Sport Class
08.00 AM
Sudah sembilan bulan sejak mereka memasuki Midgard. Sejak di bulan ke tiga, para murid sudah memilih minat mereka pada setiap kelas yang akan menjadi dasar untuk mereka masuk ke path. Tinggal tiga bulan tersisa untuk mereka benar-benar belajar dan menekuni bidangnya.
Setelah itu, mereka akan lulus dari Midgard, dan memilih path mereka masing-masing. Mereka tidak diharuskan untuk memilih path sesuai dengan path orang tua mereka berada.
Usia 17 tahun sudah benar-benar di anggap matang di Valhalla, dan mereka sudah bisa hidup mandiri dan terpisah dari orang tua mereka.
Beberapa murid laki-laki terlihat bertelanjang d**a dan tidak mengenakan sehelai benang pun pada tubuh bagian atasnya. Mereka berdiri di tepi kolam renang yang memiliki panjang lima belas meter.
"Tiga!" teriak Winter.
Pada hitungan ketiga, murid laki-laki itu langsung masuk ke dalam kolam dan berenang hingga ke tepi kolam. Mereka berusaha untuk menjadi yang pertama sampai di tepi kolam renang.
Kelas sport, didominasi oleh murid laki-laki sedangkan, kelas art yang diisi mayoritas perempuan. Kebanyakan dari murid tahun ini, memilih menjadi seorang entertainer, sebagai tujuan path nya.
Mereka sudah mulai terbiasa dengan jadwal di Midgard yang sudah mulai padat karena mereka sudah berada di bulan-bulan akhir.
Hari ini, kelas sport mengadakan kelas tambahan sebelum diberikan hari libur saat minggu pertama di bulan ke sepuluh nanti. Mereka harus berusaha dan belajar semaksimal mungkin agar lulus dari Midgard dengan nilai yang memuaskan.
Abeth tiba lebih dulu dengan menyentuh tepi kolam, lalu disusul dengan Jimy dan Raxo. Mereka duduk di tepi kolam untuk mengatur nafas mereka yang terengah-engah karena berenang dengan cukup cepat saat tadi.
"Kenapa sulit sekali mengalahkanmu, huh?" ujar Jimy.
Abeth terkekeh mendengar penuturan Jimy.
"Lain kali, kau pasti bisa mengalahkanku, Jim," sahut Abeth.
Setelah murid lain sampai di tepi kolam, Winter memanggil seluruh murid untuk berkumpul dan mendekatinya. Mereka langsung naik dari kolam dan berjalan menuju Winter.
"Baiklah, pertama, saya akan mengucapkan terima kasih karena kalian sudah memilih kelas sport sebagai landasan kalian memasuki path Maple. Saya harap, kalian benar-benar masuk ke Maple setelah lulus dari Midgard," ujar Winter.
Winter memberikan arahan bagaimana dan apa yang harus mereka lakukan setelah dari Midgard. Tidak lupa, Winter juga berpesan agar mereka tetap berlatih hingga ujian berlangsung.
"Jekurl, Ventrice dan Yuri, kalian adalah perempuan yang mengisi kelas ini. Saya harap kalian tetap berada pada jalur ini, ya," ujar Winter.
Di antara banyak murid lainnya, hanya Jekurl, Ventrice dan Yuri yang memilih kelas sport. Mungkin, tahun ini adalah tahun langka dimana perempuan benar-benar sangat sedikit dibandingkan dengan laki-laki.
"Baik, Pak," sahut Jekurl.
"Kalian bisa kembali ke asrama masing-masing," perintah Winter.
Mereka membubarkan diri dan pergi menuju ruang ganti untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum menuju asrama.
Potion Class
01.30 PM
Agan membereskan kertas-kertas yang terlihat menutupi meja kerjanya. Ia baru saja selesai mengoreksi hasil latihan para muridnya. Sudah tidak ada murid lagi di sana, hanya ia seorang diri beserta setumpukan kertas yang harus ia bawa menuju ruang guru.
Agan sengaja memberikan latihan berupa soal-soal, untuk mengasah kemampuan mengingat mereka. Setiap pertemuan di kelas ini, Agan selalu meminta untuk praktek langsung, tanpa mengetahui apakah ingatan mereka sekuat miliknya atau tidak.
Di kelas ini, para murid hanya diberikan pelatihan sikap yang baik dan cara membuat serum-serum yang biasa digunakan di Valhalla.
Tidak mudah untuk membuat serum-serum itu, karena jika salah takaran walaupun hanya berbeda 0,1 gram, maka serum itu sudah gagal dan tidak bisa digunakan.
Agan mengangkat setumpuk kertas itu dan pergi meninggalkan kelas.
Bruk!
Tumpukan kertas itu kini berhamburan di lantai karena Agan tanpa sengaja menabrak dinding. Pandangannya tidak terhalang oleh setumpuk kertas itu dan sekarang, ia menambah pekerjaan baru karena harus membereskan setumpuk kertas itu dari lantai.
"Pak Agan," panggil Ipang.
Agan menolehkan kepalanya dan melihat Ipang yang sedang berdiri di ambang pintu.
"Mari saya bantu." Ipang langsung duduk dengan bertumpu pada lututnya dan mulai membereskan kertas-kertas itu dari lantai.
"Terima kasih," ujar Agan.
Ipang tersenyum dan memberikan setumpuk kertas itu pada Agan. Dahinya mengerenyit saat menyadari kertas yang di bawa oleh Agan tidak bisa dikatakan sedikit.
"Akan saya bawakan sampai ruangan anda, Pak. Ayo," ujar Ipang.
Jarak dari gedung potion menuju gedung utama, cukup jauh, dan tidak ada kendaraan di Midgard untuk mengantarkan mereka dari gedung yang satu menuju gedung yang lainnya.
Mereka diharuskan berjalan kaki selama di Midgard. Peraturan itu juga berlaku bagi Deswag dan seluruh penghuni Midgard.
"Terima kasih banyak, Pang," ujar Agan.
Ipang meletakkan kertas-kertas itu di atas meja Agan dan tersenyum.
"Sama-sama, Pak. Saya permisi dulu."
"Tunggu," panggil Agan.
Ipang memutar badannya menghadap Agan, "Ada apa, Pak?"
"Ini untukmu, semoga berguna."
Agan memberikan botol kecil berwarna kuning, tanpa tulisan apapun.
"Gunakan itu, untuk adikmu," ujar Agan.
"Maksud anda?"
"Kau akan mengetahuinya."
Ipang memperhatikan botol kaca itu. Hanya terlihat cairan tidak berwarna di dalamnya. Tidak banyak, hanya sekitar lima mililiter di dalamnya.
"Terima kasih."
Midgard Aula
09.00 AM
Seluruh murid Midgard tampak berkumpul di Aula untuk mendengarkan pengumuman yang akan disampaikan oleh Deswag. Mereka berbaris dengan rapi tanpa membutuhkan waktu yang lama. Para pengajar pun sudah siap berjajar dengan rapi di atas panggung. Mereka berdandan dengan formal, seolah hari ini adalah hari penting bagi Midgard.
Deswag baru saja tiba, dengan tuxedo berwana hitam, lengkap dengan dasi berwarna biru dongker. Ia langsung menuju microfon untuk memulai pengumuman ini.
"Baiklah, selamat pagi semuanya," sapa Deswag.
"Pagi, Pak."
"Saya di sini akan mengumumkan mengenai ujian yang biasa di laksanakan pada bulan ke sebelas di Midgard. Kalian akan di uji pada empat pelajaran Midgard ditambah dengan satu pelajaran tambahan, yang akan kalian pelajari di minggu terakhir sebelum ujian."
Seluruh murid tampak berdiskusi satu sama lain saat mendengar ada pelajaran tambahan yang akan diujikan. Karena, selama ini mereka hanya mempelajari empat mata pelajaran, yang masing-masing memang ditujukan sebagai dasar memasuki path masing-masing.
"Harap tenang semuanya," pinta Deswag.
Suasana kembali hening dan para murid kembali memperhatikan mengenai pengumuman Deswag.
"Mata pelajaran tambahan yang akan di uji adalah sejarah Valhalla. Kalian harus mengetahui awal mula Valhalla dan yang lainnya. Kalian akan mempelajari pelajaran ini tepat satu minggu sebelum ujian. Pelajaran ini akan di ajar langsung oleh-" kaliam Deswag menggantung saat menyebutkan siapa yang akan mengajarkan pelajaran itu.
Seorang perempuan dengan rambut panjang terurai tampak memasuki ruangan. Ia mengenakan rok pendek selutut, dengan atasan kemeja berwarna pink. Ia tersenyum menyapa seluruh murid.
"Yechi," sambung Deswag.
Yechi sudah menjadi guru tetap di Midgard sejak dua tahun lalu. Ia hanya muncul pada pelajaran sejarah, tepatnya detik-detik sebelum ujian dilaksanakan.
Ujian di Midgard tidak seperti ujian lainnya yang akan mengerjakan soal atau melakukan sesuatu. Mereka hanya masuk ke dalam ruangan satu persatu, dan diberi serum blue yang memberi efek sebuah soal ujian pada alam bawah sadar mereka.
Mereka akan melakukan sesuatu pada alam bawah sadar mereka, seperti melanjutkan potongan cerita yang belum ditebak alurnya dan harus seperti apa mereka melanjutkannya. Semua pilihan tergantung pada diri mereka masing-masing. Ujian itu juga menentukan dimana letak seharusnya path mereka, sesuai dengan kemampuan mereka.
"Del, bukankah itu nama Ibumu?" tanya Faxel.
Delwish yang sedari tadi sedang melamun dan pikirannya entah kemana, kini ia menatap perempuan yang ada di depan sana. Benar, itu adalah Ibunya.
Yechi terlihat mengedarkan pandangannya untuk mencari Delwish, saat tatapan mereka bertemu, raut wajah Yechi berubah menjadi haru, seakan-akan ia bangga dan lega karena Delwish dalam kondisi baik-baik saja di Midgard.
"Yechi akan mengajarkan mata pelajaran Sejarah Valhalla, saya harap, kalian bisa mengikuti pelajaran itu dengan baik dan mendapatkan nilai yang cukup bagus. Terima kasih." Deswag turun dari mimbar dan menyudahi pengumuman mengenai ujian di Midgard.
Xogawl melangkahkan kakinya mendekati microfon, dan akan memberikan pengumuman tambahan pada murid di Midgard.
"Saya akan memberikan pengumuman tambahan untuk kalian. Kalian sudah belajar dengan giat dan maksimal di Midgard. Oleh karena itu, kami memberikan waktu santai untuk kalian, yaitu kami memutuskan untuk mengizinkan para murid pulang dan berkumpul bersama keluarganya mulai besok hingga dua minggu sebelum ujian dilaksanakan. Fasilitas ini sudah mendapati persetujuan dari Horus dan kalian akan menjadi generasi pertama yang mendapat libur, sebelum ujian di mulai."
Seluruh murid bersorak ramai mendengar pengumuman dari Xogawl. Sebelumnya, memang tidak pernah ada izin untuk keluar dari Midgard sebelum ujian dilaksanakan. Namun, generasi mereka ternyata memberikan apresiasi yang baik dan bahkan tidak ada yang berusaha ingin pergi dari Midgard dengan cara memanjat tembok pembatas Midgard setinggi enam meter.
Mereka cukup baik dalam beretika dan sangat giat dalam setiap pembelajaran. Oleh karena itu, mereka pantas mendapatkan hadiah berupa pulang ke rumah sebelum ujian di mulai.
"Kalian sudah bisa berkemas barang-barang kalian mulai malam ini. Sekian pengumuman dari saya, selamat pagi."