[11] New Roomate

2486 Words
Delwish keluar dari lift dan menarik ketiga kopernya yang terlihat cukup besar dan membuatnya kesusahan dengan itu. Delwish mengedarkan pandangannya dan melihat sekelilingnya. Penampilan di Midgard benar-benar berbeda dengan suasana rumahnya. Terutama, pada ornamen serta hiasan-hiasan dinding yang ada di sana. Di Midgard, terdapat empat gedung asrama. Levongard dan Rothegard adalah asrama untuk perempuan, sedangkan Pyrogard dan Dynogard diperuntukan untuk laki-laki. Masing-masing asrama memiliki sebelas lantai, dengan tiga kamar yang mengisi setiap lantai. Lantai satu, diisi oleh berbagai ruang kebutuhan bagi para murid, seperti tempat mencuci pakaian, refleksi, perawatan dan lain-lain. Tidak sulit bagi Delwish untuk menemukan kamar 3.03, karena saat keluar dari lift, terdapat papan penunjuk di dinding yang menunjukan setiap arah kamar yang ada di lantai itu. Delwish sampai di depan kamarnya. Angka 3.03 tertera di pintunya, dan namanya juga tertera disana. Delwish memicingkan matanya melihat nama teman sekamarnya yang terbilang cukup unik. Delwish membuka pintu kamarnya. Terlihat perempuan sebayanya, dengan rambut panjang terurai yang sedang membereskan pakaiannya ke dalam lemari. "Hai," sapa Delwish. Delwish berjalan mendekati teman sekamarnya dan menyapanya. Canggung rasanya bagi Delwish menyapa orang yang baru saja ia temui dan merasa akrab padahal tidak, seperti yang ia lakukan saat ini. Perempuan itu menghentikan aktifitasnya dan membalikan badannya menghadap Delwish. Jari tangan lentiknya terlihat merapihan rambutnya dengan menyisipkannya di belakang telinganya. Wajahnya terlihat cukup ramah, dengan poni yang menutupi dahinya dan bagian pipinya yang nampak lebih berisi. "Hai juga Delwish. Kenalkan, aku Faxel. Semoga kita bisa berteman baik," sapa Faxel. Faxel mengulurkan tangan kananya dan disambut salaman dari Delwish. "Dari mana kau tau namaku?" tanya Delwish bingung padahal ia belum memperkenalkan diri. "Dari papan namamu yang terletak di depan pintu kamar," jawab Faxel. Delwish menepuk dahinya dnegan tangannya. "Ah iya, aku lupa." "Dasar kamu pelupa, Del. Oh ya, kamu tidur di atas ya lemari pakaianmu di sebelah sana. Kalau kamu butuh bantuan, panggil aku saja. Aku hanya tinggal merapikan sedikit pakaian ini dan meletakkan beberapa alat mandi di kamar mandi," jelas Faxel. Delwish melihat lemari yang baru saja dimaksud oleh Faxel kemudian menganggukan kepalanya mengerti. "Jika sudah selesai, sebaiknya kita berkeliling Midgard. Anggap saja sekarang adalah hari terakhir libur, karena besok kita sudah mulai belajar." "Ah, baiklah. Aku akan segera merapikan pakaianku." Delwish menggeser kopernya mendekati lemari dan membuka lemari itu. Seluruh isi kamar itu dihiasi oleh warna hitam dan putih. Kamar itu hanya diisi oleh satu kasur dengan bagian atas dan bawah, dua lemari, dua meja belajar, satu rak buku dan kamar mandi. Seperti yang sudah dikatakan oleh Faxel, setelah mereka membereskan pakaian dan menata barang masing-masing pada kamarnya. Mereka turun dari lantai tiga dan keluar untuk melihat-lihat Midgard. Saat tiba di lobby, sudah banyak murid-murid yang sedang mengantri lift dengan barang bawaan yang tidak bisa dibilang sedikit. Midgard tidak bisa dikatakan kecil. Karena setiap ruang belajar yang ada di Midgard berada dalam gedung terpisah. Seperti gedung olahraga, gedung seni, dan gedung-gedung lainnya. Baru setengah dari luas Midgard yang baru dijajahi oleh Faxel dan Delwish. Mereka tampak kagum dengan berbagai fasilitas yang disediakan disana. Cukup sayang rasanya, jika mengingat mereka hanya bisa menikmati fasilitas disini selama satu tahun. Setelah selesai berkeliling sebagian dari Midgard, Delwish dan Faxel memutuskan untuk beristirahat dan mempersiapkan diri pada pembelajaran esok hari. Besok adalah hari pertama bagi mereka, mengenal orang-orang asing yang belum mereka temui dan mengenal lebih dalam mengenai pembelajaran sebelum melanjutkan diri ke path. Delwish naik ke atas kasurnya melalui tangga yang ada di samping tempat tidur itu. Lalu menjatuhkan dirinya diatas kasur dengan sprei berwarna putih. Pandangannya menatap langit-langit kamar. "Kau harus segera memejamkan mata, Del. Waktu tidur kita tersisa delapan jam dari sekarang," ujar Faxel dari bawah tempat tidurnya, Faxel mengetahui jika Delwish belum tertidur dan masih membuka matanya. "Iya, Xel. Kamu juga," jawab Delwish. Delwish dan Faxel memejamkan matanya. Menanti esok pagi yang akan terlihat lebih cerah dan jauh lebih sibuk dari pada hari biasanya. Matahari semakin meninggikan dirinya. Cahayanya terasa hangat dan menyilaukan mata setiap orang yang berdiri di tengah lapangan itu. Baik laki-laki maupun perempuan, terlihat berbaris dengan rapi dan menghadap sebuah mimbar dengan seorang pria yang sedang berdiri di sana. Tidak ada yang diperbolehkan berbicara selama pria itu berbicara di depan. Begitulah, perintah yang disampaikan sesaat sebelum mereka berbaris dengan rapi di sana. "Selamat pagi semuanya, saya adalah Deswag. Head master di Midgard. Kalian bisa memanggil saya dengan apapun yang kalian mau, asalkan kalian tetap menghormati saya disini. Selamat datang untuk generasi terbaru di Valhalla yang sebentar lagi akan melanjutkan diri pada path masing-masing," ujar Deswag. Deswag menjelaskan beberapa peraturan yang ada di Midgard. Ia juga memperkenalkan guru-guru yang mengajar disana. Setiap tahunnya, Midgard akan mengundang orang-orang dari luar yang berprestasi, untuk mengisi kelas di Midgard. Dan tahun ini, Xogawl, Leona dan Winter yang akan mengisi posisi guru undangan itu. Xogawl mengisi sebagai guru weapon, ia mengajarkan cara menggunakan s*****a-s*****a dan alat-alat intelegent yang berada di Midgard dan merupakan pelajaran dasar bagi siapapun yang meminatkan diri pada Matildas Intelegencie Familia. Leona, penyanyi populer yang sudah dikenal oleh banyak orang karena suara emasnya. Ia akan mengisi kelas seni yang menjadi pelajaran dasar bagi peminat Golden Entertainment. Winter, pria tertampan dari Maple. Ia ditunjuk oleh Grey sebagai guru undangan yang akan mengajarkan kegiatan olahraga sebagai mata pelajaran dasar sebelum memasuki Maple. Agan, guru tetap dari Midgard yang mengisi posisi guru di kelas poison, mengajarkan berbagai unsur kimia serta racun yang ditetapkan sebagai kelas dasar sebelum melanjutkan ke path Slade h****n. Pada dua bulan pertama, murid di Midgard diwajibkan untuk hadir pada setiap kelas yang ada di Midgard, lalu pada bulan ketiga mereka diperbolehkan memilih minat mereka pada kelas tertentu yang akan menentukan path mereka masing-masing. "Sudah menjadi acara rutin di Midgard mengadakan kompetisi olahraga dalam rangka menyambut murid baru setiap tahunnya. Akan diadakan lomba marathon, teknisinya akan dijelaskan oleh Winter. Untuk hari ini, kalian belum mendapatkan pelajaran apapun, kelas pembelajaran akan dimulai setelah kompetisi ini dilaksanakan." Deswag menutup pidato penyambutannya dan turun dari atas mimbar. Winter merapikan kancing jas nya dan mengisi mimbar yang kosong untuk menjelaskan mengenai kompetisi yang akan digelar di Midgard. Setiap tahunnya, Midgard mengadakan kompetisi olahraga marathon sejauh empat kilometer. Kompetisi ini disebut juga Dood Marathon. Setiap gedung asrama dapat mengirimkan tiga perwakilan untuk mengikuti lomba ini. Dan bagi perwakilannya yang menang, seluruh penghuni asrama di gedung itu akan diberikan fasilitas khusus berupa penggunaan inrichter dan porsi makan yang jauh lebih banyak selama tiga bulan. "Apa ada pertanyaan?" tanya Winter. "Tidak, Pak," sahut seluruh murid. Seluruh murid tampak antusias mendengar pengumuman dari Winter. Teknisi perlombaan itu cukup mudah sehingga mereka yakin bahwa lomba itu dapat dimenangkan oleh mereka. "Hari ini kalian dibebaskan dari pembelajaran, silahkan kembali ke asrama masing-masing untuk mengisi formulir perwakilan Dood Marathon. Pendaftarannya saya tunggu sebelum matahari terbenam. Kalian juga akan dibagikan mengenai jadwal makan dan jadwal keluar asrama yang diperbolehkan," jelas Winter. Setelah mendapat pengumuman yang cukup panjang selama tiga jam lamanya, para murid kembali ke asrama masing-masing. Mereka diarahkan menuju sebuah gedung, yang berada tepat di ditengah-tengah keempat gedung asrama. Gedung itu diperuntukan untuk tempat makan mereka. Mereka mengantri sesuai dengan urutan siapa cepat dia dapat. Tidak ada aturan tertentu yang berlaku di gedung ini. Jadi, mereka harus cepat agar mendapat barisan paling depan. Delwish mengambil sebuah nampan berwarna putih dan meletakkannya pada meja kecil dihadapan para juru masak untuk menaruh makanan pada nampannya yang kosong. Ruang makan itu terlihat penuh diisi oleh 240 orang dengan perutnya yang terasa kosong dan menanti sarapan pagi pertama mereka. Delwish mengedarkan pandangannya mencari tempat duduk untuk dirinya dan Faxel. Tangannya sudah penuh dan cukup berat dengan tiga sandwich dan teh hangat di atas nampannya. "Mau duduk dimana, Del? Tampaknya seluruh kursi sudah terisi penuh," ujar Faxel. Delwish memicingkan matanya dan melihat Abeth yang melambaikan tangannya dari kursi yang tidak jauh dari tempat ia berdiri. "Sepertinya tidak. Ayo, ikuti aku." Faxel berjalan di belakang Delwish dan mengikuti arah Delwish berjalan. "Hai, Del. Silahkan duduk denganku." Abeth menepuk sebelah tempat duduknya, mengisyaratkan Delwish untuk duduk di sana. "Terima kasih." Delwish menaruh nampannya di meja dan duduk di samping Abeth, sedangkan Faxel duduk tepat dihadapannya. "Ah iya, mereka adalah teman-temanku. Kami terletak di kamar di lantai yang sama, di lantai sembilan." Delwish menganggukan kepalanya dan melihat teman-teman Abeth. Ada enam laki-laki dan dua perempuan yang duduk di meja itu. Lima laki-laki yang belum Delwish kenal, melambaikan tangannya pada Delwish dengan mulut penuh dan masih mengunyah makanan dimulutnya. "Hei, perkenalkan diri kalian," titah Abeth. Mereka memulai perkenalan dimulai dari yang duduk di sebelah Abeth dan akan diakhiri perkenalan dari laki-laki yang duduk di sebelah Faxel. "Kenalkan, namaku Richard. Aku adalah teman sekamar Abeth." "Perkenalkan, aku adalah pria tertampan disini, namaku Jimy." "Aku adalah teman sekamar Jimy, kalian bisa memanggilku Zero." "Namaku Axon, aku memiliki suara yang indah seperti emas, dan akan menjadi kebanggaan Golden Entertainment nantinya. "Namaku Raxo." Delwish dan Faxel menatap Raxo bersamaan, laki-laki yang lain memperkenalkan diri dengan cukup panjang, sedangkan Raxo, hanya menyebutkan namanya. "Semoga kau bisa mengingat nama pria tampan ini, Del," ujar Richard. "Akan aku usahakan," jawab Delwish tersenyum. Abeth merupakan pribadi yang supel dan mudah berteman. Ia bahkan bisa memulai pembicaraan yang baik dan membuatnya mempunyai banyak teman. Hal itu sudah terbukti saat Abeth dan teman-temannya yang nampak akrab seperti sudah kenal lama. Delwish sudah menyelesaikan makananya, ia dan Faxel langsung kembali ke Levongard untuk ikut rapat asrama, menentukan ketua asrama serta perwakilan Dood Maratahon. Ruangan rapat terdapat di lobby setiap asrama, ruang itu diperuntukan untuk keperluan rapat membahas apapun yang bersangkutan dengan asrama, tugas dan lainnya. Kursi-kursi yang ada di ruangaan itu ditelatakkan melingkar, hal ini dimaksud agar seluruh murid yang mengikuti rapat saling bertatapan satu sama lain dan tidak ada yang memunggungi murid lainnya. "Apa sudah kumpul semua?" tanya seorang perempuan dengan perawakan cukup tinggi dan wajahnya yang nampak dingin. "Sepertinya sudah semua, Pey," sahut perempuan yang duduk di samping perempuan itu, Rexsa. "Baiklah, aku akan memulai rapat ini. Karena, jika bukan aku yang memulainya, belum tentu akan ada yang mau memulainya. Tolong untuk tidak berbicara dan menyanggah selama membahas ini, kalian bisa menyanggahnya setelah aku selesai menjelaskannya," ujar Japey. Japey, perempuan dengan wajah dingin yang berani memulai rapat, padahal ia belum mengenal seluruh murid perempuan yang ada di ruangan itu. Ia memberanikan diri untuk memulai pembicaraan itu. Penghuni Levongard sepakat jika Japey menjadi ketua asrama itu, karena hanya ia yang berani membuka rapat perdana mereka. "Aku akan menunjuk tiga orang yang akan mengikuti Dood Marathon. Aku sudah membaca informasi mengenai kalian dari rivane yang dipinjamkan oleh Xogawl. Aku harap, kalian mengiyakan penunjukan ini," ujar Japey. Japey mengeluarkan secarik kertas berisi nama-nama orang yang akan menjadi perwakilan Levongard pada kompetisi Dood Marathon. "Delwish, Alice dan Jekurl. Apa ada yang keberatan?" Delwish membulatkan matanya saat ia mendengar namanya disebut oleh Japey. "Kenapa aku?" protes Delwish. "Kamu adalah anak dari Bangcox, ia merupakan pimpinan dari Matildas Intelegencie Familia, kamu tidak memiliki riwayat penyakit apapun. Aku rasa kamu cocok untuk mengikuti Dood Marathon," jelas Japey. "Lalu bagaimana denganku?" tanya Jekurl. "Kudengar kamu adalah anak dari King'sx, seorang pencetus Piper dua tahun yang lalu. Dan aku memilih Alice karena ia anak dari Oner," jawab Japey. Delwish menyentuh kepalanya saat mendengar nama-nama yang baru saja diucapkan oleh Japey. Kepalanya terasa pening dan pikirannya seperti terusik saat mendengar nama-nama itu. "Del, kamu tidak apa-apa?" Faxel merangkul bahu Delwish. "Tidak, aku baik-baik saja, Xel," jawab Delwish cepat. Jekurl berdiri dari kursinya, "Tidak hanya aku saja yang berasal dari benih pria b******n itu, perempuan itu, teman sekamarku adalah hasil benih dari pria itu dan wanita hina yang berani merebut pria itu dari Ibuku!" Seluruh mata tertuju pada perempuan yang dituju oleh Jekurl. Wajahnya tampak lugu dan ia mengerjapkan mata berulang kali saat menyadari dirinya kini menyadari pusat perhatian. "Apa maksudmu?" tanya perempuan itu. "Jangan berperilaku bodoh seperti itu, Nazla. Akui saja kau adalah anak dari King'sx!" "Cukup! Jangan pernah menghina adikku seperti itu!" seorang perempuan yang duduk di samping Nazla ikut berteriak membela Nazla yang terlihat nampak ketakutan. "Jika kalian punya masalah menganai orang tua kalian, bahaslah itu. Tapi, jangan merusak rapat hari ini!" titah Japey. Jekurl langsung terduduk dan menyilangkan kedua tangannya di depan d**a. Ia sangat membenci jika dirinya sering dijadikan iming-iming atas anak dari King'sx. King'sx memang sempat menjadi perbicangan hangat di Skyrothgar karena ada wanita lain bernama Raeki yang tiba-tiba saja mengaku mempunyai anak perempuan bernama Nazla, hasil dari hubungannya yang berawal dari teman sekantor. Fukas yang saat itu berstatus sebagai istri resmi dari King'sx, langsung melayangkan gugatan perceraian kepada Horus. Sudah tujuh tahun lamanya, berita itu membuat heboh, kabar dari mereka sudah tidak terdengar lagi. Sekarang, hanya tersisakan berita bahwa King'sx hidup seorang diri sebagai pengusaha sukses dari Maple, yang berkontribusi dalam berbagai penelitian, dan membiayai penelitian itu, termasuk penelitian pembuatan Piper. Ipang adalah kakak dari Nazla, mereka terpaut usia empat belas bulan. Saat itu, Raeki memang sudah menikah dengan Arxen dan mempunyai Ipang, namun karena sebuah insiden, Nazla lahir setelahnya. Ipang dan Nazla memang berasal dari Ayah berbeda, namun Ipang bersikap jauh lebih dewasa, sikapnya yang seperti laki-laki membuatnya ingin selalu melindungi adik perempuannya. Tak jarang, banyak yang menilai jika Nazla dan Ipang seperti sepasang kekasih karena penampilan Ipang dengan rambut pendeknya. Karena rasa sayangnya terhadap Nazla, Ipang memutuskan menunda masuk Midgard, agar ia bisa tetap menjaga Nazla selama yang ia bisa. "Rapat hari ini aku bubarkan. Terima kasih," ujar Japey. Rapat dibubarkan dan memutuskan Delwish, Alice dan Jekurl sebagai perwakilan dari Levongard. Japey langsung mengantarkan formulir pendaftaran itu pada Winter. "Jekurl!" panggil Delwish. Delwish berlari kecil menghampiri Jekurl yang berjalan lebih dulu darinya. "Ya, ada apa?" tanya Jekurl. "Apa kau mengenal King'sx?" tanya Delwish. "Ya, dia Ayahku yang b******n. Ia malah mempunyai anak dengan wanita lain, padahal ia masih berstatus sebagai suami dari Ibuku," jelas Jekurl. "Apa dia mengenal Ayahku, Bangcox?" "Entahlah, aku sudah tidak memperdulikannya. Mengapa kau bertanya demikian, Del?" "Ah tidak. Hanya saja, ada yang membuatku terasa ganjal dan seperti tidak asing dengan namanya." "Dia b******n. Jadi sudah pasti kamu tidak asing mendengar namanya. Aku duluan ya, Del." Jekurl masuk ke dalam lift dan meninggalkan Delwish begitu saja. Delwish memutuskan menanyakan ini langsung pada Xogawl. Ia berharap, Xogawl bisa memberikan informasi lebih padanya. "Jadi, apa kamu mengenal King'sx? Mengapa namanya terdengar tidak asing di telingaku, Gawl." Delwish saat ini sedang duduk di sebuah taman dengan Xogawl. Rasa penasarannya tidak berakhir begitu saja. "Dengarkan aku. Mungkin, nama orang itu berasal dari masa lalumu. Sudah aku katakan padamu, bahwa kamu terkena amnesia dan beberapa ingatanmu menghilang. Aku yakin, suatu saat nanti, kamu akan mengingat kejadian dan setiap memori itu." Delwish menundukan kepalanya mendengar jawaban yang ia dapat dari Xogawl. "Kau akan mengingatnya jika pikiranmu sudah siap dengan memori itu," jelas Xogawl. "Kenapa Ayah tidak menggunakan sesuatu untuk membuat memoriku kembali?" "Ia hanya ingin, memorimu kembali sesuai dengan jalan seharusnya, bukan dengan paksaan, Del. Sudah ya, aku harap kamu mengerti." "Baiklah." Xogawl dan Delwish hanya terpaut usia tiga tahun dan saat Xogawl menjadi tutor pribadi Delwish, ia meminta Delwish agar menganggapnya sebagai teman sebaya, bukan seseorang yang jauh lebih tua, karena Xogawl bukanlah orang yang gila hormat. Delwish kembali ke kamar asramanya dengan ekspesi wajah yang tidak bisa diprediksi. Perasaannya campur aduk. Ia penasaran dengan King'sx, ia kecewa dengan keputusan Bangcox yang tidak mau mengembalikan ingatannya dan ia juga kesal karena Xogawl tidak memberikan jawaban yang memuaskan atas pertanyaannya. "Del?" panggil Abeth. Abeth berjalan menghampiri Delwish yang sedang berjalan sendirian menuju asrama. Langit sudah mulai gelap karena matahari sudah menyembunyikan dirinya. "Kenapa kamu masih di luar?" tanya Abeth. Tidak ada jawaban dari Delwish. Delwish hanya menundukan kepalanya dan bingung harus menjawab Abeth bagaimana. "Aku rasa kamu sedang tidak baik-baik saja. Ayo, aku antarkan ke Levongard." Abeth langsung merangkulkan tangannya pada bahu Delwish dan menuntunnya menuju asrama.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD