkumeul modu kkeonaejwo Geuge baro najanha [Richard] Deo bultaewo bwa [All] Tteugeowojin nunbichgwa Teojil geot gateun yeoljeong da Nal wonhanmankeum gajyeobwa [Richard] I'm Your Fantasy [Raxo] Nega nae ireumeul bulleojun sun-gane I'm alive Miro an gadhin nal I kkeureo jun geon neoya Right [Richard] Nae moksoriga pieonagil bara Neoui gwitga-e tto maeum ane Neoneun sangsanghae naega mandeulge Kkumkkudeon modeun-ge da gangneunghage [Zero] Gamjeongi dwoseokkin miro Neon geokjeong ma Kkeullineun daero midgo nareul ttarawa [Jimy] Sum makhil deuthan Fever 'Cause we run so hot Ijen meomchul su eobseo nae mame ollata [Axon] Nan dalkomhan Prison Neon daranal sudo sumeul sudo eobtgeodeun Gildeulyeojyeo nae pume deo gipsuki [Abeth] Ppajyeodeuneun geol ara [Richard] Your Fantasy Six Packs baru saja menyelesaikan penampilan mereka. Mereka langsung turun dari atas panggung. Keringat mereka terlihat membasahi wajah dan raut wajah bahagia mereka sudah tidak dapat disembunyikan. Abeth tidak menyangka jika penampilan mereka dengan latihan hanya empat jam, bisa memuaskan dan menghibur banyak orang yang melihatnya. Abeth mengedarkan pandangannya mencari batang hidung Delwish yang sedari tadi tidak terlihat. "Xel," panggil Abeth. Faxel membalikan badan menghadap Abeth. "Delwish mana?" tanya Abeth. "Dia di kamar. Kakinya belum benar-benar terlihat membaik. Tapi kamu tenang saja, darahnya sudah berhenti mengalir," jawab Faxel. "Ah baiklah, terima kasih, Xel." "Sama-sama, Beth. Aku ke toilet dahulu, ya." Faxel menepuk bahu Abeth dan berjalan ke belakang Abeth, menuju toilet. Toilet 08.55 PM Faxel bercermin pada cermin besar yang ada di toilet itu. Ia membasuh tangannya dengan sabun dan membersihkan sisa busanya hingga bersih. "Terima kasih, Kak. Berkat kakak, Faxel bisa berada di dunia luar dan bertemu dengan teman-teman seperti orang normal lainnya," gumam Faxel. Faxel mengerikan tangannya pada sebuah hand dryer. "Aduh!" pekik Faxel. Kaki Faxel seperti terhalang oleh sesuatu dan membuat dirinya tersandung. Ia melihat ke bawah dan terlihat kaki perempuan yang berasal dari dalam kamar mandi. Kaki itu keluar dari dalam, melalui celah bawah pintu hingga sebetis. "Apa orang ini tertidur disini?" gumam Faxel. Faxel mendorong sedikit pintu itu untuk melihat siapa yang ada di dalam sana. "Permi-" suara Faxel tercekat. "Huaaaaa!" Faxel berteriak histeris melihat apa yang ada di dalam kamar mandi itu. Faxel berlari keluar kamar mandi dan mencari guru atau orang lain yang dapat membantunya. "Bu Xogawl!" teriak Faxel. Nafas Faxel terengah-engah. Ia berlari cukup kencang dari toilet. "Ada apa Faxel? Apa kamu baru saja dikejar oleh hantu? Kenapa kamu berlari terbirit-b***t seperti itu?" tanya Xogawl. Xogawl sedang meminum wine bersama dengan murid lainnya dan berbincang-bincang mengenai path. Melihat Faxel yang memanggilnya dengan panik, ia langsung meletakkan gelas wine nya dan berdiri menghadap Faxel. "Hei, atur nafasmu terlebih dahulu. Lalu katakan pada saya apa yang terjadi." Xogawl memegang bahu Faxel, untuk menenangkan Faxel agar bisa tenang menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. "Mayat. Itu, aku melihat sebuah mayat. Seseorang dengan darah, berada di toilet perempuan," ujar Faxel terbata-bata. Xogawl membulatkan matanya dan segera berlari ke arah toilet perempuan. Benar saja, sebuah kaki terlihat keluar dari dalam kamar mandi, disekitarnya sudah ada darah mengalir. Murid perempuan itu sudah berlumuran dengan darah. Xogawl mendekati mayat murid perempuan itu dan melihat tanda di pergelangan tangan kanannya. Xogawl mengeluarkan inrichternya dan segera menghubungi Bangcox untuk memberitahukan hal ini. "Cox." "Ada apa?" "Aku rasa Moord berulah lagi." "Siapa korbannya?" "Nazla."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD